This Great Salvation/The Holiness of God/id

From Gospel Translations

(Difference between revisions)
Jump to:navigation, search
(added english content to be overwritten by translation)
 
(14 intermediate revisions not shown)
Line 1: Line 1:
-
<noinclude>{{InfoBar
+
{{info|Kekudusan Allah}}
-
|author=C.J. Mahaney, Robin Boisvert
+
-
|editor=Greg Somerville
+
-
|partnerurl=http://www.sovereigngraceministries.org
+
-
|partner=Sovereign Grace Ministries
+
-
|other=It is part of the ''In Pursuit of Godliness'' series.
+
-
}}
+
-
= The Holiness of God =
+
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.  
-
</noinclude>
+
-
I was feeling pretty exuberant as I entered the meeting that night. When a good friend appeared, I shouted to him across the room, “Come on over here, in the name of Jesus!” Moments later another young man quietly drew me aside and expressed his concern that I was treating the name of Jesus in a flippant manner. Flushing red with embarrassment, I mumbled, “Thanks for pointing that out.” It was apparent that he was concerned for me personally. I also knew he was right, and that he was showing more regard for God’s honor than I had. Though I certainly didn’t intend any harm, I realized from this incident that I had become overly familiar with the Lord’s name.  
+
-
It hadn’t started out that way. At the time of my conversion three years before, I had been overwhelmed by God’s power to change my life. Meetings pervaded by his presence and remarkable answers to prayer had convinced me of the reality of the Holy Spirit and the love of Jesus Christ. Who else could have so thoroughly overcome the depression and hopelessness that had engulfed me? But as the intensity of those first months gradually subsided into a more consistent faith, something else had crept in. God’s majestic greatness was being eroded by a growing familiarity. It was high time to consider again the holiness of God.  
+
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.  
-
{{LeftInsert|'''Meditate on 1 Chronicles 16:23-36.''' Do you pick up any sense of spiritual drudgery in David’s attitude toward the holiness of God?}}Holiness. The word itself conjures up images of humorless monks in colorless monasteries eating tasteless food and leading joyless lives. Or perhaps long faces, long dresses, and long lists of “don’ts.” But how about ''beauty''? Does the word holiness prompt thoughts of beauty? Probably not. Yet beauty is a quality often associated with God’s holiness. In the Psalms we’re exhorted to worship the Lord “in the beauty of holiness” (Ps 29:2; 96:9 AV). Holiness is said to forever enhance the appearance of God’s temple: “Your statutes stand firm; holiness adorns your house for endless days, O Lord” (Ps 93:5).  
+
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).  
-
In spite of the clear and positive regard the Bible has for holiness, most of us would still equate it with drudgery. At the mere mention of the word our minds move toward what we perceive to be our responsibilities as Christians. But any accurate understanding of holiness must trace its way back to the source of all holiness—God himself. And when we view the holiness of God, we’re not dealing with human responsibility at all but with God’s most attractive and awe-inspiring attribute.  
+
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.  
-
Theologian Stephen Charnock points out that among the various qualities of God, there are some we prefer because of the blessing we immediately gain from them. For instance, we would rather sing of the mercy of the Lord than think about his justice and wrath. We’re more inclined to reflect on a loving Savior than to consider a jealous God. There are some divine attributes, however, that God himself delights in because they so perfectly express his excellence. Holiness is such an attribute.<ref>Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.</ref> Those mysterious heavenly beings, the seraphs and the four living creatures, know that the holiness of God must be underscored. Think of it. They dwell in his presence and have an unobstructed view of reality (while we see through a glass dimly). If any beings were ever “in the know,” they are. And so, over and over, day and night, they never cease crying out, “Holy, holy, holy is the Lord God Almighty” (Is 6:3, Rev 4:8).  
+
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.<ref>Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.</ref> Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).  
-
Holiness differs from God’s other perfections in that it spreads itself throughout all the other attributes. Thus his love is a ''holy'' love, his justice a ''holy'' justice, and so forth. If God’s attributes could be thought of as the various facets of a diamond, then holiness would be the combined brightness of those facets shining out in radiant glory.  
+
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.  
-
===Religious Superstitions ===
+
=== Superstisi Keagamaan  ===
-
{{LeftInsert|'''Meditate on Matthew 5:17-20.''' Do you think this could explain why the New Testament contains about 90 references to the book of Leviticus?}}Scripture has a great deal to say about holiness. The first book of the Bible, Genesis, outlines man’s ruin. Then Exodus, with its central image of the Passover lamb, shows his recovery. Next comes the book of Leviticus. Ah, Leviticus—that book in which so many aspiring students of the Bible have bogged down in their annual attempt to read through the Bible, never to reappear. Yet this book is crucial to our understanding of holiness. Leviticus also sheds important light on the sacrificial atonement of our Lord Jesus Christ.
+
-
{{RightInsert|"It is always necessary to remind ourselves of the grandeur of this absolute moral perfection, which encircles the Divine Person. Without it, true worship would degenerate and man would become presumptuous.<ref>T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).</ref>" - T.C. Hammond}}In the book of Leviticus God shows man how to approach him in worship. The book focuses primarily on the different sacrifices that God required in order for his people to ''get right'' with him, and then the different feasts God ordained so that they could ''stay right'' with him.<ref>Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.</ref> As confusing and irrelevant as this elaborate sacrificial system may appear to us today, God instituted it in order to instruct his people in the profound truth that ''he is holy''.  
+
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus.  
-
The word holiness implies a separation from all that is impure.<ref>Ibid., p. 58.</ref> God is different from us. He is ''other'' than we are. Though this may seem elementary, it needs to be stated because of current notions about “New Age” powers within us and a supposed inherent divinity of mankind.  
+
{{RightInsert|"Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.<ref>T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).</ref>" - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.<ref>Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.</ref> Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''.  
-
In Scripture, the ordinary things that God touches become extraordinary. For example, because it was the place of divine revelation, the area surrounding the burning bush was marked out as holy ground and it became appropriate for Moses to remove his sandals out of reverence for God. Or consider the utensils used in the service of the tabernacle and the temple. They weren’t ordinary either. They were holy. So also were holy assemblies, holy altars, holy anointing oil, and holy days.  
+
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.<ref>Ibid., p. 58.</ref> Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia.  
-
What made them holy? A holy God. God selected common things and made them special by setting them apart for holy purposes, specifically to communicate to his people that ''he'' is holy.  
+
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.  
-
{{LeftInsert|'''For Further Study:'''<br> The Pharisees carried religious superstition to the extreme, as seen in Matthew 23:16-22. Did Jesus commend their
+
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus.  
-
behavior?}}Unfortunately, many people miss this point badly and end up in religious superstition. I once received a latenight call from an elderly lady requesting that I meet her for prayer. She insisted that it couldn’t wait and that we must meet at “the house of God.” I suggested that, considering the hour, a public place might be more appropriate than an empty church building, but she kept insisting that we meet at “the house of God.” This dear lady had fallen into the error of ascribing to a place a certain special quality that belongs to God alone. She did not realize that in this New Testament era, no place is inherently holy—not even the “Holy Land.
+
-
The prophet Jeremiah, aware of a similar attitude among his people, wrote, “Do not trust in deceptive words and say, ‘This is the temple of the Lord, the temple of the Lord, the temple of the Lord!’” (Jer 7:4). Despite their rev-erence for the temple’s physical structure, the Israelites who kept repeating “The temple of the Lord” regrettably had hearts far removed from the Lord of the temple.  
+
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''<br> Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”).  
-
{{RightInsert|The Bible passages below demonstrate three cases where reverence for a religious artifact, ritual, or building damaged the people’s relationship with
+
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci.
-
God. In the space below each reference, briefly summarize the problem.
+
-
* Numbers 21:6-9; 2 Kings 18:1-4
+
 +
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada.
 +
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4
-
* Luke 13:10-16
 
 +
* Lukas 13:10-16
-
* Mark 13:1-2; Matthew 26:59-62; Matthew 12:3-6
 
 +
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6
-
}}I see the same thing happen when unsaved couples who have no interest in following Jesus Christ nevertheless consider it absolutely essential that they be married in a church building. What else can this be but a superstitious feeling that somehow their marriage will be blessed if it takes place in a “holy” building? Putting undue emphasis on buildings or ceremonies or religious artifacts does nothing to show honor and respect for God.
 
-
God, in Scripture, did set apart certain things for special use, but he had a point in doing so—to teach us that ''he'' is holy and must be held in respect. For this reason, then, to use holy things in a profane or common manner was offensive to God.  
+
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah.  
-
{{LeftInsert|'''Meditate on 1 Samuel 6:19-20.''' Does your awe of God match that the men of Beth Shemesh experienced?}}The fifth chapter of Daniel recounts the familiar story of the handwriting on the wall, when God inscribed his divine judgment against the king of Babylon. What prompted his wrath? Belshazzar had profaned what God declared holy, as Daniel recounts: “So they brought in the gold goblets that had been taken from the temple of God in Jerusalem, and the king and his nobles, his wives and his concubines drank from them. As they drank the wine, they praised the gods of gold and silver, of bronze, iron, wood and stone” (Da 5:3-4).  
+
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.  
-
When Daniel was called in to decipher the mysterious writing, he took the opportunity to roundly rebuke the king. His final words summed up Belshazzar’s sin: “You did not honor the God who holds in his hand your life and all your ways” (Da 5:23).  
+
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).  
-
Belshazzar’s failure to honor the things of God amounted to a failure to honor God; his blasphemy cost him his life. Incidents like this are sprinkled throughout the Bible to warn of what can happen when someone decides to play fast and loose with the things of God. Whether immediately or at the end of the age, judgment will be enacted for sins against God’s holiness.
+
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).  
-
===The “Disintegration Factor” ===
+
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.  
-
God is so different from us. Though we’re created in his image, his thoughts and his ways are so far beyond ours that Isaiah likens it to the distance between the heavens and the earth (Isa. 55: 8, 9). Perhaps this is nowhere clearer than in regard to his moral excellence. As the prophet Habakkuk expressed it, “Your eyes are too pure to look on evil; you cannot tolerate wrong” (Hab 1:13).  
+
-
{{RightInsert|"How slow we are to believe in God as God, sovereign, all-seeing and almighty! How little we make of the majesty of our Lord and Saviour Jesus Christ! The need for us is to ‘wait upon the Lord’ in meditations of his majesty, till we find our strength renewed through the writing of these things upon our hearts.<ref>J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.</ref>" - J.I. Packer}}God’s absolute purity goes beyond mere sinlessness. It is a positive expression of his goodness, not just the absence of sin. We’ve all met people whose character shines so much brighter than our own that we feel small and stained by comparison. I have a friend who, before he shaved off his beard, looked like a combination of Abraham Lincoln and Jesus (as depicted in contemporary illustrations, that is). The similarity isn’t merely in physical appearance, either. His kindness and gentle wisdom are truly exceptional. Though it would distress him to know this, being around him reminds me of my own selfishness. If human comparisons can make us feel that low, imagine the discomfort we would feel in the presence of a holy God!
+
=== “Factor Pemecah”  ===
-
{{LeftInsert|'''For Further Study:'''<br> If you want fresh revelation of God’s sovereign power and holiness, try this abbreviated word study of “tremble”—Exodus 15:13-16; Job 9:4-6; Psalms 99:1-3; Isaiah 64:1-4; Jeremiah 23:9; Ezekiel 38:20-23; Joel 3:16; Habakkuk 3:6.}}This is exactly what happened to Peter. Jesus amazed Peter one day by providing a miraculous catch of fish. But instead of rejoicing in the haul, all Peter could see was his own sinfulness. When confronted with the holiness of Jesus, Peter saw himself as he really was, and the reality of it was devastating. “Simon Peter…fell at Jesus’ knees and said, ‘Go away from me, Lord; I am a sinful man!’” (Lk 5:8).  
+
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13).  
-
It didn’t take Peter long to lose sight of the Lord’s holiness, as we see four chapters later on the mount of transfiguration. This sublime incident featured a visit from two of the most celebrated persons of Israel’s past, Moses and Elijah. To top it off, a transfigured Jesus became as bright as lightning. Yet Peter, instead of falling before the Lord as he had done previously, seemed oblivious to what was taking place. {{RightInsert|Read John’s description of Jesus
+
{{RightInsert|"Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.<ref>J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.</ref>" - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!
-
Christ in Revelation 1:10-16. What
+
-
details strike you most vividly?
+
 +
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''<br> Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8).
 +
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas?
-
}}He became chatty and suggested that maybe they could make some temporary shelters for everyone. That’s when God the Father intervened personally. “While [Peter] was speaking, a cloud appeared and enveloped them, and they were afraid as they entered the cloud. A voice came from the cloud, saying, ‘This is my Son, whom I have chosen; listen to him’” (Lk 9:34-35). This seems to have had a sobering effect on Peter and the others, for as Matthew points out, “When the disciples heard this, they fell face down to the ground, terrified” (Mt 17:6).
 
-
{{LeftInsert|"When [God’s] divine judgment fell on Nadab or Uzzah, the response was shock and outrage. We have come to expect God to be merciful. From there the next step is easy: we demand it. When it is not forthcoming, our first response is anger against God, coupled with the protest: “It isn’t fair.” We soon forget that with our first sin we have forfeited all rights to the gift of life. That I am drawing breath this morning is an act of divine mercy. God owes me nothing. I owe him everything.<ref>R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.</ref>" -R.C. Sproul}}The prophet Isaiah had a dramatic experience which marked him forever. He saw a vision of the Lord “seated on a throne, high and exalted, and the train of his robe filled the temple” (Is 6:1). In this vision angelic beings were declaring the overwhelming holiness of God. “At the sound of their voices the doorposts and thresholds shook and the temple was filled with smoke” (v.4). Utterly undone by the awesome display, Isaiah responded in the only appropriate way: “Woe to me! I am ruined! For I am a man of unclean lips, and I live among a people of unclean lips, and my eyes have seen the King, the Lord Almighty” (v.5).  
+
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).  
-
{{RightInsert|'''For Further Study:'''<br>The following passages reveal angelic encounters—Numbers 22:21-31; Judges 6:20-23; Matthew 28:2-4; Luke 2:8-10.}}Some have called Isaiah’s experience the “disintegration factor.R.C. Sproul writes, “For the first time in his life Isaiah really understood who God was. At the same instant, for the first time Isaiah really understood who Isaiah was.”<ref>Ibid., pp. 45–46.</ref> If the word “integrity” means wholeness (an integer is a whole number), disintegration means to be broken into pieces. Most of us are trying so hard to get our lives “together.” And even if we’re falling apart, we’d at least like to appear to be “together.” How distressing, then, to be in the presence of God and fall completely apart as we discover the depth of our own sinfulness.  
+
{{LeftInsert|"Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.<ref>R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.</ref>" -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).  
-
===Approaching a Holy God===
+
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''<br>Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.” Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.  
-
The awareness of one’s sinfulness initially produces an aversion to God. In almost every biblical account of angelic visitations, the individuals fall down in abject fear. {{LeftInsert|"God is the only comfort, he is also the supreme terror: the thing we most need and the thing we most want to hide from...Some people talk as if meeting the gaze of absolute goodness would be fun. They need to think again. They are still only playing with religion.<Ref>C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.</ref>" - C.S. Lewis}}How much more those who see God in his awesome holiness? The Israelites who stood before Mount Sinai as it quaked with the holy presence of God begged Moses to be their intermediary, their go-between. Moses reminds them of this:
+
-
:When you heard the voice out of the darkness, while the mountain was ablaze with fire, all the leading men of your tribes and your elders came to me. And you said, “The Lord our God has shown us his glory and his majesty, and we have heard his voice from the fire. Today we have seen that a man can live even if God speaks with him. But now, why should we die? This great fire will consume us, and we will die if we hear the voice of the Lord our God any longer. For what mortal man has ever heard the voice of the living God speaking out of fire, as we have, and survived? Go near and listen to all that the Lord our God says. Then tell us whatever the Lord our God tells you. We will listen and obey” (Dt 5:23-27).  
+
-
{{RightInsert|In The Chronicles of Narnia, author C.S. Lewis uses the noble lion Aslan to portray Jesus. At one point a character says of Aslan, “It’s not as if he were a tame lion.”<ref>C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.</ref> Can you think of any examples from the Bible or your own interaction with God that show he isn’t “tame”?
+
=== Menghampiri Allah yang Kudus  ===
 +
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|"Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.<Ref>C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.</Ref>" - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:
 +
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).
-
}}I once heard John Wimber refer to people who do not want a relationship with God because they consider it too dangerous. They would prefer a relationship with Christianity or with the church. While this is undoubtedly the case with some, a true Christian has the desire to be holy. He knows that only the pure in heart shall see God (Mt 5:8), and he longs for that purity that will enable him to behold his Lord. For the maturing Christian, an awareness of God’s holiness reassures him of God’s love. He realizes that in spite of God’s holiness and his own sinfulness, the Lord is long-suffering toward him. He deserves judgment but instead receives mercies which are new every morning.  
+
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”<ref>C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.</ref> Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?
-
We may consider our attempts to live the Christian life to be feeble indeed, but if we have a desire for holiness we can take heart. God is the One who put that desire there and he is certain to bring it to pass. But how? How will we fulfill God’s seemingly impossible command, “Be holy, because I am holy” (1Pe 1:16)? How can we approach “the blessed and only Ruler, the King of kings and Lord of lords, who alone is immortal and ''who lives in unapproachable light'', whom no one has seen or can see” (1Ti 6:15-16, emphasis added)?
 
-
{{LeftInsert|'''Meditate on Hebrews 10:19-23.''' How has our High Priest rewritten the law about entering the Most Holy Place?}}We must approach with reverence, as is strikingly displayed through the ministry of the Old Testament priest. In order for the priest to approach God, there were closely prescribed regulations. One could not go into the Holy of Holies anytime he wished. The high priest entered the most holy place just one day each year on the Day of Atonement. He first had to offer a sacrifice for himself, the blood serving as a reminder to him of his sinfulness and God’s holiness. Then he had to dress in special garments. On the hem of his robe were alternating pomegranates and bells which would jingle to give evidence that he was still alive, that he had not been slain by the holiness of God. According to tradition, a length of rope was tied to the priest so that if he died in God’s presence the other priests could pull him out without having to go in themselves.  
+
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.  
-
{{RightInsert|"O sinner, can you give any reason why, since you have risen from your bed this morning, God has not stricken you dead?<ref>Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”</ref>" - Jonathan Edwards}}These elaborate precautions were a clear warning: Don’t trifle with the holiness of God. Aaron’s sons Nadab and Abihu learned that lesson the hard way. When these priests tried a new way of burning incense before the Lord, “fire came out from the presence of the Lord and consumed them, and they died before the Lord” (Lev 10:2). (Needless to say, it was the last time they did anything novel.) In the soberness of that moment, Moses reminded Aaron of the Lord’s words: “Among those who approach me I will show myself holy; in the sight of all the people I will be honored” (Lev 10:4). No passage better reflects the Old Testament’s central revelation, as summed up by Solomon: “The fear of the Lord is the beginning of knowledge” (Pr 1:7).
+
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)?
-
Reverence is essential, but we would never get anywhere near the holy presence of God if it weren’t for our mediator, Christ Jesus himself. A mediator is one who bridges the gap between two opposing parties. Our sin has alienated and angered God. Yet it hasn’t stopped him from loving us. His holiness in no way implies a reluctance on initiative in sending his Son to put away our sins so that in Christ we might come into his presence and enjoy him forever. As Paul explained to the Corinthians, “God was reconciling the world to himself in Christ” (2Co 5:19). Jesus Christ, as our mediator, suffered the penalty for our disobedience in order to make reconciliation possible. But salvation was the collective desire and cooperative effort of the Father, Son, and Holy Spirit.  
+
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.  
-
{{LeftInsert|"The holiness of God teaches us that there is only one way to deal with sin—radically, seriously, painfully, constantly. If you do not so live, you do not live in the presence of the Holy One of Israel.<ref>Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.</ref>" - Sinclair Ferguson}}Let me offer one final insight from the Old Testament priesthood. It was the priest’s responsibility to mediate between God and the people. On each shoulder of the high priest’s garment was an onyx stone engraved with the names of six tribes of the nation of Israel. On the breastpiece of his robe were twelve different gemstones, one for each of the twelve tribes. As he entered the Holy of Holies, the priest symbolically bore the people of God on his shoulders and on his heart. In New Testament times, of course, Jesus is our High Priest. So great is his love for us that he also carries us on his shoulders, bearing our burdens, and as our compassionate friend, keeps us close to his heart.  
+
{{RightInsert|"Oh orang berdosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?<ref>Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.</ref>" - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).  
-
{{RightInsert|'''Meditate on Isaiah 57:15.''' Why would our holy God choose the second dwelling mentioned in this verse?}}Knowing Jesus as our mediator enables us to see God not just as a consuming fire but as a Father to whom we have been reconciled.<ref>J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.</ref> We ought to apply ourselves to know and appreciate this vital ministry of our Lord Jesus. Comprehending the significance of his priesthood will provoke sincere gratitude and a greater awareness of all that God has done for us.  
+
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.  
-
===Ours to Share===
+
{{LeftInsert|"Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.<ref>Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.</ref>" - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.  
-
One of the most astounding promises in all of Scripture is the assurance that we will share in the holiness of God: “Our fathers disciplined us for a little while as they thought best; but God disciplines us for our good, that we may share in his holiness” (Heb 12:10).  
+
-
{{LeftInsert|'''Meditate on 2 Corinthians 7:1.''' What is our motive for pursuing holiness? What is our method?}}When we give serious consideration to our Lord’s holiness it seems unbelievable that we could experience some measure of it. But that’s what this passage from Hebrews clearly states. As surely as God disciplines his children (and the passage leaves no doubt about that), we will enjoy a portion of his holiness.  
+
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.<ref>J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.</ref> Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.  
-
{{RightInsert|"Holiness is not an experience; it
+
=== Kita Beroleh Bagian  ===
-
is the re-integration of our character,
+
-
the rebuilding of a ruin. It is skilled labor,
+
-
a long-term project, demanding everything
+
-
God has given us for life and
+
-
godliness.<ref>Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.</ref>" - Sinclair Ferguson}}That this promise involves discipline should not put us off. Discipline is God’s proven method of perfecting his children, and his kind of discipline requires our active participation. This twelfth chapter of Hebrews calls for vigorous effort on our part. Notice the language of exertion the writer employs: “Throw off everything that hinders and the sin that so easily entangles” (v.1)…“run with perseverance the race marked out for us” (v.1)…“In your struggle against sin” (v.4)… “endure hardship” (v.7)… “strengthen your feeble arms and weak knees” (v.12)… “Make every effort to live in peace with all men and to be holy; ''without holiness no one will see the Lord”'' (v.14, emphasis added). Our Father’s discipline may be temporarily painful, but it outfits us for spending eternity with a holy God.
+
-
{{LeftInsert|All of the spiritual disciplines listed below can help you grow in personal holiness. Check the one discipline in which you feel most deficient.
+
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10).  
-
* Bible study
+
-
* Prayer
+
-
* Confession/Accountability
+
-
* Worship
+
-
* Fasting}}Jacob was a man who certainly went through his share of difficulties, many of them self-inflicted. But at the end of his life he was no longer Jacob. His name was Israel. Along the way there had come a name change and a change in character as well. He walked with a limp, leaned on his staff, and worshiped God as the Holy One (Heb 1:21).  
+
-
Jeremiah said, “It is of the Lord’s mercies that we are not consumed” (La 3:22 KJV). We deserve no better treatment than what Nadab and Abihu received. But far from being consumed, we find ourselves the objects of divine love.  
+
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya.  
-
Perhaps nowhere is this more clearly illustrated than in the circumstances surrounding the conversion of Saul of Tarsus. He was a zealous persecutor of the early church, responsible for the deaths of many men and women who were followers of Jesus Christ. While Saul was on an official journey to Damascus to ferret out and punish Christians, the Lord himself dramatically intervened and put a stop to his activities. In recounting the incident to King Agrippa years later, Paul said:
+
{{RightInsert|"Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.<ref>Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.</ref>" - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.  
-
:“About noon, O king, as I was on the road, I saw a light from heaven, brighter than the sun, blazing around me and my companions. We all fell to the ground, and I heard a voice saying to me in Aramaic, ‘Saul, Saul, why do you persecute me? It is hard for you to kick against the goads.’ Then I asked, ‘Who are you, Lord?’ ‘I am Jesus, whom you are persecuting,’ the Lord replied. ‘Now get up and stand on your feet. I have appeared to you to appoint you as a servant and as a witness of what you have seen of me and what I will show you’” (Ac 26:13-16).  
+
-
{{RightInsert|'''For Further Study:'''<br>Read how Aaron led the Israelites in idolatry while Moses was meeting with God (Ex 32:1-10, 19-28). Contrast that with God’s eventual consecration of Aaron as high priest (Ex 39:27-31, 40:12-16). Did Aaron get what he deserved?}}It’s fascinating that Saul emerged from this encounter alive. God would have been completely justified in destroying him right there on the Damascus road. But instead of receiving justice at the hands of the holy One he was persecuting, Saul experienced the Lord’s great love and acceptance. He even received a commission to serve as ambassador for the One he had so vehemently opposed. What amazing grace!
+
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.
 +
* Pemahaman Alkitab
 +
* Doa
 +
* Pengakuan dosa/akuntabilitas
 +
* Penyembahan
 +
* Puasa
 +
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).  
-
God’s holiness does indeed set him apart from us, as far as the heavens are above the earth. But thank God, it has not prevented him from reaching down and turning Jacobs into Israels and Sauls into Pauls. Our names may never change, but our internal transformation is guaranteed as we encounter the holiness of God.
+
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi.  
 +
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata:
-
==Group Discussion==
+
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).
-
# How would you define blasphemy? Give examples of how Christians as well as non-Christians blaspheme God.
+
-
# According to the author, why did God consecrate so many things as holy in the Old Testament?
+
-
# Of all the disciples, John was most intimate with Jesus. In light of that, what is significant about John’s reaction to his vision of Jesus in Revelation 1:10-17?
+
-
# Has God’s holiness caused you personally to experience the “disintegration factor”? (Page 29)
+
-
# Which of God’s attributes do you find most attractive? Most intimidating?
+
-
# What types of behavior might indicate that a Christian has become overly familiar with God?
+
-
# Do you think it’s fair for God to execute someone?
+
-
# Which spiritual discipline did you pick in Question 4 on this page? How could you develop that discipline?
+
-
# What level of holiness can we expect in this life?
+
-
# Did this chapter’s discussion of holiness make you scared of God or secure in him?
+
 +
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''<br>Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!
-
==Recommended Reading==
+
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah.  
-
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)
+
-
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)
+
== Diskusi Kelompok  ==
-
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)
+
#Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah?
 +
#Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama?
 +
#Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?
 +
#Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi?
 +
#Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi?
 +
#Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan?
 +
#Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang?
 +
#Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini?
 +
#Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini?
 +
#Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya?
 +
<br>
-
==Notes==
+
== Bacaan yang Direkomendasikan  ==
-
<references />
+
 
 +
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)
 +
 
 +
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)
 +
 
 +
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)
 +
 
 +
<br>
 +
 
 +
== Catatan  ==
 +
 
 +
<references />
 +
 
 +
<noinclude>
 +
[[Category:Sovereign Grace Ministries]]
 +
[[Category:C.J. Mahaney]]
 +
[[Category:Robin Boisvert]]
 +
[[Category:The Gospel]]
 +
[[Category:Bahasa Indonesia]]
 +
</noinclude>

Current revision as of 14:10, 22 July 2008

Related resources
More By
Author Index
More About
Topic Index
About this resource

©

Share this
Our Mission
This resource is published by Gospel Translations, an online ministry that exists to make gospel-centered books and articles available for free in every nation and language.

Learn more (English).

By About

Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan.

Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.

Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36. Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?

Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).

Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.

Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.[1] Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).

Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang kudus, keadilan-Nya adalah keadilan yang kudus, dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.

Superstisi Keagamaan

Renungkan Matius 5:17-20. Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?

Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus.

"Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.[2]" - T.C. Hammond

Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat berdamai dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat terus berdamai dengan-Nya.[3] Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa Ia kudus.

Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.[4] Dia adalah sesuatu yang lain dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia.

Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.

Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa Ia kudus.

Untuk Studi Lebih Lanjut:
Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?

Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”).

Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci.

Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah. Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada.
  • Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4


  • Lukas 13:10-16


  • Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6


Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah.

Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa Ia adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.

Renungkan 1 Samuel 6:19-20. Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?

Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).

Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).

Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.

“Factor Pemecah”

Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13).

"Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.[5]" - J.I. Packer

Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!

Untuk studi lebih lanjut:
Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..

Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8).

Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi.
Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas?


Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).

"Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.[6]" -R.C. Sproul

Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).

Untuk studi lebih lanjut:
Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.

Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.” Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.

Menghampiri Allah yang Kudus

Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan.
"Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.[7]" - C.S. Lewis

Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:

Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).
Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”[8] Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?


Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.

Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)?

Renungkan Ibrani 10:19-23. Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?

Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.

"Oh orang berdosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?[9]" - Jonathan Edwards

Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).

Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

"Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.[10]" - Sinclair Ferguson

Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.

Renungkan Yesaya 57:15. Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?

Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.[11] Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.

Kita Beroleh Bagian

Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10).

Renungkan 2 Korintus 7:1. Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?

Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya.

"Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.[12]" - Sinclair Ferguson

Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.

Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.
  • Pemahaman Alkitab
  • Doa
  • Pengakuan dosa/akuntabilitas
  • Penyembahan
  • Puasa

Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).

Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi.

Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata:

“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).
Untuk studi lebih lanjut:
Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?

Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!

Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah.

Diskusi Kelompok

  1. Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah?
  2. Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama?
  3. Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?
  4. Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi?
  5. Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi?
  6. Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan?
  7. Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang?
  8. Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini?
  9. Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini?
  10. Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya?


Bacaan yang Direkomendasikan

Holiness by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)

The Holiness of God by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)

The Knowledge of the Holy by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)


Catatan

  1. Stephen Charnock, The Existence and Attributes of God, Vol. II (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.
  2. T.C. Hammond, In Understanding Be Men (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).
  3. Henrietta Mears, What the Bible Is All About (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.
  4. Ibid., p. 58.
  5. J.I. Packer, Knowing God (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.
  6. R.C. Sproul, The Holiness of God (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.
  7. C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.
  8. C.S. Lewis, The Voyage of the “Dawn Treader” (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.
  9. Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”
  10. Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.
  11. J.C. Ryle, Expository Thoughts on the Gospels: Luke (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.
  12. Sinclair Ferguson, A Heart for God, p. 129.
Navigation
Volunteer Tools
Other Wikis
Toolbox