This Great Salvation/The Holiness of God/id

From Gospel Translations

Revision as of 19:48, 10 June 2008 by Bhkauflin (Talk | contribs)
Jump to:navigation, search
About This Resource
This text is provided in partnership with Sovereign Grace Ministries. It is part of the In Pursuit of Godliness series. We're grateful for their help in making biblical resources accessible to Christians all around the world!

Published: {{{date}}}
Translator: {{{translator}}}
Author(s): C.J. Mahaney, Robin Boisvert
Status: Not Reviewed
Editor: Greg Somerville


Contents

Kekudusan Allah

Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan. 

Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah.

Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36. Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?

Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5).

Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan.

Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.[1] Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8).

Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang kudus, keadilan-Nya adalah keadilan yang kudus, dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan.

Superstisi Keagamaan

Renungkan Matius 5:17-20. Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?

Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus.

"Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.[2]" - T.C. Hammond

Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat berdamai dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat terus berdamai dengan-Nya.[3] Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa Ia kudus.

Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.[4] Dia adalah sesuatu yang lain dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia.

Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus.

Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa Ia kudus.

Untuk Studi Lebih Lanjut:
Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?

Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”).

Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci.

Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah. Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada.
  • Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4


  • Lukas 13:10-16


  • Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6


Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah.

Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa Ia adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah.

Renungkan 1 Samuel 6:19-20. Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?

Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4).

Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23).

Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah.

“Factor Pemecah”

Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13).

"Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.[5]" - J.I. Packer

Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus!

Untuk studi lebih lanjut:
Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..

Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8).

Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi.
Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas?


Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6).

"Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.[6]" -R.C. Sproul

Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5).

Untuk studi lebih lanjut:
Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.

Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.” Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri.

Menghampiri Allah yang Kudus

Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan.
"Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.[7]" - C.S. Lewis

Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini:

Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).
Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”[8] Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?


Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi.

Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)?

Renungkan Ibrani 10:19-23. Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?

Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam.

"Oh orang berdosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?[9]" - Jonathan Edwards

Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7).

Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

"Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.[10]" - Sinclair Ferguson

Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya.

Renungkan Yesaya 57:15. Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?

Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.[11] Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita.

Kita Beroleh Bagian

Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10).

Renungkan 2 Korintus 7:1. Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?

Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya.

"Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.[12]" - Sinclair Ferguson

Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus.

Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.
  • Pemahaman Alkitab
  • Doa
  • Pengakuan dosa/akuntabilitas
  • Penyembahan
  • Puasa

Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21).

Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi.

Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata:

“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).
Untuk studi lebih lanjut:
Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?

Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan!

Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah.

Diskusi Kelompok

  1. Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah?
  2. Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama?
  3. Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17?
  4. Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi?
  5. Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi?
  6. Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan?
  7. Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang?
  8. Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini?
  9. Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini?
  10. Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya?


Bacaan yang Direkomendasikan

Holiness by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.)

The Holiness of God by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985)

The Knowledge of the Holy by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978)


Catatan

  1. Stephen Charnock, The Existence and Attributes of God, Vol. II (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.
  2. T.C. Hammond, In Understanding Be Men (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).
  3. Henrietta Mears, What the Bible Is All About (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.
  4. Ibid., p. 58.
  5. J.I. Packer, Knowing God (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.
  6. R.C. Sproul, The Holiness of God (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.
  7. C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.
  8. C.S. Lewis, The Voyage of the “Dawn Treader” (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.
  9. Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”
  10. Sinclair Ferguson, A Heart for God (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.
  11. J.C. Ryle, Expository Thoughts on the Gospels: Luke (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.
  12. Sinclair Ferguson, A Heart for God, p. 129.
Navigation
Volunteer Tools
Other Wikis
Toolbox