How Dead People Do Battle with Sin/id

From Gospel Translations

(Difference between revisions)
Jump to:navigation, search
 
(21 intermediate revisions not shown)
Line 1: Line 1:
-
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}
+
{{info|Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa}}Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, "Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: "KAMU ... TELAH ... MATI" (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Gal. 2:19).  
-
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==
+
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: "daging"ku mati. "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING" (Gal. 5:24).
-
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, "Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yohanes 12:24). Tiga kata
+
Tapi apa artinya "daging"? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). "Perbuatan daging" adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.  
-
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, "If it dies it bears much fruit" (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: "YOU ... HAVE ... DIED" (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, "I have been crucified with Christ" (Gal. 2:20).
+
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, "Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."  
-
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my "flesh" died. "Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH" (Gal. 5:24).
+
Jadi daging adalah "aku" yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.  
-
But what does "flesh" mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The "works of the flesh" are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.
+
Jadi "daging" adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).  
-
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, "The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God."
+
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.
-
So the flesh is the old "me" who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because "without faith it is impossible to please God" (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.
+
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: "Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus." Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.  
-
So "the flesh" is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).
+
Cara berjuang melawan dosa ini disebut "pertandingan iman" (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut "pekerjaan iman" (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen "dikuduskan oleh iman" (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).  
-
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, "I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me." The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.
+
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: "Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.  
-
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ." Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-
+
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, "oleh Roh" kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).  
-
This way of doing battle with sin is called the "fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the "works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians "become holy by faith" (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).
+
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.  
-
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: "If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live." This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.
+
Lalu bagaimana orang mati "mematikan perbuatan-perbuatan tubuh"? Kita telah menjawab, "Dengan iman!" Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?
-
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is "by the Spirit" that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that "He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ" (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).
+
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.  
-
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.
+
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, "Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!" Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, "Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN" (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, "yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6).  
-
How then do dead people "put to death the (sinful) deeds of the body"? We have answered, "By faith!" But just what does this mean? How do you fight sin with faith?
+
Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. Jika tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.
-
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.
+
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, "jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, "Matikanlah dosa oleh Roh," saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.  
-
So what should I do? Some people would say, "Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!" But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, "The life I live I live BY FAITH" (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, "What counts is FAITH working through love" (Gal. 5:6).
+
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkan kepada saya di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal itu berada. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuat saya bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).  
-
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.
+
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. "Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN" (Roma 4:20 dst.). "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN" (Ibr. 11:1).  
-
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, "If you kill it by the Spirit you win live." By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, "Kill sin by the Spirit," I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.
+
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, "Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI" (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.  
-
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. "Faith comes by hearing and hearing by the Word of God" (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).
+
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. "Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah" (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan "kesenangan" yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, "Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.  
-
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED" (Rom. 4:20f.). "Faith is the assurance of things HOPED for" (Heb. 11:1).
+
Peran Firman Allah adalah untuk memuaskan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hati saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan menyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).  
-
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, "He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST" (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.
+
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.  
-
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. "By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward" (Heb. 11:24-26). Faith is not content with "fleeting pleasures." It is ravenous for joy. And the Word of God says, "In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore" (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.
+
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.  
-
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).
+
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.  
-
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.
+
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar" dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.
-
 
+
-
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.
+
-
 
+
-
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.
+
-
 
+
-
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing "the precious and very great promises" of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.
+

Current revision as of 18:42, 11 August 2008

Related resources
More By
Author Index
More About
Topic Index
About this resource

©

Share this
Our Mission
This resource is published by Gospel Translations, an online ministry that exists to make gospel-centered books and articles available for free in every nation and language.

Learn more (English).

By About

Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, "Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: "KAMU ... TELAH ... MATI" (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Gal. 2:19).

Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: "daging"ku mati. "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING" (Gal. 5:24).

Tapi apa artinya "daging"? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). "Perbuatan daging" adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.

Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, "Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."

Jadi daging adalah "aku" yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.

Jadi "daging" adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).

Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, "Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.

Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: "Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus." Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.

Cara berjuang melawan dosa ini disebut "pertandingan iman" (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut "pekerjaan iman" (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen "dikuduskan oleh iman" (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).

Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: "Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.

Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, "oleh Roh" kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).

Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.

Lalu bagaimana orang mati "mematikan perbuatan-perbuatan tubuh"? Kita telah menjawab, "Dengan iman!" Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?

Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.

Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, "Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!" Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, "Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN" (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, "yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6).

Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. Jika tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.

Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, "jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, "Matikanlah dosa oleh Roh," saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.

Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkan kepada saya di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal itu berada. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuat saya bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).

Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. "Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN" (Roma 4:20 dst.). "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN" (Ibr. 11:1).

Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, "Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI" (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.

Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. "Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah" (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan "kesenangan" yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, "Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.

Peran Firman Allah adalah untuk memuaskan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hati saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan menyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).

Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.

Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.

Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.

Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar" dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.

Navigation
Volunteer Tools
Other Wikis
Toolbox