How Not to Commit Idolatry in Giving Thanks/id

From Gospel Translations

Revision as of 18:44, 11 August 2008 by Bhkauflin (Talk | contribs)
(diff) ← Older revision | Current revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to:navigation, search

Related resources
More By
Author Index
More About
Topic Index
About this resource

©

Share this
Our Mission
This resource is published by Gospel Translations, an online ministry that exists to make gospel-centered books and articles available for free in every nation and language.

Learn more (English).

By About

Jonathan Edwards memiliki kata-kata yang rasanya akan lebih memiliki kesan jikalau ia hidup pada jaman ini. Ini ada hubungannya dengan inti dari rasa syukur.

Rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan atas kebaikannya terhadap kita haruslah dilandaskan atas rasa cinta kepada diri Tuhan; tetapi rasa syukur di dalam natur manusia tidak memiliki dasar tersebut. Rasa bersyukur, yang digerakkan dari Cinta akan Tuhan atas kebaikan yang Ia berikan, haruslah selalu berasal dari rasa cinta akan Keagungan Tuhan dalam diri kita.[1]

Dengan kata lain, rasa syukur yang dapat menyenangkan hati Tuhan bukanlah berdasarkan keuntungan (berkat) yang Tuhan berikan (walaupun ini merupakan salah satu penyebab rasa syukur tersebut). Rasa syukur yang sebenarnya haruslah didasarkan atas pemikiran dari kenikmatan atas keindahahan dan keagungan dari karakter Tuhan. Apabila ini bukan landasan dari rasa syukur kita, maka kita tidak berbeda dengan orang yang tidak memiliki karunia roh kudus dan natur baru dari Kristus. Dengan begitu dapat kita lihat bahwa rasa syukur atas Tuhan yang berdasarkan berkat tidak ada bedanya dengan emosi dalam diri orang yang tidak percaya, dimana mereka tidak memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan.

Kamu pasti tidak akan menyukai rasa syukur yang saya berikan jikakalau saya selalu berterimakasih atas segala pemberianmu kepada ku tampa mempertimbangkan anda sebagai suatu pribadi. Tentunya anda akan merasa terhina walaupun saya mengucapkan terimakasih yang berulang kali atas pemberianmu. Jikalau karakter dan pribadi-mu tidak memberikanku rasa ketertarikan dan senang bila saya berada dekat denganmu, maka kamu akan merasa telah dimanfaatkan oleh ku, dimana anda bagaikan suatu alat yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu yang saya sukai.

Sama halnya dengan Tuhan. Jikalau kita tidak tertarik kepada pribadi dan karakter-Nya, maka rasa syukur yang kita ucapkan sama seperti rasa syukur seorang istri kepada suaminya yang telah memberikan uang yang dapat ia gunakan untuk berselingkuh dengan orang lain. Ini sejalan dengan gambaran yang diungkap kan dalam kitap Yakobus 4:3-4. Yakobus memberikan kritik terhadap motivasi doa yang memamfaatkan Tuhan sebagai suami dari wanita yang tidak setia: Kamu meminta dan tidak menerima, karena kamu telah meminta dengan alasan yang salah, dimana kamu berfikir kamu akan memakainya untuk kesenanganmu. Ya kamu yang berselingkuh, tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah kekejian bagi allah?” Kenapa Tuhan memanggil orang yang berdoa tersebut penyelingkuh? Ini karena, walaupun mereka berdoa, mereka meninggalkan suami mereka ( Tuhan) dan pergi mengejar pasangan selingkuhnya (dunia). Dan yang lebih keji lagi, mereka menyuruh suaminya (dalam doa) untuk membayar perselingkuhan mereka.

Yang lebih heran lagi, kerusakan dinamika rohani ini kadangkala terlihat bila orang bersyukur kepada TUhan yang telah mengirimkan Kristus untuk mati untuk mereka. Mungkin kita sering mendengar orang berkata kita harus bersyukur atas kematian Kristus karena ini menunjukan betapa besarnya harga yang Tuhan taruh kepada kita. Apakah yang melandasi rasa syukur ini?

Jonathan Edwards memanggil rasa syukur ini sebagai suatu tindakan yang munafik. Kenapa? Ini Karena:

Pertama-tama, mereka bergembira, dan mereka ditinggikan oleh Tuhan; Seolah-olah Tuhan terlihat sangat mereka kasihi…….. Mereka sangat senang dengan mendengar apa yang Tuhan dan Kristus lakukan kepada mereka.[2]

Sangat mengagetkan untuk mengetahui bahwa hal yang sangat umum sekarang dalam respon kita kepada salip merupakan ungkapan dari natur rasa cinta akan diri sendiri (egois) tampa ada nilai rohani.

Kita harusnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jonathan Edwards. Bukankah ia hanya mengungkapkan kebenaran dari Alkitab dimana kita harus melakukan segalanya termasuk berterimakasih kepada kemuliaan dari Tuhan ( 1 Korintus 10:31)? Dan Tuhan tidak akan dapat dimuliakan bila dasar dari rasa syukur kita adalah atas pemberian-Nya bukan berdasarkan keagungan sang pemberi. Jikalau rasa syukur ini tidak berakarkan dari keindahan Tuhan tapi pemberian-Nya, maka ini merupakan berhala yang tersembunyi. Semoga Tuhan dapat memberikan kepada kita hati yang puas akan dirinya yang sesungguhnya; Denagn demikian rasa syukur kita terhadap pemberian-Nya merupakan ungkapan rasa puas kita akan keagungan sang pemberi.

Diambil dari John Piper, A Godward Life (hidup yang mengarah kepada Tuhan) (Sisters, Oregon: Multomah, 1997), 213-214

Catatan

  1. Jonathan Edwards, Religious Affections, The works of Jonathan Edwards, Vol. 2, New Haven: Yale University Press, 1959, orig. 1746, p.247.
  2. Jonathan Edwards, Religious Affections, pp. 250-251.
Navigation
Volunteer Tools
Other Wikis
Toolbox