<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Special:Contributions/Kurniawana</link>
		<description>From Gospel Translations</description>
		<language>en</language>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>
		<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2026 07:34:34 GMT</lastBuildDate>
		<item>
			<title>Unity, God, and You/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Unity,_God,_and_You/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kesatuan, Tuhan, dan Anda  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh. 17:20-23).'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus telah berdoa bagi kesatuan gereja-Nya – dan syukurlah, Ia masih berdoa! Salah satu dari doa-doa dan kerinduan-Nya bagi gereja lokal manapun yaitu supaya ia menjadi satu. Tentu, kita semua setuju bahwa kita ingin menjadi satu. Tapi ''mengapa'' Yesus menginginkan kita menjadi satu? Apa ''motif'' Yesus dalam mencari kesatuan gereja lokal? Apakah hanya untuk kepentingan kita? Menurut Yohanes 17, Yesus berdoa bagi kesatuan kita karena kesatuan gereja lokal kita dirancang untuk merefleksikan kesatuan yang dinikmati Tuhan di antara pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal. Ia mau kita, satu tubuh orang-orang percaya yang bermacam-macam, untuk menjadi satu, seperti Dia, Tri-unitas yang beragam, satu. Yesus adalah kepala gereja, dan Ia menghendaki kita untuk memancarkan dan menikmati semacam kesatuan yang menyampaikan hal-hal yang benar dan indah tentang kesatuan Allah yang tiga-dalam-satu. Inilah sebagian besar bagaimana Yesus ingin gereja-gereja lokal kita mewakili Tuhan - dan kita tidak dapat tidak mewakili Dia. Jika kita adalah bagian sebuah gereja, maka kita adalah bagian tubuh Kristus. Gereja kita entah menyampaikan hal-hal yang benar tentang kesatuan Allah, atau kita salah mewakili Tuhan sebagai terpecah-pecah dalam diri-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kita semua berbagian atas entah semangat kesatuan atau perpecahan. Perilaku, kata-kata, prioritas, sikap, respon emosional, bahkan pikiran dan motivasi kita, semuanya berbagian atas bagaimana gereja kita mewakili kesatuan Tuhan. Betapa seriusnya hal ini! Setiap kali saya bereaksi dalam kemarahan atau frustrasi yang berdosa, setiap kali saya berespon dengan sarkasme dalam kata-kata saya atau memendam kepahitan dalam hati saya, setiap kali saya menggosip, setiap kali saya termotivasi oleh keegoisan atau kesombongan, saya bukan hanya mempengaruhi kesaksian saya. Saya mempengaruhi kesatuan dan kesaksian gereja, yang secara langsung mempengaruhi kesaksian Tuhan sendiri. Sama halnya dengan pernikahan. Pernikahan merupakan lukisan relasi Kristus dan gereja-Nya (Ef. 5:22-29). Kasih saya bagi istri saya dirancang untuk mencerminkan kasih Kristus yang memberi kekuatan, memelihara, dan mengorbankan diri bagi gereja-Nya. Jadi apakah saya mau mengakuinya atau tidak, semua perilaku, pikiran, sikap, afeksi, kata-kata, motif, dan reaksi saya terhadap istri saya mengatakan sesuatu tentang relasi Kristus dengan gereja. Saya entah mengatakan sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Dan setiap kali saya berdosa terhadap istri saya dalam salah satu dari hal-hal tersebut, saya telah menyampaikan sesuatu yang salah tentang bagaimana Kristus mengasihi dan memperlakukan pengantin-Nya yang berharga. Ketika kita disatukan sebagai suatu gereja lokal, kita menyampaikan hal-hal benar mengenai relasi antara Bapa, Anak, dan Roh. Ketika kita berpikir, merasakan, bertindak, dan bereaksi dengan cara-cara yang mendukung kesatuan, kita menyampaikan hal-hal yang benar mengenai kesatuan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Dan menurut Yesus, kesatuan gereja-gereja kita juga merupakan alat penginjilan terbaik yang kita miliki. Ia ingin kita &amp;quot;sempurna [atau dewasa] menjadi satu, ''agar dunia tahu'', bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.&amp;quot; Allah telah merancang kesatuan dalam gereja lokal untuk berfungsi seperti magnet yang menarik baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Saat kita bersatu sebagai gereja lokal, relasi kita dengan satu sama lain mulai berbicara banyak kepada dunia yang menyaksikan. Kasih dan pengorbanan dan kerendahan hati dan kesabaran yang menjadi ciri relasi yang besatu mulai memberi tahu dunia bahwa Allah mengirim Yesus, dan bahwa Allah mengasihi kita, Mempelai-Nya. Sebaliknya, ketika kita mulai membiarkan perpecahan di antara kita, kita tidak lagi efektif dalam penginjilian karena kesaksian gereja secara bersama mengatakan kebohongan mengenai Allah. Kesatuan gereja lokal merupakan program penginjilan Allah. Jika kita ingin melihat Roh Kudus memakai gereja-gereja lokal kita menghasilkan petobat-petobat, kita harus bekerja keras dan bersama-sama untuk mendorong dan memelihara kesatuan dalam gereja kita. &amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus menunjukkan kita melalui contoh dalam Yohanes 17 bahwa kesatuan memerlukan doa. Kita tentu tidak dapat berharap menikmati kesatuan jika kita tidak berdoa untuk itu? Jika Yesus harus berdoa untuk itu, tentu kita harus melakukan hal yang sama. Sahabat, kapankah terakhir kali Anda berdoa untuk kesatuan gereja Anda? Saya menantang Anda untuk membuat permohonan tersebut setiap hari. Berdoalah agar gereja Anda bersatu, dan berdoalah agar Allah menyatakan kepada Anda bagaimana Anda dapat lebih baik mendorong kesatuan dalam gereja lokal Anda melalui bagaimana Anda berpikir, berbicara, merasa, dan beraksi. Kita semua dapat bertemu dalam area ini. Semua kita bergumul dengan perasaan pahit terhadap sesama kita kadang-kadang, atau reaksi dengan kata-kata tajam, atau terlalu kritikal, atau keluhan, atau kesulitan mengakui kita salah. Kita semua orang berdosa yang perlu kasih karunia, belas kasihan, dan pengampunan - baik dari Allah dan dari satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Akan tetapi kita tidak sendirian. Kita tidak hanya mewakili diri kita, atau opini dan keinginan kita. Yesus telah membeli kita dengan harga darah-Nya sendiri. Kita milik-Nya. Ia memiliki kita. Ia telah menciptakan kita bagi kemuliaan-Nya, dan Ia telah membeli kita dengan darah-Nya sehingga kita dapat mewakili-Nya dengan baik dalam dunia. Mari kita berketetapan bersama untuk memuliakan Allah dalam gereja lokal kita dengan berkata-kata, merasa, berpikir, dan bertindak dalam cara-cara yang mendorong kesatuan gereja; dan mari kita berdoa supaya ketika kita mengusahakan hal-hal ini, Allah berkenan menjadikan kesatuan kita alat yang efektif bagi pertobatan orang-orang yang belum percaya.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 01 May 2009 12:15:53 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Unity,_God,_and_You/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Unity, God, and You/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Unity,_God,_and_You/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana|date=}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kesatuan, Tuhan, dan Anda  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh. 17:20-23).'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus telah berdoa bagi kesatuan gereja-Nya – dan syukurlah, Ia masih berdoa! Salah satu dari doa-doa dan kerinduan-Nya bagi gereja lokal manapun yaitu supaya ia menjadi satu. Tentu, kita semua setuju bahwa kita ingin menjadi satu. Tapi ''mengapa'' Yesus menginginkan kita menjadi satu? Apa ''motif'' Yesus dalam mencari kesatuan gereja lokal? Apakah hanya untuk kepentingan kita? Menurut Yohanes 17, Yesus berdoa bagi kesatuan kita karena kesatuan gereja lokal kita dirancang untuk merefleksikan kesatuan yang dinikmati Tuhan di antara pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal. Ia mau kita, satu tubuh orang-orang percaya yang bermacam-macam, untuk menjadi satu, seperti Dia, Tri-unitas yang beragam, satu. Yesus adalah kepala gereja, dan Ia menghendaki kita untuk memancarkan dan menikmati semacam kesatuan yang menyampaikan hal-hal yang benar dan indah tentang kesatuan Allah yang tiga-dalam-satu. Inilah sebagian besar bagaimana Yesus ingin gereja-gereja lokal kita mewakili Tuhan - dan kita tidak dapat tidak mewakili Dia. Jika kita adalah bagian sebuah gereja, maka kita adalah bagian tubuh Kristus. Gereja kita entah menyampaikan hal-hal yang benar tentang kesatuan Allah, atau kita salah mewakili Tuhan sebagai terpecah-pecah dalam diri-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kita semua berbagian atas entah semangat kesatuan atau perpecahan. Perilaku, kata-kata, prioritas, sikap, respon emosional, bahkan pikiran dan motivasi kita, semuanya berbagian atas bagaimana gereja kita mewakili kesatuan Tuhan. Betapa seriusnya hal ini! Setiap kali saya bereaksi dalam kemarahan atau frustrasi yang berdosa, setiap kali saya berespon dengan sarkasme dalam kata-kata saya atau memendam kepahitan dalam hati saya, setiap kali saya menggosip, setiap kali saya termotivasi oleh keegoisan atau kesombongan, saya bukan hanya mempengaruhi kesaksian saya. Saya mempengaruhi kesatuan dan kesaksian gereja, yang secara langsung mempengaruhi kesaksian Tuhan sendiri. Sama halnya dengan pernikahan. Pernikahan merupakan lukisan relasi Kristus dan gereja-Nya (Ef. 5:22-29). Kasih saya bagi istri saya dirancang untuk mencerminkan kasih Kristus yang memberi kekuatan, memelihara, dan mengorbankan diri bagi gereja-Nya. Jadi apakah saya mau mengakuinya atau tidak, semua perilaku, pikiran, sikap, afeksi, kata-kata, motif, dan reaksi saya terhadap istri saya mengatakan sesuatu tentang relasi Kristus dengan gereja. Saya entah mengatakan sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Dan setiap kali saya berdosa terhadap istri saya dalam salah satu dari hal-hal tersebut, saya telah menyampaikan sesuatu yang salah tentang bagaimana Kristus mengasihi dan memperlakukan pengantin-Nya yang berharga. Ketika kita disatukan sebagai suatu gereja lokal, kita menyampaikan hal-hal benar mengenai relasi antara Bapa, Anak, dan Roh. Ketika kita berpikir, merasakan, bertindak, dan bereaksi dengan cara-cara yang mendukung kesatuan, kita menyampaikan hal-hal yang benar mengenai kesatuan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Dan menurut Yesus, kesatuan gereja-gereja kita juga merupakan alat penginjilan terbaik yang kita miliki. Ia ingin kita &amp;quot;sempurna [atau dewasa] menjadi satu, ''agar dunia tahu'', bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.&amp;quot; Allah telah merancang kesatuan dalam gereja lokal untuk berfungsi seperti magnet yang menarik baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Saat kita bersatu sebagai gereja lokal, relasi kita dengan satu sama lain mulai berbicara banyak kepada dunia yang menyaksikan. Kasih dan pengorbanan dan kerendahan hati dan kesabaran yang menjadi ciri relasi yang besatu mulai memberi tahu dunia bahwa Allah mengirim Yesus, dan bahwa Allah mengasihi kita, Mempelai-Nya. Sebaliknya, ketika kita mulai membiarkan perpecahan di antara kita, kita tidak lagi efektif dalam penginjilian karena kesaksian gereja secara bersama mengatakan kebohongan mengenai Allah. Kesatuan gereja lokal merupakan program penginjilan Allah. Jika kita ingin melihat Roh Kudus memakai gereja-gereja lokal kita menghasilkan petobat-petobat, kita harus bekerja keras dan bersama-sama untuk mendorong dan memelihara kesatuan dalam gereja kita. &amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus menunjukkan kita melalui contoh dalam Yohanes 17 bahwa kesatuan memerlukan doa. Kita tentu tidak dapat berharap menikmati kesatuan jika kita tidak berdoa untuk itu? Jika Yesus harus berdoa untuk itu, tentu kita harus melakukan hal yang sama. Sahabat, kapankah terakhir kali Anda berdoa untuk kesatuan gereja Anda? Saya menantang Anda untuk membuat permohonan tersebut setiap hari.&amp;amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Jesus shows us by example in John 17 that unity takes prayer. We simply can’t expect to enjoy unity if we aren’t praying for it! If Jesus had to pray for it, then surely we must do the same. Friend, when was the last time you prayed for the unity of your church? I’d challenge you to make that a daily prayer request. Pray that your church might be unified, and pray that God would reveal to you how you can better promote unity among your local church by how you think, speak, feel, and react. We can all grow in this area. All of us struggle with feeling bitter towards others sometimes, or reacting with sharp words, or being overly critical, or complaining, or being too prideful to admit we’re wrong. We’re all sinners in need of grace, mercy, and forgiveness – both from God and from each other. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; But we are not our own. We do not just represent ourselves, or our own opinions and desires. Jesus has purchased us at the cost of His own blood. We are His. He owns us. He has created us for His glory, and He has bought us with His blood so that we might represent Him well in the world. Let’s resolve together to glorify God in our local churches by speaking, feeling, thinking, and acting in ways that promote the unity of the church; and let’s pray that as we do, God would be pleased to make our unity an effective tool for the conversion of unbelievers.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:09:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Unity,_God,_and_You/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Unity, God, and You/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Unity,_God,_and_You/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana|date=}} &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kesatuan, Tuhan, dan Anda  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh. 17:20-23).'' &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus telah berdoa bagi kesatuan gereja-Nya – dan syukurlah, Ia masih berdoa! Salah satu dari doa-doa dan kerinduan-Nya bagi gereja lokal manapun yaitu supaya ia menjadi satu. Tentu, kita semua setuju bahwa kita ingin menjadi satu. Tapi ''mengapa'' Yesus menginginkan kita menjadi satu? Apa ''motif'' Yesus dalam mencari kesatuan gereja lokal? Apakah hanya untuk kepentingan kita? Menurut Johanes 17, Yesus berdoa bagi kesatuan kita karena kesatuan gereja lokal kita dirancang untuk merefleksikan kesatuan yang dinikmati Tuhan di antara pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal. Ia mau kita, satu tubuh orang-orang percaya yang bermacam-macam, untuk menjadi satu, seperti Dia, Tri-unitas yang beragam, satu. Yesus adalah kepala gereja, dan Ia menghendaki kita untuk memancarkan dan menikmati semacam kesatuan yang menyampaikan hal-hal yang benar dan indah tentang kesatuan Allah yang kita tiga-dalam-satu. Inilah sebagian besar bagaimana Yesus ingin gereja-gereja lokal kita mewakili Tuhan - dan kita tidak dapat tidak mewakili Dia. Jika kita adalah bagian sebuah gereja, maka kita adalah bagian tubuh Kristus. Gereja kita entah menyampaikan hal-hal yang benar tentang kesatuan Allah, atau kita salah mewakili Tuhan sebagai terpecah-pecah dalam diri-Nya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua berbagian atas entah semangat kesatuan atau perpecahan. Perilaku, kata-kata, prioritas, sikap, respon emosional, bahkan pikiran dan motivasi kita, semuanya berbagian atas bagaimana gereja kita mewakili kesatuan Tuhan. Betapa seriusnya hal ini! Setiap kali saya bereaksi dalam kemarahan atau frustrasi yang berdosa, setiap kali saya berespon dengan sarkasme dalam kata-kata saya atau memendam kepahitan dalam hati saya, setiap kali saya menggosip, setiap kali saya termotivasi oleh keegoisan atau kesombongan, saya bukan hanya mempengaruhi kesaksian saya. Saya mempengaruhi kesatuan dan kesaksian gereja, yang secara langsung mempengaruhi kesaksian Tuhan sendiri. Sama halnya dengan pernikahan. Pernikahan merupakan lukisan relasi Kristus dan gereja-Nya (Ef. 5:22-29). Kasih saya bagi istri saya dirancang untuk mencerminkan kasih Kristus yang memberi kekuatan, memelihara, dan mengorbankan diri bagi gereja-Nya. Jadi apakah saya mau mengakuinya atau tidak, semua perilaku, pikiran, sikap, afeksi, kata-kata, motif, dan reaksi saya terhadap istri saya mengatakan sesuatu tentang relasi Kristus dengan gereja. Saya entah mengatakan sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Dan setiap kali saya berdosa terhadap istri saya dalam salah satu dari hal-hal tersebut, saya telah menyampaikan sesuatu yang salah tentang bagaimana Kristus mengasihi dan memperlakukan pengantin-Nya yang berharga. Ketika kita disatukan sebagai suatu gereja lokal, kita menyampaikan hal-hal benar mengenai relasi antara Bapa, Anak, dan Roh. Ketika kita berpikir, merasakan, bertindak, dan bereaksi dengan cara-cara yang mendukung kesatuan, kita menyampaikan hal-hal yang benar mengenai kesatuan Allah. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan menurut Yesus, kesatuan gereja-gereja kita juga merupakan alat penginjilan terbaik yang kita miliki. Ia ingin kita &amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And according to Jesus, the unity of our churches is also the best evangelistic tool we have. He wants us to be &amp;quot;perfected [or mature] in unity, ''so that the world may know'' that You sent Me, and loved them, even as you have loved me.&amp;quot; God has designed unity in the local church to function like a magnet to attract both believers and unbelievers. When we are united as a local church, our relationships with one another begin to speak volumes to a watching world. The love and selflessness and humility and patience that characterize united relationships begin to tell the world that God sent Jesus, and that God loves us, His Bride. Conversely, when we allow petty divisions to prevail among us, we become evangelistically ineffective because the corporate testimony of our church is saying false things about God. The unity of the local church is God’s evangelism program. If we want to see the Holy Spirit use our local churches to produce converts, then we must all work hard and work together to promote and preserve unity in our church. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus shows us by example in John 17 that unity takes prayer. We simply can’t expect to enjoy unity if we aren’t praying for it! If Jesus had to pray for it, then surely we must do the same. Friend, when was the last time you prayed for the unity of your church? I’d challenge you to make that a daily prayer request. Pray that your church might be unified, and pray that God would reveal to you how you can better promote unity among your local church by how you think, speak, feel, and react. We can all grow in this area. All of us struggle with feeling bitter towards others sometimes, or reacting with sharp words, or being overly critical, or complaining, or being too prideful to admit we’re wrong. We’re all sinners in need of grace, mercy, and forgiveness – both from God and from each other. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But we are not our own. We do not just represent ourselves, or our own opinions and desires. Jesus has purchased us at the cost of His own blood. We are His. He owns us. He has created us for His glory, and He has bought us with His blood so that we might represent Him well in the world. Let’s resolve together to glorify God in our local churches by speaking, feeling, thinking, and acting in ways that promote the unity of the church; and let’s pray that as we do, God would be pleased to make our unity an effective tool for the conversion of unbelievers.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 11:46:42 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Unity,_God,_and_You/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Unity, God, and You/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Unity,_God,_and_You/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: {{MasterHeader |author= Paul Alexander |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Theology |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translat...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Paul Alexander |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Theology |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kesatuan, Tuhan, dan Anda ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh. 17:20-23).'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus telah berdoa bagi kesatuan gereja-Nya – dan syukurlah, Ia masih berdoa! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus has prayed for the unity of His church – and thankfully, He is still praying! One of His earnest prayers and desires for any local church is that it be unified. Of course, we would all agree that we want to be one. But ''why'' does Jesus want us to be united? What is Jesus’ ''motive'' in seeking the unity of the local church? Is it just for our benefit? According to John 17, Jesus prays for our unity because the unity of our local church is designed to reflect the unity that God enjoys among the different persons in the Trinity. He wants us, a diverse body of believers, to be one, even as He, a diverse Tri-unity, is one. Jesus is the head of the church, and He intends us to display and enjoy a kind of unity that says true and beautiful things about the unity of our three-in-one God. This is in large part how Jesus wants our local churches to represent God – and we can’t avoid representing Him. If we’re part of a church, then we are part of Christ’s body. Our church is either saying true things about the unity of the Godhead, or we are misrepresenting God as somehow divided within Himself.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We all contribute to either a spirit of unity or of division. Our behavior, our words, our priorities, our attitudes, our emotional responses, even our thoughts and motives, all contribute to our church’s representation of God’s unity. What a convicting thought! Every time I react in anger or sinful frustration, every time I respond with sarcasm in my words or harbor bitterness in my heart, every time I gossip, every time I am motivated by selfishness or pride, I’m not just affecting my own testimony. I’m affecting the unity and testimony of the church, which directly affects the testimony of God Himself. The same is true in marriage. Marriage is a picture of the relationship between Christ and His church (Eph 5:22-29). My love for my wife is designed to reflect the nourishing, cherishing, self-sacrificing love of Christ for His church. So whether I want to admit it or not, all of my behavior, thoughts, attitudes, affections, words, motives, and reactions towards my wife are saying something about Christ’s relationship with the church. I’m either saying something true, or something false. And each time I sin against my wife in any one of those ways, I’ve said something false about how Christ loves and treats His precious Bride. When we are united as a local church, we are saying true things about the relationships among the Father, Son, and Spirit. When we think, feel, act, and react in ways that promote oneness, we say true things about the oneness of God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And according to Jesus, the unity of our churches is also the best evangelistic tool we have. He wants us to be &amp;quot;perfected [or mature] in unity, ''so that the world may know'' that You sent Me, and loved them, even as you have loved me.&amp;quot; God has designed unity in the local church to function like a magnet to attract both believers and unbelievers. When we are united as a local church, our relationships with one another begin to speak volumes to a watching world. The love and selflessness and humility and patience that characterize united relationships begin to tell the world that God sent Jesus, and that God loves us, His Bride. Conversely, when we allow petty divisions to prevail among us, we become evangelistically ineffective because the corporate testimony of our church is saying false things about God. The unity of the local church is God’s evangelism program. If we want to see the Holy Spirit use our local churches to produce converts, then we must all work hard and work together to promote and preserve unity in our church.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus shows us by example in John 17 that unity takes prayer. We simply can’t expect to enjoy unity if we aren’t praying for it! If Jesus had to pray for it, then surely we must do the same. Friend, when was the last time you prayed for the unity of your church? I’d challenge you to make that a daily prayer request. Pray that your church might be unified, and pray that God would reveal to you how you can better promote unity among your local church by how you think, speak, feel, and react. We can all grow in this area. All of us struggle with feeling bitter towards others sometimes, or reacting with sharp words, or being overly critical, or complaining, or being too prideful to admit we’re wrong. We’re all sinners in need of grace, mercy, and forgiveness – both from God and from each other.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But we are not our own. We do not just represent ourselves, or our own opinions and desires. Jesus has purchased us at the cost of His own blood. We are His. He owns us. He has created us for His glory, and He has bought us with His blood so that we might represent Him well in the world. Let’s resolve together to glorify God in our local churches by speaking, feeling, thinking, and acting in ways that promote the unity of the church; and let’s pray that as we do, God would be pleased to make our unity an effective tool for the conversion of unbelievers.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 14:41:02 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Unity,_God,_and_You/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Gospel Implications/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Gospel_Implications/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mike Bullmore |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Leadership |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Implikasi Injil ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menggembalakan Jemaat Anda untuk Berpikir dan Hidup Sesuai dengan Kebenaran Injil'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah gereja lokal sehat jika: (1) pendeta-pengajarnya mampu membawa Injil dengan akurat, efektif, dan luas untuk berperan dalam hidup jemaat mereka; dan (2) jemaatnya memiliki pengertian pribadi dan penghargaan yang mendalam akan Injil, sehingga mampu menghidupi Injil setiap hari. Saya menyebutnya ''sentralitas fungsional'' Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk mencapai tujuan ini yaitu ''menjelaskan'' koneksi antara Injil dan implikasi doktrinal dan behavioralnya. Kita dapat menyebut koneksi ini &amp;quot;kebenaran-kebenaran Injil&amp;quot; dan &amp;quot;sikap Injil&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan tiga lingkaran yang konsentris. Di pusatnya adalah Injil itu sendiri, mungkin diwakili dengan paling baik oleh kalimat dalam 1 Kor. 15:3 - &amp;quot;Kristus telah mati karena dosa-dosa kita.&amp;quot; Frase yang sederhana ini berbicara mengenai realita dosa kita, keharusan hukuman ilahi, dan penyediaan yang ajaib akan keselamatan dari murka ilahi oleh Tuhan dalam Kristus. Paulus berbicara mengenai &amp;quot;kabar baik&amp;quot; ini sebagai hal yang &amp;quot;paling penting&amp;quot;, dan kita tahu dengan baik prioritas yang ia berikan bagi pesan ini dalam khotbah dan tulisannya (bdk. 1 Kor. 2:1-4). Demikianlah sentralitas Injil. Tapi supaya Injil memiliki sentralitas yang ''fungsional'', Injil harus ''terkoneksi'' dengan area-area di mana orang menghidupi hidup mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membawa kita kepada lingkaran yang kedua, kebenaran-kebenaran Injil. Ini merupakan implikasi-implikasi doktrinal yang spesifik dan konkrit akan Injil; atau, sebagaimana Paulus menuliskannya, &amp;quot;ajaran sehat yang berdasarkan (yaitu, yang mengambil bentuknya dari) Injil dari Allah yang mulia&amp;quot; (1 Tim. 1:1-11). Kebenaran-kebenaran Injil ini membawa Injil khususnya pada pikiran; mereka berguna dalam memperbarui pikiran sehingga pikiran kita semakin dibentuk oleh kebenaran Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kita mungkin sudah mengira, kitab Roma khususnya kental dengan kebenaran-kebenaran Injil ini. Ijinkan saya memberi tiga contoh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Di Roma 5:1 Paulus menyatakan, &amp;quot;''Sebab itu,'' kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.&amp;quot; Perhatikan logika ayat ini. Ada yang mengikuti kebenaran esensial Injil. Damai sejahtera yang kita miliki bukanlah injil itu sendiri, tetapi implikasi berkuasa dari Injil—suatu &amp;quot;kebenaran Injil&amp;quot;. Dan mengerti kebenaran Injil ini adalah bagian menyelaraskan pikiran seseorang dengan Injil yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Di Roma 8:1 kita membaca, &amp;quot;''Demikianlah'' sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.&amp;quot; Lagi, perhatikan argumennya. Paulus tidak sedang menyatakan Injil itu sendiri tapi sesuatu yang benar &amp;quot;sekarang&amp;quot; ''karena'' Injli. Tapi implikasinya begitu mencengangkan! Ketika dimengerti dengan penuh oleh seorang percaya kebenaran ini akan merevolusi dunia pikiran mereka dan Injil akan ''berfungsi'' dengan kuasa bagi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Roma 8:32 merupakan favorit. &amp;quot;Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita ''bersama-sama dengan Dia''?&amp;quot; Perhatikan kata-kata &amp;quot;bersama-sama dengan Dia.&amp;quot; Kata-kata ini berbicara mengenai sesuatu yang tumbuh dari Injil. Ketika orang melihat koneksi antara kebenaran Injil itu sendiri (&amp;quot;Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua&amp;quot;) dan kebenaran Injil ini mengenai penyediaan Tuhan yang penuh kasih karunia atas segala sesuatu yang kita perlukan bagi pengudusan kita (bdk. ayat 28-29), Injil akan ''berfungsi'' bagi penguatan kepercayaan mereka sehari-hari akan penyediaan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bukan saja Injil membentuk pikiran kita, tetapi ada implikasi behavioral yang besar juga. Injil bukan saja untuk memperbarui pikiran kita, tapi untuk mengajar ''perilaku'' kita juga. Alkitab menyediakan banyak contoh hidup yang diajar Injil ini. Dalam Gal. 2:14 Paulus menegur Petrus karena perbuatan yang &amp;quot;tidak sesuai dengan kebenaran Injil&amp;quot; dan dalam Flp. 1:27 ia mendesak orang-orang percaya untuk &amp;quot;''hidup'' berpadanan dengan Injil Kristus.&amp;quot; Dengan kata lain, salah satu cara Injil berfungsi yaitu dengan mengajar perilaku yang spesifik. Oleh sebab itu, kita harus membaca Alkitab kita dengan mata untuk mendeteksi koneksi-koneksi ini. Jadi, sebagai contoh, ketika Paulus meminta orang-orang Korintus untuk &amp;quot;menjauhkan diri dari percabulan&amp;quot; ia secara eksplisit mendasarkan permintaannya pada Injil—&amp;quot;kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: ''Karena itu'' muliakanlah Allah dengan tubuhmu!&amp;quot; (1 Kor. 6:18-20). Ketika ia mendorong pengampunan ia secara eksplisit merujuk kepada Injil sebagai baik motivasi maupun model (Ef. 4:32). Ketika ia memberi tahu suami untuk mengasihi istri ia melakukannya dengan menghubungkan perintahnya secara langsung kepada Injil (Ef. 5:25). Ketika ia memanggil orang-orang Korintus untuk terus bermurah hati ia secara eksplisit mengingatkan mereka kepada kemurahan Tuhan dalam Injil (2 Kor. 8:7,9; 9:12-13, 15). Banyak lagi contoh dapat diberikan. Pada akhirnya, semua perilaku Kristen harus mengalir dari Injil; sementara bekerja keras untuk menghindari pengulangan, koneksi harus dibuat kepada setiap area kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tantangan terbesar dan tugas yang paling penting dari pendeta-pengajar adalah dengan jelas ''menunjukkan'' koneksi-koneksi ini sehingga jemaat dapat secara spesifik dan cerdik membawa Injil berefek dalam baik pikiran maupun perilaku mereka. Dengan demikian Injil menjadi ''secara fungsional'' sentral bagi pribadi Kristen dan bagi gereja lokal.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 13:50:41 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Gospel_Implications/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Gospel Implications/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Gospel_Implications/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mike Bullmore |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Leadership |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Implikasi Injil ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menggembalakan Jemaat Anda untuk Berpikir dan Hidup Sesuai dengan Kebenaran Injil'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah gereja lokal sehat jika: (1) pendeta-pengajarnya mampu membawa Injil dengan akurat, efektif, dan luas untuk berperan dalam hidup jemaat mereka; dan (2) jemaatnya memiliki pengertian pribadi dan penghargaan yang mendalam akan Injil, sehingga mampu menghidupi Injil setiap hari. Saya menyebutnya ''sentralitas fungsional'' Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk mencapai tujuan ini yaitu ''menjelaskan'' koneksi antara Injil dan implikasi doktrinal dan behavioralnya. Kita dapat menyebut koneksi ini &amp;quot;kebenaran-kebenaran Injil&amp;quot; dan &amp;quot;sikap Injil&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan tiga lingkaran yang konsentris. Di pusatnya adalah Injil itu sendiri, mungkin diwakili dengan paling baik oleh kalimat dalam 1 Kor. 15:3 - &amp;quot;Kristus telah mati karena dosa-dosa kita.&amp;quot; Frase yang sederhana ini berbicara mengenai realita dosa kita, keharusan hukuman ilahi, dan penyediaan yang ajaib akan keselamatan dari murka ilahi oleh Tuhan dalam Kristus. Paulus berbicara mengenai &amp;quot;kabar baik&amp;quot; ini sebagai hal yang &amp;quot;paling penting&amp;quot;, dan kita tahu dengan baik prioritas yang ia berikan bagi pesan ini dalam khotbah dan tulisannya (bdk. 1 Kor. 2:1-4). Demikianlah sentralitas Injil. Tapi supaya Injil memiliki sentralitas yang ''fungsional'', Injil harus ''terkoneksi'' dengan area-area di mana orang menghidupi hidup mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membawa kita kepada lingkaran yang kedua, kebenaran-kebenaran Injil. Ini merupakan implikasi-implikasi doktrinal yang spesifik dan konkrit akan Injil; atau, sebagaimana Paulus menuliskannya, &amp;quot;ajaran sehat yang berdasarkan (yaitu, yang mengambil bentuknya dari) Injil dari Allah yang mulia&amp;quot; (1 Tim. 1:1-11). Kebenaran-kebenaran Injil ini membawa Injil khususnya pada pikiran; mereka berguna dalam memperbarui pikiran sehingga pikiran kita semakin dibentuk oleh kebenaran Injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kita mungkin sudah mengira, kitab Roma khususnya kental dengan kebenaran-kebenaran Injil ini. Ijinkan saya memberi tiga contoh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Di Roma 5:1 Paulus menyatakan, &amp;quot;''Sebab itu,'' kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.&amp;quot; Perhatikan logika ayat ini. Ada yang mengikuti kebenaran esensial Injil. Damai sejahtera yang kita miliki bukanlah injil itu sendiri, tetapi implikasi berkuasa dari Injil—suatu &amp;quot;kebenaran Injil&amp;quot;. Dan mengerti kebenaran Injil ini adalah bagian menyelaraskan pikiran seseorang dengan Injil yang mulia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Di Roma 8:1 kita membaca, &amp;quot;''Demikianlah'' sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.&amp;quot; Lagi, perhatikan argumennya. Paulus tidak sedang menyatakan Injil itu sendiri tapi sesuatu yang benar &amp;quot;sekarang&amp;quot; ''karena'' Injli. Tapi implikasinya begitu mencengangkan! Ketika dimengerti dengan penuh oleh seorang percaya kebenaran ini akan merevolusi dunia pikiran mereka dan Injil akan ''berfungsi'' dengan kuasa bagi mereka.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Roma 8:32 merupakan favorit. &amp;quot;Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita ''bersama-sama dengan Dia''?&amp;quot; Perhatikan kata-kata &amp;quot;bersama-sama dengan Dia.&amp;quot; Kata-kata ini berbicara mengenai sesuatu yang tumbuh dari Injil. Ketika orang melihat koneksi antara kebenaran Injil itu sendiri (&amp;quot;Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua&amp;quot;) dan kebenaran Injil ini mengenai penyediaan Tuhan yang penuh kasih karunia atas segala sesuatu yang kita perlukan bagi pengudusan kita (bdk. ayat 28-29), Injil akan ''berfungsi'' bagi penguatan kepercayaan mereka sehari-hari akan penyediaan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bukan saja Injil membentuk pikiran kita, tetapi ada implikasi behavioral yang besar juga. Injil bukan saja untuk memperbarui pikiran kita, tapi untuk mengajar ''perilaku'' kita juga. Alkitab menyediakan banyak contoh hidup yang diajar Injil ini. Dalam Gal. 2:14 Paulus menegur Petrus karena perbuatan yang &amp;quot;tidak sesuai dengan kebenaran Injil&amp;quot; dan dalam Flp. 1:27 ia mendesak orang-orang percaya untuk &amp;quot;''hidup'' berpadanan dengan Injil Kristus.&amp;quot; Dengan kata lain, salah satu cara Injil berfungsi yaitu dengan mengajar perilaku yang spesifik. Oleh sebab itu, kita harus membaca Alkitab kita dengan mata untuk mendeteksi koneksi-koneksi ini. Jadi, sebagai contoh, ketika Paulus meminta orang-orang Korintus untuk &amp;quot;menjauhkan diri dari percabulan&amp;quot; ia secara eksplisit mendasarkan permintaannya pada Injil—&amp;quot;kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: ''Karena itu'' muliakanlah Allah dengan tubuhmu!&amp;quot; (1 Kor. 6:18-20). Ketika ia mendorong pengampunan ia secara eksplisit merujuk kepada Injil sebagai baik motivasi maupun model (Ef. 4:32). Ketika ia memberi tahu suami untuk mengasihi istri ia melakukannya dengan menghubungkan perintahnya secara langsung kepada Injil (Ef. 5:25). Ketika ia memanggil orang-orang Korintus untuk terus bermurah hati ia secara eksplisit mengingatkan mereka kepada kemurahan Tuhan dalam Injil (2 Kor. 8:7,9; 9:12-13, 15). Banyak lagi contoh dapat diberikan. Pada akhirnya, semua perilaku Kristen harus mengalir dari Injil; sementara bekerja keras untuk menghindari pengulangan, koneksi harus dibuat kepada setiap area kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tantangan terbesar dan tugas yang paling penting dari pendeta-pengajar adalah dengan jelas ''menunjukkan''koneksi-koneksi ini sehingga jemaat dapat secara spesifik dan cerdik membawa Injil berefek dalam baik pikiran maupun perilaku mereka. Dengan demikian Injil menjadi ''secara fungsional'' sentral bagi pribadi Kristen dan bagi gereja lokal.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 10:51:26 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Gospel_Implications/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Gospel Implications/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Gospel_Implications/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mike Bullmore |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Leadership |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Implikasi Injil ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menggembalakan Jemaat Anda untuk Berpikir dan Hidup Sesuai dengan Kebenaran Injil'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah gereja lokal sehat jika: (1) pendeta-pengajarnya mampu membawa Injil dengan akurat, efektif, dan luas untuk berperan dalam hidup jemaat mereka; dan (2) jemaatnya memiliki pengertian pribadi dan penghargaan yang mendalam akan Injil, sehingga mampu menghidupi Injil setiap hari. Saya menyebutnya ''sentralitas fungsional'' Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk mencapai tujuan ini yaitu ''menjelaskan'' koneksi antara Injil dan implikasi doktrinal dan behavioralnya. Kita dapat menyebut koneksi ini &amp;quot;kebenaran-kebenaran Injil&amp;quot; dan &amp;quot;sikap Injil&amp;quot;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan tiga lingkaran yang konsentris. Di pusatnya adalah Injil itu sendiri, mungkin diwakili dengan paling baik oleh kalimat dalam 1 Kor. 15:3 - &amp;quot;Kristus telah mati karena dosa-dosa kita.&amp;quot; Frase yang sederhana ini berbicara mengenai realita dosa kita, keharusan hukuman ilahi, dan penyediaan yang ajaib akan keselamatan dari murka ilahi oleh Tuhan dalam Kristus. Paulus berbicara mengenai &amp;quot;kabar baik&amp;quot; ini sebagai hal yang &amp;quot;paling penting&amp;quot;, dan kita tahu dengan baik prioritas yang ia berikan bagi pesan ini dalam khotbah dan tulisannya (bdk. 1 Kor. 2:1-4). Demikianlah sentralitas Injil. Tapi supaya Injil memiliki sentralitas yang ''fungsional'', Injil harus ''terkoneksi'' dengan area-area di mana orang menghidupi hidup mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membawa kita kepada lingkaran yang kedua, kebenaran-kebenaran Injil. Ini merupakan implikasi-implikasi doktrinal yang spesifik dan konkrit akan Injil; atau, sebagaimana Paulus menuliskannya, &amp;quot;ajaran sehat yang berdasarkan (yaitu, yang mengambil bentuknya dari) Injil dari Allah yang mulia&amp;quot; (1 Tim. 1:1-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This brings us to our second circle, gospel truths. These are specific, concrete doctrinal implications of the gospel; or, as Paul puts it, “doctrine that conforms to (i.e., takes its shape from) the glorious gospel” (1Tim 1:10-11). These gospel truths bring the gospel to bear particularly on the mind; they are useful in renewing the mind so that our thinking is more and more shaped by the truth of the gospel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we might expect, the book of Romans is especially saturated with these gospel truths. Let me give three examples:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) In Romans 5:1 Paul states, “''Therefore, since'' we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ.” Notice the logic of the verse. Something follows from the essential truth of the gospel. Our having peace with God is not the gospel itself, but is a powerful implication of the gospel—a “gospel truth”. And understanding this gospel truth is part of conforming one’s thinking to the glorious Gospel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) In Romans 8:1 we read, “''Therefore'', there is ''now'' no condemnation for those who are in Christ Jesus.” Again, notice the argument. Paul is not here presenting the gospel itself but something that is true “now” ''because of'' the gospel. But the implication is stunning! When fully comprehended by a believer it will revolutionize their mental world and the gospel will ''function'' powerfully for them.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Romans 8:32 is a favorite. “He who did not spare his own Son, but gave him up for us all—how will he not ''also, along with him'', graciously give us all things.” Notice those words “also” and “along with him.” They speak of something that grows out of the gospel. When people see the connection between the truth of the gospel itself (“He did not spare his own Son but gave him up for us all”) and this gospel truth concerning God’s gracious provision of all that we need for&amp;lt;br&amp;gt;our sanctification (cf. vv. 28-29), the gospel will ''function'' for the strengthening of their daily trust in God’s provision.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But not only is the gospel to shape our thinking, there are massive behavioral implications of the gospel as well. The gospel is not only to renew our minds, but to inform our ''conduct'' too. The Scriptures provide many examples of this gospel informed living. In Gal 2:14 Paul rebukes Peter for conduct that was “not in line with the truth of the Gospel” and in Phil 1:27 he urges believers to “''conduct'' yourselves in a manner worthy of the gospel.” In other words, one of the ways the gospel must function is by informing specific behaviors. Thus, we should read our Bibles with an eye toward detecting these connections. So, for example, when Paul appeals to the Corinthians to “flee from sexual immorality” he explicitly bases his appeal on the gospel—“you are not your own; you were bought at a price. ''Therefore'' honor God with your body” (1Cor 6:18-20). When he urges forgiveness he explicitly references the gospel as both motivation and model (Eph 4:32). When he tells husbands to love their wives he does so by linking his exhortation directly to the gospel (Eph 5:25). When he calls the Corinthians to an ongoing generosity he explicitly reminds them of God’s generosity in the gospel (2Cor 8:7,9; 9:12-13, 15). Many more examples could be given. Ultimately, all Christian behavior should flow out of the gospel; while working hard to avoid triteness, connections should be made to every area of life.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One of the greatest challenges and most important tasks of the pastor-teacher is to clearly ''show'' these connections so that people can specifically and intelligently bring the gospel to bear on both their thinking and conduct. Thus the gospel becomes ''functionally'' central to the individual Christian and to the local church.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 09:21:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Gospel_Implications/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Gospel Implications/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Gospel_Implications/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: {{MasterHeader |author= Mike Bullmore |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Leadership |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |transla...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mike Bullmore |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Leadership |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Implikasi Injil ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Shepherding Your People to Think and Live in Line with the Truth of the Gospel'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A local church is healthy to the degree that: (1) its pastor-teachers are able to accurately, effectively, and broadly bring the gospel to bear in the real lives of their people; and (2) its people have a deep personal understanding of and appreciation for the gospel, so as to be able to live in the good of the gospel daily. I call this the ''functional centrality'' of the gospel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Critical to achieving this aim is ''making clear'' the connections between the gospel and its doctrinal and behavioral implications. We could call these connections “gospel truths” and “gospel conduct” respectively.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imagine three concentric circles. In the center is the gospel itself, perhaps best represented by the words of 1Cor 15:3 – “Christ died for our sins.” This simple phrase speaks of the reality of our sin, the necessity of divine punishment, and the wonderful provision of salvation from divine wrath by God in Christ. Paul speaks of this “good news” as the matter of “first importance”, and we know well the priority he gives this message in his preaching and writing (cf. 1Cor 2:1-4). Hence, its centrality. But in order for it to have a ''functional'' centrality it must be ''connected'' to areas where people live their lives.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This brings us to our second circle, gospel truths. These are specific, concrete doctrinal implications of the gospel; or, as Paul puts it, “doctrine that conforms to (i.e., takes its shape from) the glorious gospel” (1Tim 1:10-11). These gospel truths bring the gospel to bear particularly on the mind; they are useful in renewing the mind so that our thinking is more and more shaped by the truth of the gospel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As we might expect, the book of Romans is especially saturated with these gospel truths. Let me give three examples:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) In Romans 5:1 Paul states, “''Therefore, since'' we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ.” Notice the logic of the verse. Something follows from the essential truth of the gospel. Our having peace with God is not the gospel itself, but is a powerful implication of the gospel—a “gospel truth”. And understanding this gospel truth is part of conforming one’s thinking to the glorious Gospel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) In Romans 8:1 we read, “''Therefore'', there is ''now'' no condemnation for those who are in Christ Jesus.” Again, notice the argument. Paul is not here presenting the gospel itself but something that is true “now” ''because of'' the gospel. But the implication is stunning! When fully comprehended by a believer it will revolutionize their mental world and the gospel will ''function'' powerfully for them.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Romans 8:32 is a favorite. “He who did not spare his own Son, but gave him up for us all—how will he not ''also, along with him'', graciously give us all things.” Notice those words “also” and “along with him.” They speak of something that grows out of the gospel. When people see the connection between the truth of the gospel itself (“He did not spare his own Son but gave him up for us all”) and this gospel truth concerning God’s gracious provision of all that we need for&amp;lt;br&amp;gt;our sanctification (cf. vv. 28-29), the gospel will ''function'' for the strengthening of their daily trust in God’s provision.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But not only is the gospel to shape our thinking, there are massive behavioral implications of the gospel as well. The gospel is not only to renew our minds, but to inform our ''conduct'' too. The Scriptures provide many examples of this gospel informed living. In Gal 2:14 Paul rebukes Peter for conduct that was “not in line with the truth of the Gospel” and in Phil 1:27 he urges believers to “''conduct'' yourselves in a manner worthy of the gospel.” In other words, one of the ways the gospel must function is by informing specific behaviors. Thus, we should read our Bibles with an eye toward detecting these connections. So, for example, when Paul appeals to the Corinthians to “flee from sexual immorality” he explicitly bases his appeal on the gospel—“you are not your own; you were bought at a price. ''Therefore'' honor God with your body” (1Cor 6:18-20). When he urges forgiveness he explicitly references the gospel as both motivation and model (Eph 4:32). When he tells husbands to love their wives he does so by linking his exhortation directly to the gospel (Eph 5:25). When he calls the Corinthians to an ongoing generosity he explicitly reminds them of God’s generosity in the gospel (2Cor 8:7,9; 9:12-13, 15). Many more examples could be given. Ultimately, all Christian behavior should flow out of the gospel; while working hard to avoid triteness, connections should be made to every area of life.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One of the greatest challenges and most important tasks of the pastor-teacher is to clearly ''show'' these connections so that people can specifically and intelligently bring the gospel to bear on both their thinking and conduct. Thus the gospel becomes ''functionally'' central to the individual Christian and to the local church.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 09:03:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Gospel_Implications/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>What is That to You? You Follow Me!/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kalimat yang Blak-blakan''&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya. Ia menjawab ''ya'' tiga kali. Kemudian Yesus memberi tahu Petrus bagaimana ia akan mati—nampaknya dengan penyaliban. Petrus ingin tahu bagaimana dengan Yohanes. Jadi ia bertanya kepada Yesus, &amp;quot;apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Yesus mengacuhkan pertanyaan tersebut dan berkata, &amp;quot;itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Ini percakapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''&amp;quot;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&amp;quot; Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: &amp;quot;Ikutlah Aku.&amp;quot; Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: &amp;quot;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&amp;quot; Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &amp;quot;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Jawab Yesus: &amp;quot;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;'' (Yohanes 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Yesus yang blak-blakan—&amp;quot;Bukan urusanmu. Ikutlah Aku&amp;quot;—manis di telinga saya. Kalimat tersebut membebaskan dari belenggu membanding-bandingkan yang menyedihkan dan fatal. Kadang-kadang ketika saya melihat iklan-iklan di ''Christianity Today'' (semuanya puluhan ribu), saya putus asa. Tidak sebanyak dua puluh lima tahun lalu. Tapi tetap saja saya merasa gunung es tawaran-tawaran pelayanan ini menekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku demi buku, konferensi demi konferensi, DVD demi DVD—memberi tahu bagaimana sukses dalam pelayanan. Dan semuanya dengan diam-diam menyampaikan pesan bahwa saya tidak mencapainya. Ibadah bisa lebih baik. Khotbah bisa lebih baik. Penginjilan bisa lebih baik. Penggembalaan bisa lebih baik. Pelayanan pemuda bisa lebih baik. Misi bisa lebih baik. Dan ini yang bisa berhasil. Beli ini. Kemarilah. Ke sanalah. Lakukanlah dengan cara ini. Dan menambahi buku-buku dan konferensi yang membebani ini adalah ''milikku''!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya disegarkan oleh kalimat Yesus yang blak-blakan kepada saya (dan Anda): &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Petrus baru mendengar kalimat yang sangat keras. Engkau akan mati—secara menyakitkan. Pikiran pertamanya yaitu perbandingan. Bagaimana dengan Yohanes? Jika aku harus menderita, akankah dia harus menderita? Jika pelayananku berakhir demikian, akankah pelayanannya berakhir seperti itu? Jika aku tidak mendapat hidup pelayanan yang berbuah dan lama, akankah ia mendapatkannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kita orang-orang berdosa. Membandingkan. Membandingkan. Membandingkan. Kita ingin tahu bagaimana posisi kita dalam perbandingan dengan orang lain. Ada perasaan hebat jika kita sekedar dapat menemukan seseorang yang kurang efektif daripada kita. Aduh. Sampai hari ini, saya mengingat catatan kecil yang ditempelkan oleh Asisten Residen saya di Elliot Hall pada tahun senior saya di Wheaton: &amp;quot;Mengasihi adalah berhenti membandingkan.&amp;quot; Itu bukan urusanmu, Piper. Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau David Wells punya pengertian yang komprehensif akan efek posmodernisme yang merambah? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Voddie Baucham mengabarkan Injil dengan begitu berkuasa ''tanpa catatan''? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Tim Keller melihat koneksi Injil dengan kehidupan profesional begitu jelas? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Mark Driscoll bisa memanfaatkan bahasa dan kebodohan budaya pop dengan begitu ahli? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Don Carson membaca lima ratus buku setahun dan menggabungkan pencerahan penggembalaan dengan kedalaman dan keluasan seorang sarjana? Ikutlah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu mendarat pada saya dengan sukacita yang besar. Yesus tidak akan menghakimi saya menurut superioritas atau inferioritas saya terhadap siapapun. Tidak ada pengkhotbah. Tidak ada gereja. Tidak ada pelayanan. Ini semua bukan standar. Yesus punya pekerjaan untuk ''saya'' kerjakan (dan yang lain untuk Anda). Ini bukan apa yang diberikan-Nya kepada orang lain untuk dikerjakan. Ada kasih karunia untuk melakukannya. Akankah saya percaya kepada-Nya untuk kasih karunia itu dan mengerjakan apa yang Ia telah berikan kepada saya untuk kerjakan? Itulah pertanyaannya. O betapa suatu kebebasan yang datang ketika Yesus blak-blakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap Anda menemukan penguatan dan kebebasan hari ini ketika Anda mendengar Yesus berkata kepada semua perbandinganmu yang tak henti-henti: &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar berjalan dalam kebebasan bersama Anda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 06:01:08 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>What is That to You? You Follow Me!/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kalimat yang Blak-blakan''&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya. Ia menjawab ''ya'' tiga kali. Kemudian Yesus memberi tahu Petrus bagaimana ia akan mati—nampaknya dengan penyaliban. Petrus ingin tahu bagaimana dengan Yohanes. Jadi ia bertanya kepada Yesus, &amp;quot;apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Yesus mengacuhkan pertanyaan tersebut dan berkata, &amp;quot;itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Ini percakapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''&amp;quot;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&amp;quot; Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: &amp;quot;Ikutlah Aku.&amp;quot; Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: &amp;quot;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&amp;quot; Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &amp;quot;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Jawab Yesus: &amp;quot;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;'' (Yohanes 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Yesus yang blak-blakan—&amp;quot;Bukan urusanmu. Ikutlah Aku&amp;quot;—manis di telinga saya. Kalimat tersebut membebaskan dari belenggu membanding-bandingkan yang menyedihkan dan fatal. Kadang-kadang ketika saya melihat iklan-iklan di ''Christianity Today'' (semuanya puluhan ribu), saya putus asa. Tidak sebanyak dua puluh lima tahun lalu. Tapi tetap saja saya merasa gunung es tawaran-tawaran pelayanan ini menekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku demi buku, konferensi demi konferensi, DVD demi DVD—memberi tahu bagaimana sukses dalam pelayanan. Dan semuanya dengan diam-diam menyampaikan pesan bahwa saya tidak mencapainya. Ibadah bisa lebih baik. Khotbah bisa lebih baik. Penginjilan bisa lebih baik. Penggembalaan bisa lebih baik. Pelayanan pemuda bisa lebih baik. Misi bisa lebih baik. Dan ini yang bisa berhasil. Beli ini. Kemarilah. Ke sanalah. Lakukanlah dengan cara ini. Dan menambahi buku-buku dan konferensi yang membebani ini adalah ''milikku''!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya disegarkan oleh kalimat Yesus yang blak-blakan kepada saya (dan Anda): &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Petrus baru mendengar kalimat yang sangat keras. Engkau akan mati—secara menyakitkan. Pikiran pertamanya yaitu perbandingan. Bagaimana dengan Yohanes? Jika aku harus menderita, akankah dia harus menderita? Jika pelayananku berakhir demikian, akankah pelayanannya berakhir seperti itu? Jika aku tidak mendapat hidup pelayanan yang berbuah dan lama, akankah ia mendapatkannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kita orang-orang berdosa. Membandingkan. Membandingkan. Membandingkan. Kita ingin tahu bagaimana posisi kita dalam perbandingan dengan orang lain. Ada perasaan hebat jika kita sekedar dapat menemukan seseorang yang kurang efektif daripada kita. Aduh. Sampai hari ini, saya mengingat catatan kecil yang ditempelkan oleh Asisten Residen saya di Elliot Hall pada tahun senior saya di Wheaton: &amp;quot;Mengasihi adalah berhenti membandingkan.&amp;quot; Itu bukan urusanmu, Piper. Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau David Wells punya pengertian yang komprehensif akan efek posmodernisme yang merambah? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Voddie Baucham mengabarkan Injil dengan begitu berkuasa ''tanpa catatan''? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Tim Keller melihat koneksi Injil dengan kehidupan profesional begitu jelas? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Mark Driscoll bisa memanfaatkan bahasa dan kebodohan budaya pop dengan begitu ahli? Ikutlah Aku.&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Don Carson membaca lima ratus buku setahun dan menggabungkan pencerahan penggembalaan dengan kedalaman dan keluasan seorang sarjana? Ikutlah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu mendarat pada saya dengan sukacita yang besar. Yesus tidak akan menghakimi saya menurut superioritas atau inferioritas saya terhadap siapapun. Tidak ada pengkhotbah. Tidak ada gereja. Tidak ada pelayanan. Ini semua bukan standar. Yesus punya pekerjaan untuk ''saya'' kerjakan (dan yang lain untuk Anda). Ini bukan apa yang diberikan-Nya kepada orang lain untuk dikerjakan. Ada kasih karunia untuk melakukannya. Akankah saya percaya kepada-Nya untuk kasih karunia itu dan mengerjakan apa yang Ia telah berikan kepada saya untuk kerjakan? Itulah pertanyaannya. O betapa suatu kebebasan yang datang ketika Yesus blak-blakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap Anda menemukan penguatan dan kebebasan hari ini ketika Anda mendengar Yesus berkata kepada semua perbandinganmu yang tak henti-henti: &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar berjalan dalam kebebasan bersama Anda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 05:58:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>What is That to You? You Follow Me!/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kalimat yang Blak-blakan''&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya. Ia menjawab ''ya'' tiga kali. Kemudian Yesus memberi tahu Petrus bagaimana ia akan mati—nampaknya dengan penyaliban. Petrus ingin tahu bagaimana dengan Yohanes. Jadi ia bertanya kepada Yesus, &amp;quot;apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Yesus mengacuhkan pertanyaan tersebut dan berkata, &amp;quot;itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Ini percakapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''&amp;quot;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&amp;quot; Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: &amp;quot;Ikutlah Aku.&amp;quot; Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: &amp;quot;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&amp;quot; Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &amp;quot;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Jawab Yesus: &amp;quot;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;'' (Yohanes 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Yesus yang blak-blakan—&amp;quot;Bukan urusanmu. Ikutlah Aku&amp;quot;—manis di telinga saya. Kalimat tersebut membebaskan dari belenggu membanding-bandingkan yang menyedihkan dan fatal. Kadang-kadang ketika saya melihat iklan-iklan di ''Christianity Today'' (semuanya puluhan ribu), saya putus asa. Tidak sebanyak dua puluh lima tahun lalu. Tapi tetap saja saya merasa ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus’ blunt words—“None of your business, follow me”—are sweet to my ears. They are liberating from the depressing bondage of fatal comparing. Sometimes when I scan the ads in ''Christianity Today'' (all ten thousand of them), I get discouraged. Not as much as I used to twenty-five years ago. But still I find this avalanche of ministry suggestions oppressing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku demi buku, konferensi demi konferensi, DVD demi DVD—memberi tahu bagaimana sukses dalam pelayanan. Dan semuanya dengan diam-diam menyampaikan pesan bahwa saya tidak mencapainya. Ibadah bisa lebih baik. Khotbah bisa lebih baik. Penginjilan bisa lebih baik. Penggembalaan bisa lebih baik. Pelayanan pemuda bisa lebih baik. Misi bisa lebih baik. Dan ini yang bisa berhasil. Beli ini. Kemarilah. Ke sanalah. Lakukanlah dengan cara ini. Dan menambahi buku-buku dan konferensi yang membebani ini adalah ''milikku''!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya disegarkan oleh kalimat Yesus yang blak-blakan kepada saya (dan Anda): &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Petrus baru mendengar kalimat yang sangat keras. Engkau akan mati—secara menyakitkan. Pikiran pertamanya yaitu perbandingan. Bagaimana dengan Yohanes? Jika aku harus menderita, akankah dia harus menderita? Jika pelayananku berakhir demikian, akankah pelayanannya berakhir seperti itu? Jika aku tidak mendapat hidup pelayanan yang berbuah dan lama, akankah ia mendapatkannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kita orang-orang berdosa. Membandingkan. Membandingkan. Membandingkan. Kita ingin tahu bagaimana posisi kita dalam perbandingan dengan orang lain. Ada perasaan hebat jika kita sekedar dapat menemukan seseorang yang kurang efektif daripada kita. Aduh. Sampai hari ini, saya mengingat catatan kecil yang ditempelkan oleh Asisten Residen saya di Elliot Hall pada tahun senior saya di Wheaton: &amp;quot;Mengasihi adalah berhenti membandingkan.&amp;quot; Itu bukan urusanmu, Piper. Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau David Wells punya pengertian yang komprehensif akan efek posmodernisme yang merambah? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Voddie Baucham mengabarkan Injil dengan begitu berkuasa ''tanpa catatan''? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Tim Keller melihat koneksi Injil dengan kehidupan profesional begitu jelas? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Mark Driscoll bisa memanfaatkan bahasa dan kebodohan budaya pop dengan begitu ahli? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
* Apa urusanmu kalau Don Carson membaca lima ratus buku setahun dan menggabungkan pencerahan penggembalaan dengan kedalaman dan keluasan seorang sarjana? Ikutlah aku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu mendarat pada saya dengan sukacita yang besar. Yesus tidak akan menghakimi saya menurut superioritas atau inferioritas saya terhadap siapapun. Tidak ada pengkhotbah. Tidak ada gereja. Tidak ada pelayanan. Ini semua bukan standar. Yesus punya pekerjaan untuk ''saya'' kerjakan (dan yang lain untuk Anda). Ini bukan apa yang diberikan-Nya kepada orang lain untuk dikerjakan. Ada kasih karunia untuk melakukannya. Akankah saya percaya kepada-Nya untuk kasih karunia itu dan mengerjakan apa yang Ia telah berikan kepada saya untuk kerjakan? Itulah pertanyaannya. O betapa suatu kebebasan yang datang ketika Yesus blak-blakan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap Anda menemukan penguatan dan kebebasan hari ini ketika Anda mendengar Yesus berkata kepada semua perbandinganmu yang tak henti-henti: &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar berjalan dalam kebebasan bersama Anda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 05:56:29 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>What is That to You? You Follow Me!/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kalimat yang Blak-blakan''&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya. Ia menjawab ''ya'' tiga kali. Kemudian Yesus memberi tahu Petrus bagaimana ia akan mati—nampaknya dengan penyaliban. Petrus ingin tahu bagaimana dengan Yohanes. Jadi ia bertanya kepada Yesus, &amp;quot;apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Yesus mengacuhkan pertanyaan tersebut dan berkata, &amp;quot;itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Ini percakapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''&amp;quot;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&amp;quot; Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: &amp;quot;Ikutlah Aku.&amp;quot; Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: &amp;quot;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&amp;quot; Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &amp;quot;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Jawab Yesus: &amp;quot;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;'' (Yohanes 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Yesus yang blak-blakan—&amp;quot;Bukan urusanmu. Ikutlah Aku&amp;quot;—manis di telinga saya. Kalimat tersebut membebaskan dari belenggu membanding-bandingkan yang menyedihkan dan fatal. Kadang-kadang ketika  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus’ blunt words—“None of your business, follow me”—are sweet to my ears. They are liberating from the depressing bondage of fatal comparing. Sometimes when I scan the ads in ''Christianity Today'' (all ten thousand of them), I get discouraged. Not as much as I used to twenty-five years ago. But still I find this avalanche of ministry suggestions oppressing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Book after book, conference after conference, DVD after DVD—telling me how to succeed in ministry. And all of them quietly delivering the message that I am not making it. Worship could be better. Preaching could be better. Evangelism could be better. Pastoral care could be better. Youth ministry could be better. Missions could be better. And here is what works. Buy this. Go here. Go there. Do it this way. And adding to the burden—some of these books and conferences are ''mine''!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So I was refreshed by Jesus’ blunt word to me (and you): “What is that to you? You follow me!” Peter had just heard a very hard word. You will die—painfully. His first thought was comparison. What about John? If I have to suffer, will he have to suffer? If my ministry ends like that, will his end like that? If I don’t get to live a long life of fruitful ministry, will he get to?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That’s the way we sinners are wired. Compare. Compare. Compare. We crave to know how we stack up in comparison to others. There is some kind of high if we can just find someone less effective than we are. Ouch. To this day, I recall the little note posted by my Resident Assistant in Elliot Hall my senior year at Wheaton: “To love is to stop comparing.” What is that to you, Piper? Follow me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* What is it to you that David Wells has such a comprehensive grasp of the pervasive effects of postmodernism? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Voddie Baucham speaks the gospel so powerfully ''without notes''? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Tim Keller sees gospel connections with professional life so clearly? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Mark Driscoll has the language and the folly of pop culture at his fingertips? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Don Carson reads five hundred books a year and combines pastoral insight with the scholar’s depth and comprehensiveness? You follow me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That word landed on me with great joy. Jesus will not judge me according to my superiority or inferiority over anybody. No preacher. No church. No ministry. These are not the standard. Jesus has a work for ''me'' to do (and a different one for you). It is not what he has given anyone else to do. There is a grace to do it. Will I trust him for that grace and do what he has given me to do? That is the question. O the liberty that comes when Jesus gets tough!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I hope you find encouragement and freedom today when you hear Jesus say to all your fretting comparisons: “What is that to you? You follow me!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Learning to walk in freedom with you,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastor John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 05:14:22 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>What is That to You? You Follow Me!/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: &amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 6 October 2006 |other= |categorytopic= Encouragement |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kata-kata yang Keras''&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After his resurrection from the dead, Jesus asked Peter three times if he loved him. He answered ''yes'' three times. Then Jesus told Peter how he would die—apparently by crucifixion. Peter wondered about how it would go with John. So he asked Jesus, “What about this man?” Jesus brushed off the question and said, “What is that to you? You follow me!” Here’s the whole interchange.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''“Truly, truly, I say to you, when you were young, you used to dress yourself and walk wherever you wanted, but when you are old, you will stretch out your hands, and another will dress you and carry you where you do not want to go.” (This he said to show by what kind of death he was to glorify God.) And after saying this he said to him, “Follow me.” Peter turned and saw the disciple whom Jesus loved following them, the one who had been reclining at table close to him and had said, “Lord, who is it that is going to betray you?” When Peter saw him, he said to Jesus, “Lord, what about this man?” Jesus said to him, “If it is my will that he remain until I come, what is that to you? You follow me!”'' (John 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus’ blunt words—“None of your business, follow me”—are sweet to my ears. They are liberating from the depressing bondage of fatal comparing. Sometimes when I scan the ads in ''Christianity Today'' (all ten thousand of them), I get discouraged. Not as much as I used to twenty-five years ago. But still I find this avalanche of ministry suggestions oppressing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Book after book, conference after conference, DVD after DVD—telling me how to succeed in ministry. And all of them quietly delivering the message that I am not making it. Worship could be better. Preaching could be better. Evangelism could be better. Pastoral care could be better. Youth ministry could be better. Missions could be better. And here is what works. Buy this. Go here. Go there. Do it this way. And adding to the burden—some of these books and conferences are ''mine''!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So I was refreshed by Jesus’ blunt word to me (and you): “What is that to you? You follow me!” Peter had just heard a very hard word. You will die—painfully. His first thought was comparison. What about John? If I have to suffer, will he have to suffer? If my ministry ends like that, will his end like that? If I don’t get to live a long life of fruitful ministry, will he get to?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That’s the way we sinners are wired. Compare. Compare. Compare. We crave to know how we stack up in comparison to others. There is some kind of high if we can just find someone less effective than we are. Ouch. To this day, I recall the little note posted by my Resident Assistant in Elliot Hall my senior year at Wheaton: “To love is to stop comparing.” What is that to you, Piper? Follow me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* What is it to you that David Wells has such a comprehensive grasp of the pervasive effects of postmodernism? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Voddie Baucham speaks the gospel so powerfully ''without notes''? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Tim Keller sees gospel connections with professional life so clearly? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Mark Driscoll has the language and the folly of pop culture at his fingertips? You follow me.&lt;br /&gt;
* What is it to you that Don Carson reads five hundred books a year and combines pastoral insight with the scholar’s depth and comprehensiveness? You follow me.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That word landed on me with great joy. Jesus will not judge me according to my superiority or inferiority over anybody. No preacher. No church. No ministry. These are not the standard. Jesus has a work for ''me'' to do (and a different one for you). It is not what he has given anyone else to do. There is a grace to do it. Will I trust him for that grace and do what he has given me to do? That is the question. O the liberty that comes when Jesus gets tough!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I hope you find encouragement and freedom today when you hear Jesus say to all your fretting comparisons: “What is that to you? You follow me!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Learning to walk in freedom with you,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastor John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 05:06:36 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:What_is_That_to_You%3F_You_Follow_Me!/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bahasa Indonesia Resources</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Bahasa_Indonesia_Resources</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;div align=&amp;quot;center&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;FCK__ShowTableBorders&amp;quot; style=&amp;quot;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
| &amp;lt;center&amp;gt;&amp;lt;big&amp;gt;'''Sumber-sumber Bahasa Indonesia'''&amp;lt;/big&amp;gt;&amp;lt;/center&amp;gt;&lt;br /&gt;
Gospel Translation dipersembahkan agar buku-buku dan atikel-artikel tentang Injil tersedia dengan mudah dan dapat diakses secara gratis oleh saudara-saudari Kristen di seluruh dunia. Buku-buku dan artikel ini disediakan oleh penerbit-penerbit Kristen, dan diterjemahkan oleh tim penerjemah sukarelawan yang tersebar di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami masih dalam tahap permulaan, tetapi kami berharap, apa yang kami tawarkan selama ini, membantu Anda memahami lebih jauh tentang Juru Selamat kita yang Agung, Tuhan Yesus, yang oleh kematian-Nya di kayu salib telah membayar lunas semua dosa-dosa kita dan kita pun diperdamaikan dengan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa catatan sebelum Anda mulai:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Apabila Anda melihat sesuatu yang salah dalam terjemahan kami, mohon Anda informasikan kepada kami. Kami ingin mempersembahkan terjemahan sebaik mungkin, dan kami mengandalkan Anda untuk turut serta membantu kami meningkatkan terjemahan ini secara terus-menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih sebelumnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;{{#dpl: | category=Bahasa Indonesia | category=Article | include={MasterHeader}:newtitle,{MasterHeader}:partner,{MasterHeader}:author,{MasterHeader}:reviewed | format= &amp;lt;table class=&amp;quot;sortable&amp;quot; align=&amp;quot;center&amp;quot; style=&amp;quot;border: 1px solid #CCC; padding: 1px; background-color: #F0F7FF; margin: 0; width: 99%&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;tr&amp;gt;&amp;lt;th&amp;gt;Artikel&amp;lt;/th&amp;gt;&amp;lt;th&amp;gt;Penerbit&amp;lt;/th&amp;gt;&amp;lt;th&amp;gt;Pengarang&amp;lt;/th&amp;gt;&amp;lt;th&amp;gt;Status review&amp;lt;/th&amp;gt;&amp;lt;/tr&amp;gt;,&amp;lt;tr style=&amp;quot;padding: 0 4px; text-align:center&amp;quot;&amp;gt;,&amp;lt;/tr&amp;gt;,&amp;lt;/table&amp;gt; | secseparators = «td align=&amp;quot;left&amp;quot;»[[%PAGE%{{!}},]]«/td»,«td»,«/td»,«td»,«/td»,«td»,«/td» }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--{12030619543420} --&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 07:53:47 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Bahasa_Indonesia_Resources</comments>		</item>
		<item>
			<title>Expositional Preaching and Application/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Expositional_Preaching_and_Application/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khotbah Eksposisi dan Aplikasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Mark Dever&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari saya mendapat pertanyaan yang saya sadari sering ditanyakan kepada saya—ketika Anda berkhotbah secara eksposisi, bagaimana Anda mengaplikasikan teks dalam khotbah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kita harus memperhatikan bahwa di balik pertanyaan ini, bisa jadi ada banyak asumsi yang perlu dipertanyakan. Penanya mungkin mengingat khotbah-khotbah &amp;quot;eksposisi&amp;quot; yang telah didengarnya (atau mungkin bahkan dikhotbahkannya) yang tidak ada bedanya dengan kuliah Alkitab di perguruan tinggi atau seminari. Khotbah-khotbah ini mungkin strukturnya baik dan akurat, tetapi nampaknya hanya ada sedikit dorongan kesalehan atau hikmat penggembalaan di dalamnya. Khotbah-khotbah eksposisi ini mungkin hanya punya sedikit aplikasi, jika ada. Di lain pihak, penanya bisa jadi punya pengertian yang salah tentang aplikasi. Mungkin ada banyak aplikasi dalam khotbah-khotbah yang dipertanyakannya, tapi ia tidak mengenalinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, teolog Puritan abad ke-16 di Cambridge, mengajar pengkhotbah-pengkhotbah untuk membayangkan macam-macam pendengar yang akan mendengarkan khotbah mereka, dan untuk memikirkan aplikasi-aplikasi kebenaran yang dikhotbahkan kepada macam-macam hati—orang berdosa yang keras, orang yang ragu-ragu dan bertanya-tanya, orang Kristen yang lelah, orang muda yang antusias—dan masih banyak lagi. Akan tetapi, saya mau menjawab pertanyaan tersebut dengan sedikit berbeda. Banyak dari kita yang dipanggil untuk mengkhotbahkan Firman Allah pasti sudah tahu hal ini, tapi akan menolong jika kita diingatkan lagi kenyataan ini: Bukan saja ada bermacam-macam pendengar, tapi ada juga bermacam-macam aplikasi yang semuanya merupakan aplikasi yang sah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya mengkhotbahkan Firman, saya dipanggil untuk menguraikan Kitab Suci, untuk mengambil sebagian dari Firman Allah dan membahasnya dengan jelas, dengan kuasa, bahkan dengan mendesak. Dalam proses ini, sedikitnya ada tiga macam aplikasi yang merefleksikan tiga macam problem yang kita temui dalam perjalanan hidup Kristen kita sendiri. Pertama, kita bergumul dengan ketidaktahuan. Kedua, kita bergumul dengan keraguan, seringkali lebih dari yang kita sadari pada awalnya. Terakhir, kita berdosa entah melalui tindakan ketidaktaatan langsung, atau melalui kelalaian yang berdosa. Dalam ketiganya kita berharap melihat perubahan dalam diri kita dan pendengar kita setiap kali kita mengkhotbahkan Firman Allah. Dan masing-masing menghasilkan setiap aplikasi yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidaktahuan merupakan masalah mendasar dalam dunia yang jatuh. Kita telah mengasingkan Allah. Kita memutuskan diri kita dari persekutuan langsung dengan Pencipta kita. Karena itu, tidak mengherankan kalau memberi tahu orang kebenaran tentang Allah adalah semacam aplikasi yang berkuasa—dan yang sungguh-sungguh kita perlukan. Ini bukan dalih bagi khotbah yang dingin atau tidak bersemangat. Saya dapat menjadi sama (dan lebih) bergairahnya terhadap kalimat-kalimat indikatif seperti terhadap kalimat-kalimat imperatif. Perintah-perintah Injil untuk bertobat dan percaya tidak berarti apa-apa tanpa pernyataan indikatif mengenai Allah, diri kita, dan Kristus. Informasi itu vital. Kita dipanggil untuk mengajar kebenaran, untuk menyerukan pesan yang agung mengenai Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktahuan kepada pengetahuan akan kebenaran. Pemberitahuan sepenuh hati seperti ini adalah aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keraguan berbeda dari ketidaktahuan biasa. Dalam keraguan, kita mengambil ide-ide atau kebenaran yang kita kenal, dan kita mempertanyakan mereka. Kesangsian seperti ini tidak jarang di antara orang Kristen. Malah, keraguan bisa jadi merupakan isu yang paling penting untuk ditelusuri dengan penuh pengertian dan ditantang dengan tuntas dalam khotbah kita. Kita kadang-kadang mengira bahwa sedikit apologetika sebelum pertobatan adalah satu-satunya waktu di mana kita sebagai pengkhotbah perlu menjawab keraguan, tapi bukan begitu. Beberapa orang yang duduk dan mendengarkan khotbah Anda Minggu kemarin, dan yang tahu fakta-fakta yang Anda sebutkan mengenai Kristus, Allah, atau Onesimus, mungkin sedang bergumul apakah mereka sungguh-sungguh percaya fakta-fakta tersebut adalah benar. Kadang-kadang keraguan seperti itu bahkan tidak nampak. Kita sendiri mungkin tidak sadar kalau kita ragu. Tapi ketika kita mulai menelusuri Alkitab, dalam bayang-bayang kita menemukan pertanyaan, ketidakpastian, dan keragu-raguan, semuanya membuat kita sadar akan tarikan keraguan, jauh di sana, menarik kita dari jalan musafir yang setia. Bagi orang seperti itu—mungkin bagi bagian hati kita sendiri yang seperti itu—kita ingin memberi alasan bagi dan mendesakkan kebenaran Firman Allah dan urgensi untuk mempercayainya. Kita dipanggil untuk mendorong para pendengar untuk percaya kebenaran Firman Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari keraguan kepada kepercayaan sepenuh hati akan kebenaran. Khotbah tentang kebenaran yang mendesak, dan menelusuri semacam ini adalah aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa juga merupakan suatu masalah dalam dunia yang jatuh ini. Ketidaktahuan dan keraguan bisa jadi merupakan dosa itu sendiri, atau akibat dosa-dosa tertentu, atau bukan dua-duanya. Tapi dosa tentu lebih dari kelalaian atau keraguan. Ketahuilah bahwa orang yang mendengar khotbah Anda bergumul dengan ketidaktaatan kepada Allah dalam minggu yang baru lewat, dan mereka hampir pasti bergumul dengan ketidaktaatan dalam minggu yang baru mereka mulai. Dosa-dosa mereka bermacam-macam. Beberapa berupa ketidaktaatan melakukan sesuatu; yang lain berupa ketidaktaatan tidak melakukan sesuatu. Tapi entah itu melakukan atau tidak melakukan, dosa adalah ketidaktaatan kepada Allah. Sebagian dari apa yang kita harus lakukan ketika berkhotbah adalah menantang umat Allah untuk hidup suci, yang mencerminkan kesucian Allah sendiri. Jadi bagian dari aplikasi Alkitab yang kita khotbahkan adalah menarik implikasi-implikasi dari bacaan kita bagi tindakan kita dalam minggu itu. Kita sebagai pengkhotbah dipanggil untuk menghimbau umat Allah untuk taat kepada Firman-Nya. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktaatan yang berdosa, kepada ketaatan yang bersukacita dan bahagia kepada Allah, menurut kehendak-Nya yang dinyatakan dalam firman-Nya. Himbauan untuk taat seperti ini tentu merupakan aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan utama yang kita perlu terapkan setiap kali kita berkhotbah adalah Injil. Beberapa orang belum mengenal Kabar Baik Yesus Kristus. Beberapa orang bahkan yang selama ini duduk mendengar khotbah Anda mungkin terganggu, mengantuk, melamun, atau tidak memperhatikan. Mereka perlu mendengar Injil. Mereka perlu diberi tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lain mungkin pernah mendengar, mengerti, dan bahkan sungguh-sungguh menerima kebenarannya, tapi sekarang mendapati diri mereka bergumul dengan keraguan tentang hal-hal yang Anda bahas (atau asumsikan) dalam khotbah Anda. Orang-orang seperti ini perlu didorong untuk percaya kebenaran Kabar Baik Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, juga, orang mungkin telah mendengar dan mengerti, tapi mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak meragukan kebenaran apa yang Anda katakan; mereka mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berpaling kepada Kristus. Bagi pendengar semacam ini, aplikasi yang paling berkuasa yang dapat Anda buat adalah mendorong mereka untuk membenci dosa-dosa mereka dan lari kepada Kristus. Dalam semua khotbah kita, kita harus berusaha menerapkan Injil dengan memberi tahu, mendesak, dan mendorong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu tantangan yang biasa kita hadapi sebagai pengkhotbah dalam mengaplikasikan Firman Allah dalam khotbah kita adalah bahwa kadang-kadang mereka yang punya masalah dalam suatu area tertentu akan berpikir bahwa Anda TIDAK mengaplikasikan Kitab Suci dalam khotbah Anda, jika Anda tidak menjawab masalah tertentu mereka. Apakah mereka benar? Tidak tentu. Sementara khotbah Anda akan membaik jika Anda mulai menjawab keraguan lebih sering, atau lebih menyeluruh, tidaklah salah bagi Anda untuk berkhotbah kepada mereka yang perlu diberi tahu, atau yang perlu didorong untuk meninggalkan dosa, meskipun orang yang berkata kepada Anda tidak menyadari keperluan itu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu catatan terakhir. Amsal 23:12 berkata, &amp;quot;Arahkanlah (Inggris: apply) perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.&amp;quot; Dalam terjemahan bahasa Inggris, nampaknya kata-kata yang diterjemahkan menjadi &amp;quot;apply&amp;quot; dalam Alkitab hampir selalu (mungkin selalu?) merujuk bukan kepada pekerjaan pengkhotbah (sebagaimana homiletika mengajar kita) ataupun kepada pekerjaan Roh Kudus (sebagaimana sistematika mengajar kita) tetapi kepada pekerjaan ia yang mendengar Firman. Kita dipanggil untuk mengaplikasikan firman kepada hati kita sendiri, dan mengaplikasikan diri kita kepada pekerjaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu, mungkin, adalah aplikasi tunggal yang paling penting yang dapat kita buat hari Minggu yang akan datang bagi kebaikan seluruh umat Allah.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 07:50:34 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Expositional_Preaching_and_Application/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Expositional Preaching and Application/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Expositional_Preaching_and_Application/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khotbah Eksposisi dan Aplikasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Mark Dever&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari saya mendapat pertanyaan yang saya sadari sering ditanyakan kepada saya—ketika Anda berkhotbah secara eksposisi, bagaimana Anda mengaplikasikan teks dalam khotbah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kita harus memperhatikan bahwa di balik pertanyaan ini, bisa jadi ada banyak asumsi yang perlu dipertanyakan. Penanya mungkin mengingat khotbah-khotbah &amp;quot;eksposisi&amp;quot; yang telah didengarnya (atau mungkin bahkan dikhotbahkannya) yang tidak ada bedanya dengan kuliah Alkitab di perguruan tinggi atau seminari. Khotbah-khotbah ini mungkin strukturnya baik dan akurat, tetapi nampaknya hanya ada sedikit dorongan kesalehan atau hikmat penggembalaan di dalamnya. Khotbah-khotbah eksposisi ini mungkin hanya punya sedikit, jika ada, aplikasi. Di lain pihak, penanya bisa jadi salah mengerti aplikasi. Mungkin ada banyak aplikasi dalam khotbah-khotbah yang dipertanyakannya, tapi ia tidak mengenalinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, teolog Puritan abad ke-16 di Cambridge, mengajar pengkhotbah-pengkhotbah untuk membayangkan macam-macam pendengar yang akan mendengarkan khotbah mereka, dan untuk memikirkan aplikasi-aplikasi kebenaran yang dikhotbahkan kepada macam-macam hati—orang berdosa yang keras, orang yang ragu-ragu dan bertanya-tanya, orang Kristen yang lelah, orang muda yang antusias—dan masih banyak lagi. Akan tetapi, saya mau mendekati pertanyaan tersebut dengan sedikit berbeda. Banyak dari kita yang dipanggil untuk mengkhotbahkan Firman Allah pasti sudah tahu hal ini, tapi akan membantu untuk mengingatkan kita lagi akan kenyataan ini: Bukan saja ada bermacam-macam pendengar, tapi ada juga bermacam-macam aplikasi yang semuanya merupakan aplikasi yang sah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya mengkhotbahkan Firman, saya dipanggil untuk menguraikan Kitab Suci, untuk mengambil sebagian dari Firman Allah dan menjelaskannya dengan jelas, dengan kuasa, bahkan dengan mendesak. Dalam proses ini, sedikitnya ada tiga macam aplikasi yang merefleksikan tiga macam problem yang kita temui dalam perjalanan hidup Kristen kita sendiri. Pertama, kita bergumul dengan ketidaktahuan. Kedua, kita bergumul dengan keraguan, seringkali lebih dari yang pada awalnya kita sadari. Terakhir, kita berdosa entah melalui tindakan ketidaktaatan langsung, atau melalui kelalaian yang berdosa. Dalam ketiganya kita berharap melihat perubahan dalam diri kita dan pendengar kita setiap kali kita mengkhotbahkan Firman Allah. Dan masing-masing menghasilkan setiap aplikasi yang berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidaktahuan merupakan masalah mendasar dalam dunia yang jatuh. Kita telah mengasingkan Allah. Kita memutuskan diri kita dari persekutuan langsung dengan Pencipta kita. Karena itu, tidak mengherankan kalau memberi tahu orang kebenaran tentang Allah adalah semacam aplikasi yang berkuasa—dan yang sungguh-sungguh kita perlukan. Ini bukan dalih bagi khotbah yang dingin atau tidak bersemangat. Saya dapat menjadi sama (dan lebih) bergairahnya terhadap kalimat-kalimat indikatif seperti terhadap kalimat-kalimat imperatif. Perintah-perintah Injil untuk bertobat dan percaya tidak berarti apa-apa tanpa pernyataan indikatif mengenai Allah, diri kita, dan Kristus. Informasi itu vital. Kita dipanggil untuk mengajar kebenaran, untuk menyerukan pesan yang agung mengenai Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktahuan kepada pengetahuan akan kebenaran. Pemberitahuan sepenuh hati seperti ini adalah aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keraguan berbeda dari ketidaktahuan biasa. Dalam keraguan, kita mengambil ide-ide atau kebenaran yang kita kenal, dan kita mempertanyakan mereka. Kesangsian seperti ini tidak jarang di antara orang Kristen. Malah, keraguan bisa jadi merupakan isu yang paling penting untuk ditelusuri dengan penuh pengertian dan ditantang dengan tuntas dalam khotbah kita. Kita kadang-kadang mengira bahwa sedikit apologetika sebelum pertobatan adalah satu-satunya waktu di mana kita sebagai pengkhotbah perlu menjawab keraguan, tapi bukan begitu. Beberapa orang yang duduk dan mendengarkan khotbah Anda Minggu kemarin, dan yang tahu fakta-fakta yang Anda sebutkan mengenai Kristus, Allah, atau Onesimus, mungkin sedang bergumul apakah mereka sungguh-sungguh percaya fakta-fakta tersebut adalah benar. Kadang-kadang keraguan seperti itu bahkan tidak nampak. Kita sendiri mungkin tidak sadar kalau kita ragu. Tapi ketika kita mulai menelusuri Alkitab, kita menemukan dalam bayang-bayang pertanyaan, ketidakpastian, dan keragu-raguan, semuanya membuat kita sadar akan tarikan keraguan, jauh di sana, menarik kita dari jalan musafir yang setia. Bagi orang seperti itu—mungkin bagi bagian hati kita sendiri yang seperti itu—kita ingin memberi alasan bagi dan mendesakkan kebenaran Firman Allah dan urgensi untuk mempercayainya. Kita dipanggil untuk mendorong para pendengar untuk percaya kebenaran Firman Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari keraguan kepada kepercayaan sepenuh hati akan kebenaran. Khotbah tentang kebenaran yang mendesak, dan menelusuri semacam ini adalah aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa, juga, adalah suatu masalah dalam dunia yang jatuh ini. Ketidaktahuan dan keraguan bisa jadi merupakan dosa itu sendiri, atau akibat dosa-dosa tertentu, atau bukan dua-duanya. Tapi dosa tentu lebih dari kelalaian atau keraguan. Ketahuilah bahwa orang yang mendengar khotbah Anda bergumul dengan ketidaktaatan kepada Allah dalam minggu yang baru lewat, dan mereka hampir pasti bergumul dengan ketidaktaatan dalam minggu yang baru mereka mulai. Dosa-dosa mereka bermacam-macam. Beberapa berupa ketidaktaatan melakukan sesuatu; yang lain berupa ketidaktaatan tidak melakukan sesuatu. Tapi entah itu melakukan atau tidak melakukan, dosa adalah ketidaktaatan kepada Allah. Sebagian dari apa yang kita harus lakukan ketika berkhotbah yaitu menantang umat Allah untuk hidup suci, yang mencerminkan kesucian Allah sendiri. Jadi bagian dari aplikasi Alkitab yang kita khotbahkan adalah menarik implikasi-implikasi dari bacaan kita bagi tindakan kita dalam minggu itu. Kita sebagai pengkhotbah dipanggil untuk menghimbau umat Allah untuk taat kepada Firman-Nya. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktaatan yang berdosa, kepada ketaatan yang bersukacita dan bahagia kepada Allah, menurut kehendak-Nya yang dinyatakan dalam firman-Nya. Himbauan untuk taat seperti ini tentu merupakan aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan utama yang kita perlu terapkan setiap kali kita berkhotbah adalah Injil. Beberapa orang belum mengenal Kabar Baik Yesus Kristus. Beberapa orang bahkan yang selama ini duduk mendengar khotbah Anda mungkin terganggu, mengantuk, melamun, atau tidak memperhatikan. Mereka perlu mendengar Injil. Mereka perlu diberi tahu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lain mungkin pernah mendengar, mengerti, dan bahkan sungguh-sungguh menerima kebenarannya, tapi sekarang menemukan diri mereka bergumul dengan keraguan tentang hal-hal yang Anda bahas (atau asumsikan) dalam khotbah Anda. Orang-orang seperti ini perlu didorong untuk percaya kebenaran Kabar Baik Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, juga, orang mungkin telah mendengar dan mengerti, tapi mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak meragukan kebenaran apa yang Anda katakan; mereka mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berpaling kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And, too, people may have heard and understood, but may be slow to repent of their sins. They may not even doubt the truth of what you're saying; they may simply be slow to repent of their sins and to turn to Christ. For such hearers, the most powerful application you can make is to exhort them to hate their sins and flee to Christ. In all our sermons, we should seek to apply the Gospel by informing, urging and exhorting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One common challenge we preachers face in applying God's Word in our sermons is that sometimes those who have their problems mainly in one area or another will think that you are NOT applying Scripture in your preaching, if you are not addressing their particular problem. Are they right? Not necessarily. While your preaching might improve if you do start addressing doubt more often, or more thoroughly, it is not wrong for you to preach to those who need to be informed, or who need to be exhorted to forsake sin, even if the person talking to you isn't so aware of that need.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One final note. Proverbs 23:12 says &amp;quot;Apply your heart to instruction and your ears to words of knowledge.&amp;quot; In English translations, it seems that the words translated &amp;quot;apply&amp;quot; in the Bible almost always (maybe always?) have reference not to the preacher's work (as homiletics teaches us) nor even to the Holy Spirit's (as systematics rightly teaches us) but to the work of the one who hears the Word. We are called to apply the word to our own hearts, and to apply ourselves to that work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That, perhaps, is the single most important application we could make next Sunday for the benefit of all of God's people.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 07:21:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Expositional_Preaching_and_Application/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Expositional Preaching and Application/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Expositional_Preaching_and_Application/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: {{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator=...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khotbah Eksposisi dan Aplikasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Mark Dever&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari saya di&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The other day I was asked a question that I realize has often been asked of me¯when you preach expositionally, how do you apply the text in the sermon?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
First, we should note that behind this question, there may be many questionable assumptions. The questioner may be remembering &amp;quot;expositional&amp;quot; sermons he has heard (or maybe even preached) which were no different from Bible lectures at college or seminary. They may have been well-structured and accurate, but there seemed to be little godly urgency, or pastoral wisdom in them. These expositional sermons may have had little if any application. On the other hand, the questioner may be simply misunderstanding application. There could have been a great deal of application in the sermons in question, but he may simply not have recognized it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, the great sixteenth-century puritan theologian in Cambridge, instructed preachers to imagine the various kinds of hearers who would be listening to their sermons, and to think through applications of the truth preached to several different kinds of hearts¯hardened sinners, questioning doubters, weary saints, young enthusiasts¯the list goes on and on. I want to approach the question slightly differently, though. Many of us who are called to preach God's Word will surely know this already, but it will be helpful to remind ourselves again of this fact: Not only are there different kinds of hearers, but there are also different kinds of application which are themselves all legitimately considered application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I preach the Word, I am called to expound the Scriptures, to take a passage of God's Word and explain it clearly, compellingly, even urgently. In this process, there are at least three different kinds of application which reflect three different kinds of problems we find in our own Christian pilgrimage. First, we struggle under the blight of ignorance. Second, we wrestle with doubt, often more than we at first realize. Finally, we sin¯whether through direct disobedient acts, or through sinful negligence. All three of these we long to see changed in us and our hearers every time we preach God's Word. And each gives rise to a different kind of legitimate application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ignorance is a fundamental problem in a fallen world. We have alienated God from us. We have cut ourselves off from direct fellowship with our Creator. It is not surprising then that informing people of the truth about God is itself a powerful type of application¯and one which we desperately need. This is not an excuse for cold or passionless sermons. I can be every bit as excited (and more) by indicative statements as I can be by imperative commands. The commands of the gospel to repent and believe mean nothing apart from the indicative statements about God, ourselves and Christ. Information is vital. We are called to teach the truth, to proclaim a great message about God. We want people who hear our messages to change from ignorance to knowledge of the truth. Such heartfelt informing is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doubt is different than simple ignorance. In doubt, we take ideas or truths familiar to us, and we question them. This kind of questioning is not rare among Christians. In fact, doubt may well be one of the most important issues to be thoughtfully explored and thoroughly challenged in our preaching. We may sometimes imagine that a little pre-conversion apologetics is the only time we preachers need to directly address doubt, but this is not the case. Some people who sat and listened to your sermon last Sunday, and who knew all the facts that you mentioned about Christ, or God, or Onesimus, may well have been struggling with whether or not they really believed those very facts to be true. Sometimes such doubt is not even articulated. We may not even be aware of it ourselves. But when we begin searchingly to consider Scripture, we find lingering in the shadows questions and uncertainties and hesitancies, all of which make us sadly aware of that gravitational pull of doubt, off there in the distance, drawing us away from the faithful pilgrim's path. To such people¯perhaps to such parts of our own hearts¯we want to argue for and to urge the truthfulness of God's Word and the urgency of believing it. We are called to urge on hearers the truthfulness of God's Word. We want people who hear our messages to change from doubt to full-hearted belief of the truth. Such urgent, searching preaching of the truth is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sin, too, is a problem in this fallen world. Ignorance and doubt may be either themselves specific sins, or the result of specific sins, or neither. But sin is certainly more than neglect or doubt. Be assured that people listening to your sermons will have struggled with disobeying God in the week just passed, and they will almost certainly struggle with disobeying him in the week that they are just beginning. The sins will be various. Some will be a disobedience of action; others will be a disobedience of inaction. But whether of commission or omission, sins are disobedience to God. Part of what we are to do when we preach is to challenge God's people to a holiness of life that will reflect the holiness of God Himself. So part of our applying the passage of Scripture we're preaching is to draw out what the implications of that passage for our actions this week. We as preachers are called to exhort God's people to obedience to His Word. We want people who hear our message to change from sinful disobedience, to joyful, glad obedience to God, according to His will revealed in His word. Such exhortation to obedience is certainly application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The main message that we need to apply every time we preach is the gospel. Some people do not yet know the Good News of Jesus Christ. Some people even who have been sitting under your preaching may have been distracted, or asleep, or day-dreaming, or otherwise not paying attention. They need to be informed of the Gospel. They need to be told.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Others may have heard, understood, and perhaps even genuinely have accepted the truth, but now find themselves struggling with doubt about the very matters you were addressing (or assuming) in your message. Such people need to be urged to believe the truth of the Good News of Christ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And, too, people may have heard and understood, but may be slow to repent of their sins. They may not even doubt the truth of what you're saying; they may simply be slow to repent of their sins and to turn to Christ. For such hearers, the most powerful application you can make is to exhort them to hate their sins and flee to Christ. In all our sermons, we should seek to apply the Gospel by informing, urging and exhorting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One common challenge we preachers face in applying God's Word in our sermons is that sometimes those who have their problems mainly in one area or another will think that you are NOT applying Scripture in your preaching, if you are not addressing their particular problem. Are they right? Not necessarily. While your preaching might improve if you do start addressing doubt more often, or more thoroughly, it is not wrong for you to preach to those who need to be informed, or who need to be exhorted to forsake sin, even if the person talking to you isn't so aware of that need.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One final note. Proverbs 23:12 says &amp;quot;Apply your heart to instruction and your ears to words of knowledge.&amp;quot; In English translations, it seems that the words translated &amp;quot;apply&amp;quot; in the Bible almost always (maybe always?) have reference not to the preacher's work (as homiletics teaches us) nor even to the Holy Spirit's (as systematics rightly teaches us) but to the work of the one who hears the Word. We are called to apply the word to our own hearts, and to apply ourselves to that work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That, perhaps, is the single most important application we could make next Sunday for the benefit of all of God's people.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 06:00:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Expositional_Preaching_and_Application/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>Expositional Preaching and Application</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Expositional_Preaching_and_Application</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: Reverted edits by Kurniawana (Talk); changed back to last version by Kathyyee&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= n/a |levels= 0 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Expositional Preaching and Application ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By Mark Dever&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The other day I was asked a question that I realize has often been asked of me¯when you preach expositionally, how do you apply the text in the sermon?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
First, we should note that behind this question, there may be many questionable assumptions. The questioner may be remembering &amp;quot;expositional&amp;quot; sermons he has heard (or maybe even preached) which were no different from Bible lectures at college or seminary. They may have been well-structured and accurate, but there seemed to be little godly urgency, or pastoral wisdom in them. These expositional sermons may have had little if any application. On the other hand, the questioner may be simply misunderstanding application. There could have been a great deal of application in the sermons in question, but he may simply not have recognized it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, the great sixteenth-century puritan theologian in Cambridge, instructed preachers to imagine the various kinds of hearers who would be listening to their sermons, and to think through applications of the truth preached to several different kinds of hearts¯hardened sinners, questioning doubters, weary saints, young enthusiasts¯the list goes on and on. I want to approach the question slightly differently, though. Many of us who are called to preach God's Word will surely know this already, but it will be helpful to remind ourselves again of this fact: Not only are there different kinds of hearers, but there are also different kinds of application which are themselves all legitimately considered application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I preach the Word, I am called to expound the Scriptures, to take a passage of God's Word and explain it clearly, compellingly, even urgently. In this process, there are at least three different kinds of application which reflect three different kinds of problems we find in our own Christian pilgrimage. First, we struggle under the blight of ignorance. Second, we wrestle with doubt, often more than we at first realize. Finally, we sin¯whether through direct disobedient acts, or through sinful negligence. All three of these we long to see changed in us and our hearers every time we preach God's Word. And each gives rise to a different kind of legitimate application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ignorance is a fundamental problem in a fallen world. We have alienated God from us. We have cut ourselves off from direct fellowship with our Creator. It is not surprising then that informing people of the truth about God is itself a powerful type of application¯and one which we desperately need. This is not an excuse for cold or passionless sermons. I can be every bit as excited (and more) by indicative statements as I can be by imperative commands. The commands of the gospel to repent and believe mean nothing apart from the indicative statements about God, ourselves and Christ. Information is vital. We are called to teach the truth, to proclaim a great message about God. We want people who hear our messages to change from ignorance to knowledge of the truth. Such heartfelt informing is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doubt is different than simple ignorance. In doubt, we take ideas or truths familiar to us, and we question them. This kind of questioning is not rare among Christians. In fact, doubt may well be one of the most important issues to be thoughtfully explored and thoroughly challenged in our preaching. We may sometimes imagine that a little pre-conversion apologetics is the only time we preachers need to directly address doubt, but this is not the case. Some people who sat and listened to your sermon last Sunday, and who knew all the facts that you mentioned about Christ, or God, or Onesimus, may well have been struggling with whether or not they really believed those very facts to be true. Sometimes such doubt is not even articulated. We may not even be aware of it ourselves. But when we begin searchingly to consider Scripture, we find lingering in the shadows questions and uncertainties and hesitancies, all of which make us sadly aware of that gravitational pull of doubt, off there in the distance, drawing us away from the faithful pilgrim's path. To such people¯perhaps to such parts of our own hearts¯we want to argue for and to urge the truthfulness of God's Word and the urgency of believing it. We are called to urge on hearers the truthfulness of God's Word. We want people who hear our messages to change from doubt to full-hearted belief of the truth. Such urgent, searching preaching of the truth is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sin, too, is a problem in this fallen world. Ignorance and doubt may be either themselves specific sins, or the result of specific sins, or neither. But sin is certainly more than neglect or doubt. Be assured that people listening to your sermons will have struggled with disobeying God in the week just passed, and they will almost certainly struggle with disobeying him in the week that they are just beginning. The sins will be various. Some will be a disobedience of action; others will be a disobedience of inaction. But whether of commission or omission, sins are disobedience to God. Part of what we are to do when we preach is to challenge God's people to a holiness of life that will reflect the holiness of God Himself. So part of our applying the passage of Scripture we're preaching is to draw out what the implications of that passage for our actions this week. We as preachers are called to exhort God's people to obedience to His Word. We want people who hear our message to change from sinful disobedience, to joyful, glad obedience to God, according to His will revealed in His word. Such exhortation to obedience is certainly application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The main message that we need to apply every time we preach is the gospel. Some people do not yet know the Good News of Jesus Christ. Some people even who have been sitting under your preaching may have been distracted, or asleep, or day-dreaming, or otherwise not paying attention. They need to be informed of the Gospel. They need to be told.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Others may have heard, understood, and perhaps even genuinely have accepted the truth, but now find themselves struggling with doubt about the very matters you were addressing (or assuming) in your message. Such people need to be urged to believe the truth of the Good News of Christ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And, too, people may have heard and understood, but may be slow to repent of their sins. They may not even doubt the truth of what you're saying; they may simply be slow to repent of their sins and to turn to Christ. For such hearers, the most powerful application you can make is to exhort them to hate their sins and flee to Christ. In all our sermons, we should seek to apply the Gospel by informing, urging and exhorting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One common challenge we preachers face in applying God's Word in our sermons is that sometimes those who have their problems mainly in one area or another will think that you are NOT applying Scripture in your preaching, if you are not addressing their particular problem. Are they right? Not necessarily. While your preaching might improve if you do start addressing doubt more often, or more thoroughly, it is not wrong for you to preach to those who need to be informed, or who need to be exhorted to forsake sin, even if the person talking to you isn't so aware of that need.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One final note. Proverbs 23:12 says &amp;quot;Apply your heart to instruction and your ears to words of knowledge.&amp;quot; In English translations, it seems that the words translated &amp;quot;apply&amp;quot; in the Bible almost always (maybe always?) have reference not to the preacher's work (as homiletics teaches us) nor even to the Holy Spirit's (as systematics rightly teaches us) but to the work of the one who hears the Word. We are called to apply the word to our own hearts, and to apply ourselves to that work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That, perhaps, is the single most important application we could make next Sunday for the benefit of all of God's people.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:57:39 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Expositional_Preaching_and_Application</comments>		</item>
		<item>
			<title>Expositional Preaching and Application</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/Expositional_Preaching_and_Application</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= Mark Dever |partnerurl= http://www.9Marks.org |partner= 9Marks |date= |other= |categorytopic= Preaching |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khotbah Eksposis dan Aplikasi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Mark Dever&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The other day I was asked a question that I realize has often been asked of me¯when you preach expositionally, how do you apply the text in the sermon?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
First, we should note that behind this question, there may be many questionable assumptions. The questioner may be remembering &amp;quot;expositional&amp;quot; sermons he has heard (or maybe even preached) which were no different from Bible lectures at college or seminary. They may have been well-structured and accurate, but there seemed to be little godly urgency, or pastoral wisdom in them. These expositional sermons may have had little if any application. On the other hand, the questioner may be simply misunderstanding application. There could have been a great deal of application in the sermons in question, but he may simply not have recognized it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, the great sixteenth-century puritan theologian in Cambridge, instructed preachers to imagine the various kinds of hearers who would be listening to their sermons, and to think through applications of the truth preached to several different kinds of hearts¯hardened sinners, questioning doubters, weary saints, young enthusiasts¯the list goes on and on. I want to approach the question slightly differently, though. Many of us who are called to preach God's Word will surely know this already, but it will be helpful to remind ourselves again of this fact: Not only are there different kinds of hearers, but there are also different kinds of application which are themselves all legitimately considered application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I preach the Word, I am called to expound the Scriptures, to take a passage of God's Word and explain it clearly, compellingly, even urgently. In this process, there are at least three different kinds of application which reflect three different kinds of problems we find in our own Christian pilgrimage. First, we struggle under the blight of ignorance. Second, we wrestle with doubt, often more than we at first realize. Finally, we sin¯whether through direct disobedient acts, or through sinful negligence. All three of these we long to see changed in us and our hearers every time we preach God's Word. And each gives rise to a different kind of legitimate application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ignorance is a fundamental problem in a fallen world. We have alienated God from us. We have cut ourselves off from direct fellowship with our Creator. It is not surprising then that informing people of the truth about God is itself a powerful type of application¯and one which we desperately need. This is not an excuse for cold or passionless sermons. I can be every bit as excited (and more) by indicative statements as I can be by imperative commands. The commands of the gospel to repent and believe mean nothing apart from the indicative statements about God, ourselves and Christ. Information is vital. We are called to teach the truth, to proclaim a great message about God. We want people who hear our messages to change from ignorance to knowledge of the truth. Such heartfelt informing is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doubt is different than simple ignorance. In doubt, we take ideas or truths familiar to us, and we question them. This kind of questioning is not rare among Christians. In fact, doubt may well be one of the most important issues to be thoughtfully explored and thoroughly challenged in our preaching. We may sometimes imagine that a little pre-conversion apologetics is the only time we preachers need to directly address doubt, but this is not the case. Some people who sat and listened to your sermon last Sunday, and who knew all the facts that you mentioned about Christ, or God, or Onesimus, may well have been struggling with whether or not they really believed those very facts to be true. Sometimes such doubt is not even articulated. We may not even be aware of it ourselves. But when we begin searchingly to consider Scripture, we find lingering in the shadows questions and uncertainties and hesitancies, all of which make us sadly aware of that gravitational pull of doubt, off there in the distance, drawing us away from the faithful pilgrim's path. To such people¯perhaps to such parts of our own hearts¯we want to argue for and to urge the truthfulness of God's Word and the urgency of believing it. We are called to urge on hearers the truthfulness of God's Word. We want people who hear our messages to change from doubt to full-hearted belief of the truth. Such urgent, searching preaching of the truth is application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sin, too, is a problem in this fallen world. Ignorance and doubt may be either themselves specific sins, or the result of specific sins, or neither. But sin is certainly more than neglect or doubt. Be assured that people listening to your sermons will have struggled with disobeying God in the week just passed, and they will almost certainly struggle with disobeying him in the week that they are just beginning. The sins will be various. Some will be a disobedience of action; others will be a disobedience of inaction. But whether of commission or omission, sins are disobedience to God. Part of what we are to do when we preach is to challenge God's people to a holiness of life that will reflect the holiness of God Himself. So part of our applying the passage of Scripture we're preaching is to draw out what the implications of that passage for our actions this week. We as preachers are called to exhort God's people to obedience to His Word. We want people who hear our message to change from sinful disobedience, to joyful, glad obedience to God, according to His will revealed in His word. Such exhortation to obedience is certainly application.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The main message that we need to apply every time we preach is the gospel. Some people do not yet know the Good News of Jesus Christ. Some people even who have been sitting under your preaching may have been distracted, or asleep, or day-dreaming, or otherwise not paying attention. They need to be informed of the Gospel. They need to be told.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Others may have heard, understood, and perhaps even genuinely have accepted the truth, but now find themselves struggling with doubt about the very matters you were addressing (or assuming) in your message. Such people need to be urged to believe the truth of the Good News of Christ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And, too, people may have heard and understood, but may be slow to repent of their sins. They may not even doubt the truth of what you're saying; they may simply be slow to repent of their sins and to turn to Christ. For such hearers, the most powerful application you can make is to exhort them to hate their sins and flee to Christ. In all our sermons, we should seek to apply the Gospel by informing, urging and exhorting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One common challenge we preachers face in applying God's Word in our sermons is that sometimes those who have their problems mainly in one area or another will think that you are NOT applying Scripture in your preaching, if you are not addressing their particular problem. Are they right? Not necessarily. While your preaching might improve if you do start addressing doubt more often, or more thoroughly, it is not wrong for you to preach to those who need to be informed, or who need to be exhorted to forsake sin, even if the person talking to you isn't so aware of that need.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One final note. Proverbs 23:12 says &amp;quot;Apply your heart to instruction and your ears to words of knowledge.&amp;quot; In English translations, it seems that the words translated &amp;quot;apply&amp;quot; in the Bible almost always (maybe always?) have reference not to the preacher's work (as homiletics teaches us) nor even to the Holy Spirit's (as systematics rightly teaches us) but to the work of the one who hears the Word. We are called to apply the word to our own hearts, and to apply ourselves to that work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That, perhaps, is the single most important application we could make next Sunday for the benefit of all of God's people.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:57:14 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:Expositional_Preaching_and_Application</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit, Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8 Maret 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah. &amp;quot;Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan&amp;quot; (Yes. 46:10). &amp;quot;TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya&amp;quot; (Mazmur 135:6). &amp;quot;Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: 'Apa yang Kaubuat?'&amp;quot; (Dan. 4:35) &amp;quot;[Ia] di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya&amp;quot; (Efesus 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya Tuhan mengendalikan semua malapetaka dan penyakit. Setan memang nyata dan punya andil di dalamnya, tetapi ia bukan penentu dan tidak dapat melakukan apa pun kecuali yang Tuhan ijinkan (Ayub 1:12-2:10). Dan Tuhan tidak mengijinkan hal-hal secara serampangan. Ia mengijinkan hal-hal dengan alasan. Ada hikmat yang tidak terhingga dalam segala yang Ia kerjakan dan ijinkan. Jadi apa yang Ia ijinkan adalah bagian dari rencana-Nya sama seperti apa yang Ia lakukan secara lebih langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu ini menimbulkan pertanyaan: Jika Tuhan menghendaki penyakit, mengapa kita perlu berusaha memberantasnya? Ini merupakan pertanyaan yang krusial bagi saya karena saya pernah mendengar orang-orang Kristen baru-baru ini berkata bahwa mempercayai kedaulatan Allah menghalangi orang-orang Kristen untuk bekerja keras memberantas penyakit seperti malaria, TBC, kanker, dan AIDS. Mereka pikir logikanya seperti ini: Jika Allah secara berdaulat menghendaki segala hal, termasuk malaria, maka kita sedang melawan Allah jika kita menghabiskan jutaan dolar untuk mencari cara memberantasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan logika yang diajarkan Alkitab. Dan itu bukan yang selama ini dipercayai Calvinis. Nyatanya, pencinta kedaulatan Allah ada di antara ilmuwan-ilmuwan yang paling agresif yang membantu menaklukkan ciptaan dan membawanya di bawah kekuasaan manusia bagi kebaikannya—seperti kata Mazmur 8:7, &amp;quot;Engkau membuat dia [manusia] berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logika Alkitab berkata: Bertindaklah menurut &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah, bukan menurut &amp;quot;kehendak ketetapan&amp;quot;-Nya. &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah adalah apa saja yang terjadi. &amp;quot;Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu&amp;quot; (Yakobus 4:15). &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah menentukan Anak-Nya dikhianati (Lukas 22:22), dihina (Yes. 53:3), diolok (Lukas 18:32), disesah (Mat. 20:19), ditinggalkan (Mat. 26:31), ditikam (Yoh. 19:37), dan dibunuh (Markus 9:31). Tapi Alkitab mengajar kita secara gamblang supaya kita ''jangan'' mengkhianati, menghina, mengolok, menyesah, meninggalkan, menikam, atau membunuh orang yang tidak bersalah. Ini adalah &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah. Kita tidak melihat kematian Yesus, yang jelas-jelas dikehendaki Allah, dan lantas menyimpulkan bahwa membunuh Yesus adalah baik dan bahwa kita harus mengikuti para pencemooh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula, kita tidak melihat kerusakan yang ditimbulkan malaria atau AIDS dan menyimpulkan bahwa kita harus mengikuti mereka yang tidak berbuat apa-apa. Tidak. &amp;quot;Kasihilah sesamamu manusia&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 22:39). &amp;quot;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 7:12). &amp;quot;Jika seterumu lapar, berilah dia makan&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Roma 12:20). Bencana-bencana yang ditetapkan Allah tidak bertujuan melumpuhkan umat-Nya dengan ketidakpedulian, tetapi menggerakkan mereka dengan belas kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Paulus mengajarkan bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8:20), ia juga mengajarkan bahwa penaklukan ini adalah &amp;quot;dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah&amp;quot; (ay. 21). Tidak ada alasan mengapa orang-orang Kristen tidak boleh mengejar panggilan untuk mengangkat kesia-siaan ini sekarang. Allah akan menyempurnakannya pada saatnya kelak. Tapi adalah hal yang baik untuk sebisa mungkin mengalahkan sebanyak mungkin penyakit dan penderitaan sekarang dalam nama Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah, saya akan mengibarkan panji sekarang dan memanggil beberapa dari kalian untuk memasuki panggilan riset yang bisa menjadi alat mengatasi penyakit-penyakit besar dalam dunia ini. Ini bukan melawan Allah. Allah berkuasa atas riset sebagaimana Ia berkuasa atas penyakit. Engkau dapat menjadi alat di tangan-Nya. Ini bisa jadi waktunya bagi kemenangan yang dikehendakinya atas penyakit yang Ia tetapkan. Jangan mencoba membaca pikiran Allah dari ketetapan misterius-Nya akan bencana. Lakukan apa yang dikatakan-Nya. Dan apa yang dikatakan-Nya adalah: &amp;quot;Berbuat baik kepada semua orang&amp;quot; (Gal. 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:55:25 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. Jika tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkan kepada saya di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal itu berada. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuat saya bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memuaskan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hati saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan menyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:54:43 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit, Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8 Maret 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah. &amp;quot;Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan&amp;quot; (Yes. 46:10). &amp;quot;TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya&amp;quot; (Mazmur 135:6). &amp;quot;Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: 'Apa yang Kaubuat?'&amp;quot; (Dan. 4:35) &amp;quot;[Ia] di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya&amp;quot; (Efesus 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya Tuhan mengendalikan semua malapetaka dan penyakit. Setan memang nyata dan punya andil di dalamnya, tetapi ia bukan penentu dan tidak dapat melakukan apa pun kecuali yang Tuhan ijinkan (Ayub 1:12-2:10). Dan Tuhan tidak mengijinkan hal-hal secara serampangan. Ia mengijinkan hal-hal dengan alasan. Ada hikmat yang tidak terhingga dalam segala yang Ia kerjakan dan ijinkan. Jadi apa yang Ia ijinkan adalah bagian dari rencana-Nya sama seperti apa yang Ia lakukan secara lebih langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu ini menimbulkan pertanyaan: Jika Tuhan menghendaki penyakit, mengapa kita perlu berusaha memberantasnya? Ini merupakan pertanyaan yang krusial bagi saya karena saya pernah mendengar orang-orang Kristen baru-baru ini berkata bahwa mempercayai kedaulatan Allah menghalangi orang-orang Kristen untuk bekerja keras memberantas penyakit seperti malaria, TBC, kanker, dan AIDS. Mereka pikir logikanya seperti ini: Jika Allah secara berdaulat menghendaki segala hal, termasuk malaria, maka kita sedang melawan Allah jika kita menghabiskan jutaan dolar untuk mencari cara memberantasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan logika yang diajarkan Alkitab. Dan itu bukan yang selama ini dipercayai Calvinis. Nyatanya, pencinta kedaulatan Allah ada di antara ilmuwan-ilmuwan yang paling agresif yang membantu menaklukkan ciptaan dan membawanya di bawah kekuasaan manusia bagi kebaikannya—seperti kata Mazmur 8:7, &amp;quot;Engkau membuat dia [manusia] berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logika Alkitab berkata: Bertindaklah menurut &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah, bukan menurut &amp;quot;kehendak ketetapan&amp;quot;-Nya. &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah adalah apa saja yang terjadi. &amp;quot;Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu&amp;quot; (Yakobus 4:15). &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah menentukan Anak-Nya dikhianati (Lukas 22:22), dihina (Yes. 53:3), diolok (Lukas 18:32), disesah (Mat. 20:19), ditinggalkan (Mat. 26:31), ditikam (Yoh. 19:37), dan dibunuh (Markus 9:31). Tapi Alkitab mengajar kita secara gamblang supaya kita ''jangan'' mengkhianati, menghina, mengolok, menyesah, meninggalkan, menikam, atau membunuh orang yang tidak bersalah. Ini adalah &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah. Kita tidak melihat kematian Yesus, yang jelas-jelas dikehendaki Allah, dan lantas menyimpulkan bahwa membunuh Yesus adalah baik dan bahwa kita harus mengikuti para pencemooh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula, kita tidak melihat kerusakan yang ditimbulkan malaria atau AIDS dan menyimpulkan bahwa kita harus mengikuti mereka yang tidak berbuat apa-apa. Tidak. &amp;quot;Kasihilah sesamamu manusia&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 22:39). &amp;quot;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 7:12). &amp;quot;Jika seterumu lapar, berilah dia makan&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Roma 12:20). Bencana-bencana yang ditetapkan Allah tidak bertujuan melumpuhkan umat-Nya dengan ketidakpedulian, tetapi menggerakkan mereka dengan belas kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Paulus mengajarkan bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8:20), ia juga mengajarkan bahwa penaklukan ini adalah &amp;quot;dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah&amp;quot; (ay. 21). Tidak ada alasan mengapa orang-orang Kristen tidak boleh mengejar panggilan untuk mengangkat kesia-siaan ini sekarang. Allah akan menyempurnakannya pada saatnya kelak. Tapi adalah hal yang baik untuk sebisa mungkin mengalahkan sebanyak mungkin penyakit dan penderitaan sekarang dalam nama Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah, saya akan mengibarkan panji sekarang dan memanggil beberapa dari kalian untuk memasuki panggilan riset yang bisa menjadi alat mengatasi penyakit-penyakit besar dalam dunia ini. Ini bukan melawan Allah. Allah berkuasa atas riset sebagaimana Ia berkuasa atas penyakit. Engkau dapat menjadi alat di tangan-Nya. Ini bisa jadi waktunya bagi kemenangan yang dikehendakinya atas penyakit yang Ia tetapkan. Jangan mencoba membaca pikiran Allah dari ketetapan misterius-Nya akan bencana. Lakukan apa yang dikatakan-Nya. Dan apa yang dikatakan-Nya adalah: &amp;quot;Berbuat baik kepada semua orang&amp;quot; (Gal. 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:45:28 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit, Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8 Maret 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah. &amp;quot;Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan&amp;quot; (Yes. 46:10). &amp;quot;TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya&amp;quot; (Mazmur 135:6). &amp;quot;Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: 'Apa yang Kaubuat?'&amp;quot; (Dan. 4:35) &amp;quot;[Ia] di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya&amp;quot; (Efesus 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya Tuhan mengendalikan semua malapetaka dan penyakit. Setan memang nyata dan punya andil di dalamnya, tetapi ia bukan penentu dan tidak dapat melakukan apa pun kecuali yang Tuhan ijinkan (Ayub 1:12-2:10). Dan Tuhan tidak mengijinkan hal-hal secara serampangan. Ia mengijinkan hal-hal dengan alasan. Ada hikmat yang tidak terhingga dalam segala yang Ia kerjakan dan ijinkan. Jadi apa yang Ia ijinkan adalah bagian dari rencana-Nya sama seperti apa yang Ia lakukan secara lebih langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu ini menimbulkan pertanyaan: Jika Tuhan menghendaki penyakit, mengapa kita perlu berusaha memberantasnya? Ini merupakan pertanyaan yang krusial bagi saya karena saya pernah mendengar orang-orang Kristen baru-baru ini berkata bahwa mempercayai kedaulatan Allah menghalangi orang-orang Kristen untuk bekerja keras memberantas penyakit seperti malaria, TBC, kanker, dan AIDS. Mereka pikir logikanya seperti ini: Jika Allah secara berdaulat menghendaki segala hal, termasuk malaria, maka kita sedang melawan Allah jika kita menghabiskan jutaan dolar untuk mencari cara memberantasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan logika yang diajarkan Alkitab. Dan itu bukan yang selama ini dipercayai Calvinis. Nyatanya, pencinta kedaulatan Allah ada di antara ilmuwan-ilmuwan yang paling agresif yang membantu menaklukkan ciptaan dan membawanya di bawah kekuasaan manusia bagi kebaikannya—seperti kata Mazmur 8:7, &amp;quot;Engkau membuat dia [manusia] berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logika Alkitab berkata: Bertindaklah menurut &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah, bukan menurut &amp;quot;kehendak ketetapan&amp;quot;-Nya. &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah adalah apa saja yang terjadi. &amp;quot;Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu&amp;quot; (Yakobus 4:15). &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah menentukan Anak-Nya dikhianati (Lukas 22:22), dihina (Yes. 53:3), diolok (Lukas 18:32), disesah (Mat. 20:19), ditinggalkan (Mat. 26:31), ditikam (Yoh. 19:37), dan dibunuh (Markus 9:31). Tapi Alkitab mengajar kita secara gamblang supaya kita ''jangan'' mengkhianati, menghina, mengolok, menyesah, meninggalkan, menikam, atau membunuh orang yang tidak bersalah. Ini adalah &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah. Kita tidak melihat kematian Yesus, yang jelas-jelas dikehendaki Allah, dan lantas menyimpulkan bahwa membunuh Yesus adalah baik dan bahwa kita harus mengikuti para pencemooh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula, kita tidak melihat kerusakan yang ditimbulkan malaria atau AIDS dan menyimpulkan bahwa kita harus mengikuti mereka yang tidak berbuat apa-apa. Tidak. &amp;quot;Kasihilah sesamamu manusia&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 22:39). &amp;quot;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 7:12). &amp;quot;Jika seterumu lapar, berilah dia makan&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Roma 12:20). Bencana-bencana yang ditetapkan Allah tidak bertujuan melumpuhkan umat-Nya dengan ketidakpedulian, tetapi menggerakkan mereka dengan belas kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Paulus mengajarkan bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8:20), ia juga mengajarkan bahwa penaklukan ini adalah &amp;quot;dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah&amp;quot; (ay. 21). Tidak alasan mengapa orang-orang Kristen tidak boleh mengejar panggilan untuk mengangkat kesia-siaan ini sekarang. Allah akan menyempurnakannya pada saatnya kelak. Tapi adalah hal yang baik untuk sebisa mungkin mengalahkan sebanyak mungkin penyakit dan penderitaan sekarang dalam nama Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah, saya akan mengibarkan panji sekarang dan memanggil beberapa dari kalian untuk memasuki panggilan riset yang bisa menjadi alat mengatasi penyakit-penyakit besar dalam dunia ini. Ini bukan melawan Allah. Allah berkuasa atas riset sebagaimana Ia berkuasa atas penyakit. Engkau dapat menjadi alat di tangan-Nya. Ini bisa jadi waktunya untuk kemenangan yang dikehendakinya atas penyakit yang Ia tetapkan. Jangan mencoba membaca pikiran Allah dari ketetapan misterius-Nya akan bencana. Lakukan apa yang dikatakan-Nya. Dan apa yang dikatakan-Nya adalah: &amp;quot;Berbuat baik kepada semua orang&amp;quot; (Gal. 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 05:42:02 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. Jika tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkan kepada saya di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal itu berada. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuat saya bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memuaskan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hati saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan menyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:45:32 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memberi makan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hari saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan mennyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:21:09 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawab nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memberi makan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hari saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan mennyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:18:22 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawab nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memberi makan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hari saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan mennyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:16:42 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawab nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memberi makan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hari saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan mennyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:14:09 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Ini dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hari yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawab nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memberi makan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hari saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan mennyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:11:51 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Ini dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hari yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawab nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. JIka tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkanku di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal terdapat. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuatku bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 11:23:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Ini dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hari yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 16:07:01 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Ini dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hari yang baru (Yehezkiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 15:56:04 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Ini dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 15:44:01 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, &amp;quot;If it dies it bears much fruit&amp;quot; (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: &amp;quot;YOU ... HAVE ... DIED&amp;quot; (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, &amp;quot;I have been crucified with Christ&amp;quot; (Gal. 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my &amp;quot;flesh&amp;quot; died. &amp;quot;Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does &amp;quot;flesh&amp;quot; mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The &amp;quot;works of the flesh&amp;quot; are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, &amp;quot;The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 11:54:48 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
March 8, 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This question arises from the biblical teaching that all things are ultimately under God’s control. “My counsel shall stand, and I will accomplish all my purpose” (Isaiah 46:10). “Whatever the Lord pleases, he does, in heaven and on earth, in the seas and all deeps” (Psalm 135:6). “He does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; and none can stay his hand or say to him, ‘What have you done?’” (Daniel 4:35). “[He] works all things according to the counsel of his will” (Ephesians 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This means that God governs all calamity and all disease. Satan is real and has a hand in it, but he is not ultimate and can do nothing but what God permits (Job 1:12-2:10). And God does not permit things willy-nilly. He permits things for a reason. There is infinite wisdom in all he does and all he permits. So what he permits is part of his plan just as much as what he does more directly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore this raises the question: If God wills disease why should we try to eradicate it? This is a crucial question for me because I have heard Christians say recently that believing in the sovereignty of God hinders Christians from working hard to eradicate diseases like malaria and tuberculosis and cancer and AIDS. They think the logic goes like this: If God sovereignly wills all things, including malaria, then we would be striving against God to invest millions of dollars to find a way to wipe it out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That is not the logic the Bible teaches. And it is not what Calvinists have historically believed. In fact, lovers of God’s sovereignty have been among the most aggressive scientists who have helped subdue creation and bring it under the dominion of man for his good—just like Psalm 8:6 says, “You have given him [man] dominion over the works of your hands; you have put all things under his feet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The logic of the Bible says: Act according to God’s “will of command,” not according to his “will of decree.” God’s “will of decree” is whatever comes to pass. “If the Lord wills, we will live and do this or that” (James 4:15). God’s “will of decree” ordained that his Son be betrayed (Luke 22:22), ridiculed (Isaiah 53:3), mocked (Luke 18:32), flogged (Matthew 20:19), forsaken (Matthew 26:31), pierced (John 19:37), and killed (Mark 9:31). But the Bible teaches us plainly that we should ''not'' betray, ridicule, mock, flog, forsake, pierce, or kill innocent people. That is God’s “will of command.” We do not look at the death of Jesus, clearly willed by God, and conclude that killing Jesus is good and that we should join the mockers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the same way, we do not look at the devastation of malaria or AIDS and conclude that we should join the ranks of the indifferent. No. “Love your neighbor” is God’s will of command (Matthew 22:39). “Do unto others as you would have them do unto you” is God’s will of command (Matthew 7:12). “If your enemy is hungry, feed him” is God’s will of command (Romans 12:20). The disasters that God ordains are not aimed at paralyzing his people with indifference, but mobilizing them with compassion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Paul taught that the creation was subjected to futility (Romans 8:20), he also taught that this subjection was “in hope that the creation itself will be set free from its bondage to decay and obtain the freedom of the glory of the children of God” (v. 21). There is no reason that Christians should not embrace this futility-lifting calling now. God will complete it in the age to come. But it is a good thing to conquer as much disease and suffering now in the name of Christ as we can.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In fact, I would wave the banner right now and call some of you to enter vocations of research that may be the means of undoing some of the great diseases of the world. This is not fighting against God. God is as much in charge of the research as he is of the disease. You can be an instrument in his hand. This may be the time appointed for the triumph that he wills to bring over the disease that he ordained. Don’t try to read the mind of God from his mysterious decrees of calamity. Do what he says. And what he says is: “Do good to everyone” (Galatians 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 11:54:16 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
March 8, 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This question arises from the biblical teaching that all things are ultimately under God’s control. “My counsel shall stand, and I will accomplish all my purpose” (Isaiah 46:10). “Whatever the Lord pleases, he does, in heaven and on earth, in the seas and all deeps” (Psalm 135:6). “He does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; and none can stay his hand or say to him, ‘What have you done?’” (Daniel 4:35). “[He] works all things according to the counsel of his will” (Ephesians 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This means that God governs all calamity and all disease. Satan is real and has a hand in it, but he is not ultimate and can do nothing but what God permits (Job 1:12-2:10). And God does not permit things willy-nilly. He permits things for a reason. There is infinite wisdom in all he does and all he permits. So what he permits is part of his plan just as much as what he does more directly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore this raises the question: If God wills disease why should we try to eradicate it? This is a crucial question for me because I have heard Christians say recently that believing in the sovereignty of God hinders Christians from working hard to eradicate diseases like malaria and tuberculosis and cancer and AIDS. They think the logic goes like this: If God sovereignly wills all things, including malaria, then we would be striving against God to invest millions of dollars to find a way to wipe it out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That is not the logic the Bible teaches. And it is not what Calvinists have historically believed. In fact, lovers of God’s sovereignty have been among the most aggressive scientists who have helped subdue creation and bring it under the dominion of man for his good—just like Psalm 8:6 says, “You have given him [man] dominion over the works of your hands; you have put all things under his feet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The logic of the Bible says: Act according to God’s “will of command,” not according to his “will of decree.” God’s “will of decree” is whatever comes to pass. “If the Lord wills, we will live and do this or that” (James 4:15). God’s “will of decree” ordained that his Son be betrayed (Luke 22:22), ridiculed (Isaiah 53:3), mocked (Luke 18:32), flogged (Matthew 20:19), forsaken (Matthew 26:31), pierced (John 19:37), and killed (Mark 9:31). But the Bible teaches us plainly that we should ''not'' betray, ridicule, mock, flog, forsake, pierce, or kill innocent people. That is God’s “will of command.” We do not look at the death of Jesus, clearly willed by God, and conclude that killing Jesus is good and that we should join the mockers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the same way, we do not look at the devastation of malaria or AIDS and conclude that we should join the ranks of the indifferent. No. “Love your neighbor” is God’s will of command (Matthew 22:39). “Do unto others as you would have them do unto you” is God’s will of command (Matthew 7:12). “If your enemy is hungry, feed him” is God’s will of command (Romans 12:20). The disasters that God ordains are not aimed at paralyzing his people with indifference, but mobilizing them with compassion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Paul taught that the creation was subjected to futility (Romans 8:20), he also taught that this subjection was “in hope that the creation itself will be set free from its bondage to decay and obtain the freedom of the glory of the children of God” (v. 21). There is no reason that Christians should not embrace this futility-lifting calling now. God will complete it in the age to come. But it is a good thing to conquer as much disease and suffering now in the name of Christ as we can.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In fact, I would wave the banner right now and call some of you to enter vocations of research that may be the means of undoing some of the great diseases of the world. This is not fighting against God. God is as much in charge of the research as he is of the disease. You can be an instrument in his hand. This may be the time appointed for the triumph that he wills to bring over the disease that he ordained. Don’t try to read the mind of God from his mysterious decrees of calamity. Do what he says. And what he says is: “Do good to everyone” (Galatians 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 11:53:37 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Kurniawana}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, &amp;quot;If it dies it bears much fruit&amp;quot; (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: &amp;quot;YOU ... HAVE ... DIED&amp;quot; (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, &amp;quot;I have been crucified with Christ&amp;quot; (Gal. 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my &amp;quot;flesh&amp;quot; died. &amp;quot;Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does &amp;quot;flesh&amp;quot; mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The &amp;quot;works of the flesh&amp;quot; are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, &amp;quot;The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 11:35:53 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{InProcess|user=Adi Kurniawan}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, &amp;quot;If it dies it bears much fruit&amp;quot; (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: &amp;quot;YOU ... HAVE ... DIED&amp;quot; (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, &amp;quot;I have been crucified with Christ&amp;quot; (Gal. 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my &amp;quot;flesh&amp;quot; died. &amp;quot;Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does &amp;quot;flesh&amp;quot; mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The &amp;quot;works of the flesh&amp;quot; are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, &amp;quot;The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 11:02:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, &amp;quot;If it dies it bears much fruit&amp;quot; (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: &amp;quot;YOU ... HAVE ... DIED&amp;quot; (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, &amp;quot;I have been crucified with Christ&amp;quot; (Gal. 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my &amp;quot;flesh&amp;quot; died. &amp;quot;Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does &amp;quot;flesh&amp;quot; mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The &amp;quot;works of the flesh&amp;quot; are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, &amp;quot;The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 01:55:30 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1 }}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
March 8, 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This question arises from the biblical teaching that all things are ultimately under God’s control. “My counsel shall stand, and I will accomplish all my purpose” (Isaiah 46:10). “Whatever the Lord pleases, he does, in heaven and on earth, in the seas and all deeps” (Psalm 135:6). “He does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; and none can stay his hand or say to him, ‘What have you done?’” (Daniel 4:35). “[He] works all things according to the counsel of his will” (Ephesians 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This means that God governs all calamity and all disease. Satan is real and has a hand in it, but he is not ultimate and can do nothing but what God permits (Job 1:12-2:10). And God does not permit things willy-nilly. He permits things for a reason. There is infinite wisdom in all he does and all he permits. So what he permits is part of his plan just as much as what he does more directly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore this raises the question: If God wills disease why should we try to eradicate it? This is a crucial question for me because I have heard Christians say recently that believing in the sovereignty of God hinders Christians from working hard to eradicate diseases like malaria and tuberculosis and cancer and AIDS. They think the logic goes like this: If God sovereignly wills all things, including malaria, then we would be striving against God to invest millions of dollars to find a way to wipe it out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That is not the logic the Bible teaches. And it is not what Calvinists have historically believed. In fact, lovers of God’s sovereignty have been among the most aggressive scientists who have helped subdue creation and bring it under the dominion of man for his good—just like Psalm 8:6 says, “You have given him [man] dominion over the works of your hands; you have put all things under his feet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The logic of the Bible says: Act according to God’s “will of command,” not according to his “will of decree.” God’s “will of decree” is whatever comes to pass. “If the Lord wills, we will live and do this or that” (James 4:15). God’s “will of decree” ordained that his Son be betrayed (Luke 22:22), ridiculed (Isaiah 53:3), mocked (Luke 18:32), flogged (Matthew 20:19), forsaken (Matthew 26:31), pierced (John 19:37), and killed (Mark 9:31). But the Bible teaches us plainly that we should ''not'' betray, ridicule, mock, flog, forsake, pierce, or kill innocent people. That is God’s “will of command.” We do not look at the death of Jesus, clearly willed by God, and conclude that killing Jesus is good and that we should join the mockers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the same way, we do not look at the devastation of malaria or AIDS and conclude that we should join the ranks of the indifferent. No. “Love your neighbor” is God’s will of command (Matthew 22:39). “Do unto others as you would have them do unto you” is God’s will of command (Matthew 7:12). “If your enemy is hungry, feed him” is God’s will of command (Romans 12:20). The disasters that God ordains are not aimed at paralyzing his people with indifference, but mobilizing them with compassion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Paul taught that the creation was subjected to futility (Romans 8:20), he also taught that this subjection was “in hope that the creation itself will be set free from its bondage to decay and obtain the freedom of the glory of the children of God” (v. 21). There is no reason that Christians should not embrace this futility-lifting calling now. God will complete it in the age to come. But it is a good thing to conquer as much disease and suffering now in the name of Christ as we can.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In fact, I would wave the banner right now and call some of you to enter vocations of research that may be the means of undoing some of the great diseases of the world. This is not fighting against God. God is as much in charge of the research as he is of the disease. You can be an instrument in his hand. This may be the time appointed for the triumph that he wills to bring over the disease that he ordained. Don’t try to read the mind of God from his mysterious decrees of calamity. Do what he says. And what he says is: “Do good to everyone” (Galatians 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 01:52:17 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels=&amp;amp;nbsp;1&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;&amp;lt;/noinclude&amp;gt; }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
March 8, 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This question arises from the biblical teaching that all things are ultimately under God’s control. “My counsel shall stand, and I will accomplish all my purpose” (Isaiah 46:10). “Whatever the Lord pleases, he does, in heaven and on earth, in the seas and all deeps” (Psalm 135:6). “He does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; and none can stay his hand or say to him, ‘What have you done?’” (Daniel 4:35). “[He] works all things according to the counsel of his will” (Ephesians 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This means that God governs all calamity and all disease. Satan is real and has a hand in it, but he is not ultimate and can do nothing but what God permits (Job 1:12-2:10). And God does not permit things willy-nilly. He permits things for a reason. There is infinite wisdom in all he does and all he permits. So what he permits is part of his plan just as much as what he does more directly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore this raises the question: If God wills disease why should we try to eradicate it? This is a crucial question for me because I have heard Christians say recently that believing in the sovereignty of God hinders Christians from working hard to eradicate diseases like malaria and tuberculosis and cancer and AIDS. They think the logic goes like this: If God sovereignly wills all things, including malaria, then we would be striving against God to invest millions of dollars to find a way to wipe it out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That is not the logic the Bible teaches. And it is not what Calvinists have historically believed. In fact, lovers of God’s sovereignty have been among the most aggressive scientists who have helped subdue creation and bring it under the dominion of man for his good—just like Psalm 8:6 says, “You have given him [man] dominion over the works of your hands; you have put all things under his feet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The logic of the Bible says: Act according to God’s “will of command,” not according to his “will of decree.” God’s “will of decree” is whatever comes to pass. “If the Lord wills, we will live and do this or that” (James 4:15). God’s “will of decree” ordained that his Son be betrayed (Luke 22:22), ridiculed (Isaiah 53:3), mocked (Luke 18:32), flogged (Matthew 20:19), forsaken (Matthew 26:31), pierced (John 19:37), and killed (Mark 9:31). But the Bible teaches us plainly that we should ''not'' betray, ridicule, mock, flog, forsake, pierce, or kill innocent people. That is God’s “will of command.” We do not look at the death of Jesus, clearly willed by God, and conclude that killing Jesus is good and that we should join the mockers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the same way, we do not look at the devastation of malaria or AIDS and conclude that we should join the ranks of the indifferent. No. “Love your neighbor” is God’s will of command (Matthew 22:39). “Do unto others as you would have them do unto you” is God’s will of command (Matthew 7:12). “If your enemy is hungry, feed him” is God’s will of command (Romans 12:20). The disasters that God ordains are not aimed at paralyzing his people with indifference, but mobilizing them with compassion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Paul taught that the creation was subjected to futility (Romans 8:20), he also taught that this subjection was “in hope that the creation itself will be set free from its bondage to decay and obtain the freedom of the glory of the children of God” (v. 21). There is no reason that Christians should not embrace this futility-lifting calling now. God will complete it in the age to come. But it is a good thing to conquer as much disease and suffering now in the name of Christ as we can.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In fact, I would wave the banner right now and call some of you to enter vocations of research that may be the means of undoing some of the great diseases of the world. This is not fighting against God. God is as much in charge of the research as he is of the disease. You can be an instrument in his hand. This may be the time appointed for the triumph that he wills to bring over the disease that he ordained. Don’t try to read the mind of God from his mysterious decrees of calamity. Do what he says. And what he says is: “Do good to everyone” (Galatians 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 01:50:29 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>How Dead People Do Battle with Sin/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: {{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Articl...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 1 January 1995 |other= |categorytopic= Sanctification and Growth |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 1}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carved in the bark of every tree in the garden of God are the words, &amp;quot;If it dies it bears much fruit&amp;quot; (John 12:24). Three words are branded into the flesh of every Christian: &amp;quot;YOU ... HAVE ... DIED&amp;quot; (Col. 3:3). And the heartfelt confession of every believer is, &amp;quot;I have been crucified with Christ&amp;quot; (Gal. 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does this mean? Who died when I became a Christian? Answer: my &amp;quot;flesh&amp;quot; died. &amp;quot;Those who belong to Christ Jesus have crucified THE FLESH&amp;quot; (Gal. 5:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But what does &amp;quot;flesh&amp;quot; mean? Not my skin. Not my body. That can be an instrument of righteousness (Rom. 6:13). The &amp;quot;works of the flesh&amp;quot; are things like idolatry and strife, and anger and envy (Gal. 5:20f.) —attitudes, not just immoral acts of the body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The closest thing to a Biblical definition of the flesh is Romans 8:7-8, &amp;quot;The mind that is set on the flesh is hostile to God; it does not submit to God's law, indeed it cannot; and those who are in the flesh cannot please God.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So the flesh is the old &amp;quot;me&amp;quot; who used to rebel against God. In the flesh I was hostile and insubordinate. I hated the thought of admitting I was sick with sin. I defied the idea that my greatest need was a Good Physician to make me well. In the flesh I trusted my wisdom not God's. So nothing I did in the flesh could please God, because &amp;quot;without faith it is impossible to please God&amp;quot; (Heb. 11:6). And the flesh does nothing from faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So &amp;quot;the flesh&amp;quot; is the old self-reliant, faithless me. This is what died when God saved me. God clamped the arteries on my old unbelieving heart of stone. Ana when it died He took it out and gave me a new heart (Ezekiel 36:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'What's the difference between this new heart that lives and -the old one that died?- The answer is given in Galatians 2:20. It says, &amp;quot;I have been crucified with Christ. . . and the life I now live, I LIVE BY FAITH in the Son of God who loved me and gave himself for me.&amp;quot; The old heart that died trusted in itself; the new heart banks on Christ every day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the answer to our first question: How do dead people do battle with sin? They do battle with sin by trusting the Son of God. They are dead to Satan's lie, which goes like this: 'You will be happier if you trust your own ideas about how to be happy instead of trusting the counsel and the promises of Christ.&amp;quot; Christians have died to that deceit. So the way they fight Satan is by trusting that the paths and promises of Christ are better than Satan's.-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This way of doing battle with sin is called the &amp;quot;fight of (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). The victories of this fight are called the &amp;quot;works of '(1 Thess. 1:3; 2 Thess. 1:11). And in this warfare Christians &amp;quot;become holy by faith&amp;quot; (Acts 26:18; 2 Thess 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let's think then about this fight of faith. It is not like war games with rubber bullets. Eternity is at stake. Romans 8:13 is a key verse: &amp;quot;If you live according to the flesh you will die, but if by the Spirit you put to death the deeds of the body you will live.&amp;quot; This is written to professing Christians, and the point is that our eternal life hangs on our battle with sin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It does not mean that we earn eternal life by killing sin. No, it is &amp;quot;by the Spirit&amp;quot; that we fight. He will get the glory, not us. Nor does Romans 8:13 mean that we fight with an anxious sense of uncertainty about winning. On the contrary, even as we fight we have confidence that &amp;quot;He who began a good work in us will complete it at the day of Jesus Christ&amp;quot; (Phil. 1:6). Nor does Romans 8:13 mean that we must be perfect now in our victory over sin. Paul renounces the claim to perfection (Phil. 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The demand in Romans 8:13 is not sinlessness but mortal combat with sin. This is utterly essential in the Christian life. Otherwise we give no evidence that the flesh has been crucified. And if the flesh has not been crucified we do not belong to Christ (Gal. 5:24). The stakes in this battle are very high. We are not playing war games. The outcome is heaven or hell.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
How then do dead people &amp;quot;put to death the (sinful) deeds of the body&amp;quot;? We have answered, &amp;quot;By faith!&amp;quot; But just what does this mean? How do you fight sin with faith?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suppose I am tempted to lust. Some sexual image pops into my brain and beckons me to pursue it. The way this temptation gets its power is by persuading me to believe that I will be happier if I follow it. The power of all temptation is the prospect that it will make me happier. No one sins out of a sense of duty when what they really want is to do right.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So what should I do? Some people would say, &amp;quot;Remember God's command to be holy (1 Peter 1:16) and exercise your will to obey because he is God!&amp;quot; But something crucial is missing from this advice, namely, FAITH. A lot of people strive for moral improvement who cannot say, &amp;quot;The life I live I live BY FAITH&amp;quot; (Gal. 2:20). A lot of people try to love who don't realize that, &amp;quot;What counts is FAITH working through love&amp;quot; (Gal. 5:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight against lust (or greed or fear or any other temptation) is a fight of faith. Otherwise the result is legalism. I'll try to explain how we fight sin with faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When the temptation to lust comes, Romans 8:13 says, &amp;quot;If you kill it by the Spirit you win live.&amp;quot; By the Spirit! What does that mean? Out of all the armor God gives us to fight Satan, only one piece . used for killing—the sword. It is called the sword OF THE SPIRIT (Eph. 6:17). So when Paul says, &amp;quot;Kill sin by the Spirit,&amp;quot; I take that to mean, Depend on the Spirit, especially his sword.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What is the sword of the Spirit? It's the Word of God (Eph. 6:17). Here's where faith comes in. &amp;quot;Faith comes by hearing and hearing by the Word of God&amp;quot; (Romans 10:17). The Word of God cuts through the fog of Satan's lies and shows me where true and lasting happiness is to be found. And so the Word helps me stop trusting in the potential of sin to make me happy, and in stead entices me to trust in God's promise of joy (Psalm 16:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I wonder how many believers today realize that faith is not merely believing that Christ died for our sins. Faith is also being confident that His way is better than sin. His will is more wise. His help is more sure. His promises more precious. And his reward more satisfying. Faith begins with a backward look at the cross, but it lives with a forward look at the promises. Abraham grew strong in his FAITH ... fully convinced that God was able to do what He had PROMISED&amp;quot; (Rom. 4:20f.). &amp;quot;Faith is the assurance of things HOPED for&amp;quot; (Heb. 11:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When faith has the upper hand in my heart I am satisfied with Christ and his promises. This is what Jesus meant when he said, &amp;quot;He who BELIEVES in me shall NEVER THIRST&amp;quot; (John 6:35). If my thirst for joy and-meaning and passion are satisfied by the presence and promises of Christ, the power of sin is broken. We do not yield to the offer of sandwich meat when we can see the steak sizzling on the grill.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The fight of faith is the fight to stay satisfied with God. &amp;quot;By faith Moses. . . forsook the fleeting pleasures of sin ... He looked to the reward&amp;quot; (Heb. 11:24-26). Faith is not content with &amp;quot;fleeting pleasures.&amp;quot; It is ravenous for joy. And the Word of God says, &amp;quot;In God's presence is fullness of joy, and in his right hand are pleasures for evermore&amp;quot; (Psalm 16:11). So faith will not be sidetracked into sin. It will not give up so easily in its quest for maximum joy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The role of God's Word is to feed faith's appetite for God. And in doing this it weans my heart away from the deceptive taste of lust. At first lust begins to trick me into feeling that I would really miss out on some great satisfaction if I followed the path of purity. But then I take up the sword of the Spirit and begin to fight. I read that it is better to gouge out my eye than to lust (Matt. 5:29). I read that if I think about things that are pure and lovely and excellent the peace of God will be with me (Phil. 4:8f.). I read that setting the mind on the flesh brings death, but setting the mind on the Spirit brings life and peace (Rom. 8:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And as I pray for my faith to be satisfied with God's life and peace, the sword of the Spirit carves the sugar coating off the poison of lust. I see it-for what it is. And by the grace of God, its alluring power is broken.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is the way dead people do battle with sin. This is what it means to be a Christian. We are dead in the sense that the old unbelieving self (the flesh) has died. In its place there is a new creation. What makes it new is FAITH. Not just a backward-looking belief in the death of Jesus, but a forward-looking belief in the promises of Jesus. Not just being sure of what he did do, but also being satisfied with what he will do.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
With all eternity hanging in the balance, we fight the fight of faith. Our chief enemy is the Lie that says sin will make our future happier. Our chief weapon is the Truth that says God will make our future happier. And faith is the victory that overcomes the lie, because faith is satisfied with God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The challenge before us then is not merely to do what God says because He is God, but to desire what God says because he is good. The challenge is not merely to pursue righteousness, but to prefer righteousness. The challenge is to get up in the morning and prayerfully meditate on the Scriptures until we experience joy and peace in believing &amp;quot;the precious and very great promises&amp;quot; of God (Rom. 15:13; 2 Peter 1:4). With this joy set before us the commandments of God will not be burdensome (1 John 5:3) and the compensation of sin will appear too brief and too shallow to lure us.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 01:47:32 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:How_Dead_People_Do_Battle_with_Sin/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>User talk:Kurniawana</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/User_talk:Kurniawana</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: Test&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hi, I am testing my talk page.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Test ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Another test.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 15:50:00 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/User_talk:Kurniawana</comments>		</item>
		<item>
			<title>User talk:Kurniawana</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/User_talk:Kurniawana</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: Hi, I am testing my talk page.&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hi, I am testing my talk page.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 15:49:18 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/User_talk:Kurniawana</comments>		</item>
		<item>
			<title>If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: New page: &amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= ...&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 8 March 2006 |other= |categorytopic= The Sovereignty of God |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Jika Tuhan Menghendaki Penyakit Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya? ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
March 8, 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This question arises from the biblical teaching that all things are ultimately under God’s control. “My counsel shall stand, and I will accomplish all my purpose” (Isaiah 46:10). “Whatever the Lord pleases, he does, in heaven and on earth, in the seas and all deeps” (Psalm 135:6). “He does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; and none can stay his hand or say to him, ‘What have you done?’” (Daniel 4:35). “[He] works all things according to the counsel of his will” (Ephesians 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This means that God governs all calamity and all disease. Satan is real and has a hand in it, but he is not ultimate and can do nothing but what God permits (Job 1:12-2:10). And God does not permit things willy-nilly. He permits things for a reason. There is infinite wisdom in all he does and all he permits. So what he permits is part of his plan just as much as what he does more directly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore this raises the question: If God wills disease why should we try to eradicate it? This is a crucial question for me because I have heard Christians say recently that believing in the sovereignty of God hinders Christians from working hard to eradicate diseases like malaria and tuberculosis and cancer and AIDS. They think the logic goes like this: If God sovereignly wills all things, including malaria, then we would be striving against God to invest millions of dollars to find a way to wipe it out.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That is not the logic the Bible teaches. And it is not what Calvinists have historically believed. In fact, lovers of God’s sovereignty have been among the most aggressive scientists who have helped subdue creation and bring it under the dominion of man for his good—just like Psalm 8:6 says, “You have given him [man] dominion over the works of your hands; you have put all things under his feet.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The logic of the Bible says: Act according to God’s “will of command,” not according to his “will of decree.” God’s “will of decree” is whatever comes to pass. “If the Lord wills, we will live and do this or that” (James 4:15). God’s “will of decree” ordained that his Son be betrayed (Luke 22:22), ridiculed (Isaiah 53:3), mocked (Luke 18:32), flogged (Matthew 20:19), forsaken (Matthew 26:31), pierced (John 19:37), and killed (Mark 9:31). But the Bible teaches us plainly that we should ''not'' betray, ridicule, mock, flog, forsake, pierce, or kill innocent people. That is God’s “will of command.” We do not look at the death of Jesus, clearly willed by God, and conclude that killing Jesus is good and that we should join the mockers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the same way, we do not look at the devastation of malaria or AIDS and conclude that we should join the ranks of the indifferent. No. “Love your neighbor” is God’s will of command (Matthew 22:39). “Do unto others as you would have them do unto you” is God’s will of command (Matthew 7:12). “If your enemy is hungry, feed him” is God’s will of command (Romans 12:20). The disasters that God ordains are not aimed at paralyzing his people with indifference, but mobilizing them with compassion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When Paul taught that the creation was subjected to futility (Romans 8:20), he also taught that this subjection was “in hope that the creation itself will be set free from its bondage to decay and obtain the freedom of the glory of the children of God” (v. 21). There is no reason that Christians should not embrace this futility-lifting calling now. God will complete it in the age to come. But it is a good thing to conquer as much disease and suffering now in the name of Christ as we can.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In fact, I would wave the banner right now and call some of you to enter vocations of research that may be the means of undoing some of the great diseases of the world. This is not fighting against God. God is as much in charge of the research as he is of the disease. You can be an instrument in his hand. This may be the time appointed for the triumph that he wills to bring over the disease that he ordained. Don’t try to read the mind of God from his mysterious decrees of calamity. Do what he says. And what he says is: “Do good to everyone” (Galatians 6:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 15:38:34 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:If_God_Wills_Disease,_Why_Should_We_Try_to_Eradicate_It%3F/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven and Hell |mediatype= Article |lang= English |editor= n/a |translator= Adi Kurniawan |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== &amp;quot;Seluruh Umat Manusia Akan Datang untuk Sujud Menyembah&amp;quot; ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kecuali Mereka &amp;quot;Yang di Luar&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang untuk mempercayai universalisme—kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya untuk mempercayai anihilasionisme—kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab tentang kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya [''eis aiōnas aiōnōn''], dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, akan menolong jika kita menemukan bagian Alkitab yang menjelaskan bagaimana kebenaran-kebenaran Alkitab yang paling menyedihkan ini dapat berdiri bersama-sama kalimat-kalimat yang menyatakan penebusan Allah yang menyeluruh. Pertimbangkan satu contoh: Yesaya 66:22-24. Pertama, perhatikan bahwa Yesaya berkata (dalam ayat 22-23) bahwa harinya akan tiba ketika &amp;quot;seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah&amp;quot; Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan semacam ini membuat kita bingung tentang hukuman kekal atas sebagian manusia. Kalau &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan menyembah Tuhan, lalu siapa sisanya yang tidak menyembah Tuhan? Betapa kita harus berhati-hati di bagian-bagian seperti ini ketika kita membaca Alkitab! Kita harus bertanya: Apakah aku mengerti dengan jelas apa yang dimaksud Yesaya-dan Tuhan-dengan istilah &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot;? Sepertinya ini berarti seluruh manusia, tapi apakah benar demikian? Ayat berikutnya mengejutkan kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kita dibawa kembali dari ide kita yang salah tentang &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot; Kita kira itu berarti &amp;quot;seluruh manusia yang ada di alam semesta,&amp;quot; tetapi Tuhan berkata, Bukan, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan memandangi sebagian umat manusia yang ada dalam siksaan karena mereka &amp;quot;memberontak kepada-Ku.&amp;quot; Karena itu, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; tidak termasuk mereka yang yang dipandangi oleh &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebutkan ini sebagai contoh bagaimana Alkitab kadang-kadang berbicara tentang karya Allah dalam penebusan. Tuhan mengerjakan pekerjaan penebusan global—suatu karya universal—yang meliputi seluruh ras, bangsa, suku bangsa, bahasa, kelas, dan umur. Ketika Ia menyelesaikan karya keselamatan-Nya, semuanya akan lengkap. Akan ada umat manusia yang baru dengan Adam kedua sebagai kepalanya (1 Korintus 15:22, 45). Mereka yang &amp;quot;memberontak&amp;quot; kepada karya penebusan Kristus, akan berada di luar &amp;quot;seluruh&amp;quot; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena itulah Yesus merujuk beberapa kali ke Yesaya 66:24 ketika memperingatkan kita tentang neraka. Ia berkata bahwa mereka yang membuang firman-Nya dibuang ke neraka di mana &amp;quot;api tidak padam&amp;quot; dan dibuang ke dalam &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. (Markus 9:47,48)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:12; bdk. 22:13, 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun selain Yesus menggunakan istilah &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot; Inikah cara Yesus mengatakan: Ketika pekerjaan penebusan-Ku telah selesai, dan dunia yang baru secara genap didirikan(bdk.&amp;amp;nbsp;''paliggenesia'', Matius 19:28), kepenuhan &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan ada di sana—segenap umat manusia yang baru dengan segala kelengkapannya yang mulia dalam Kristus—dan mereka yang telah menolak kerajaan akan berada &amp;quot;di luar&amp;quot;? Mereka tidak akan punya keberadaan dalam dunia yang baru. Keberadaan mereka dan tangisan mereka dan kertakan gigi mereka akan berada dalam dimensi realita yang lain. Karena itu, mereka tidak akan sedikit pun mengurangi arti kelengkapan dan keutuhan dan kepenuhan sorga dan bumi yang baru di mana segalanya merupakan terang dan damai sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya selesai membaca dan merenungkan hal-hal ini, saya berdoa, &amp;quot;O Tuhan, tolong aku untuk merasakan besarnya dosaku. Tolong aku untuk merasa tidak layak akan kasih karunia-Mu. Tolong aku untuk gentar akan kebenaran neraka. Tanggalkan dari padaku segala pemikiran yang sombong, segala kepandaian yang meninggikan diri sendiri, segala kerutinan yang sia-sia, yang semuanya demi menyenangkan manusia dari mimbar-Mu yang kudus. Bukalah mata dan hatiku untuk melihat dan merasakan keajaiban anugerah keselamatan, dan nilai yang tidak terhingga dari Kristus dan ketaatan-Nya yang dimotivasi kasih, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Terima kasih, Bapa. Terima kasih. Berapa pun harganya, buatlah aku sebagai alat keselamatan-Mu yang besar. Dalam nama Yesus. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri dekat jurang, aman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 15:32:02 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven &amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hell |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Kurniawana |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;quot;Seluruh Umat Manusia Akan Datang untuk Sujud Menyembah&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kecuali Mereka &amp;quot;Yang di Luar&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang untuk mempercayai universalisme—kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya untuk mempercayai anihilasionisme—kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab tentang kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya [''eis aiōnas aiōnōn''], dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, akan menolong jika kita menemukan bagian Alkitab yang menjelaskan bagaimana kebenaran-kebenaran Alkitab yang paling menyedihkan ini dapat berdiri bersama-sama kalimat-kalimat yang menyatakan penebusan Allah yang menyeluruh. Pertimbangkan satu contoh: Yesaya 66:22-24. Pertama, perhatikan bahwa Yesaya berkata (dalam ayat 22-23) bahwa harinya akan tiba ketika &amp;quot;seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah&amp;quot; Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan semacam ini membuat kita bingung tentang hukuman kekal atas sebagian manusia. Kalau &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan menyembah Tuhan, lalu siapa sisanya yang tidak menyembah Tuhan? Betapa kita harus berhati-hati di bagian-bagian seperti ini ketika kita membaca Alkitab! Kita harus bertanya: Apakah aku mengerti dengan jelas apa yang dimaksud Yesaya-dan Tuhan-dengan istilah &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot;? Sepertinya ini berarti seluruh manusia, tapi apakah benar demikian? Ayat berikutnya mengejutkan kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kita dibawa kembali dari ide kita yang salah tentang &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot; Kita kira itu berarti &amp;quot;seluruh manusia yang ada di alam semesta,&amp;quot; tetapi Tuhan berkata, Bukan, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan memandangi sebagian umat manusia yang ada dalam siksaan karena mereka &amp;quot;memberontak kepada-Ku.&amp;quot; Karena itu, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; tidak termasuk mereka yang yang dipandangi oleh &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebutkan ini sebagai contoh bagaimana Alkitab kadang-kadang berbicara tentang karya Allah dalam penebusan. Tuhan mengerjakan pekerjaan penebusan global—suatu karya universal—yang meliputi seluruh ras, bangsa, suku bangsa, bahasa, kelas, dan umur. Ketika Ia menyelesaikan karya keselamatan-Nya, semuanya akan lengkap. Akan ada umat manusia yang baru dengan Adam kedua sebagai kepalanya (1 Korintus 15:22, 45). Mereka yang &amp;quot;memberontak&amp;quot; kepada karya penebusan Kristus, akan berada di luar &amp;quot;seluruh&amp;quot; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena itulah Yesus merujuk beberapa kali ke Yesaya 66:24 ketika memperingatkan kita tentang neraka. Ia berkata bahwa mereka yang membuang firman-Nya dibuang ke neraka di mana &amp;quot;api tidak padam&amp;quot; dan dibuang ke dalam &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. (Markus 9:47,48)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:12; bdk. 22:13, 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun selain Yesus menggunakan istilah &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot; Inikah cara Yesus mengatakan: Ketika pekerjaan penebusan-Ku telah selesai, dan dunia yang baru secara genap didirikan(bdk.&amp;amp;nbsp;''paliggenesia'', Matius 19:28), kepenuhan &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan ada di sana—segenap umat manusia yang baru dengan segala kelengkapannya yang mulia dalam Kristus—dan mereka yang telah menolak kerajaan akan berada &amp;quot;di luar&amp;quot;? Mereka tidak akan punya keberadaan dalam dunia yang baru. Keberadaan mereka dan tangisan mereka dan kertakan gigi mereka akan berada dalam dimensi realita yang lain. Karena itu, mereka tidak akan sedikit pun mengurangi arti kelengkapan dan keutuhan dan kepenuhan sorga dan bumi yang baru di mana segalanya merupakan terang dan damai sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya selesai membaca dan merenungkan hal-hal ini, saya berdoa, &amp;quot;O Tuhan, tolong aku untuk merasakan besarnya dosaku. Tolong aku untuk merasa tidak layak akan kasih karunia-Mu. Tolong aku untuk gentar akan kebenaran neraka. Tanggalkan dari padaku segala pemikiran yang sombong, segala kepandaian yang meninggikan diri sendiri, segala kerutinan yang sia-sia, yang semuanya demi menyenangkan manusia dari mimbar-Mu yang kudus. Bukalah mata dan hatiku untuk melihat dan merasakan keajaiban anugerah keselamatan, dan nilai yang tidak terhingga dari Kristus dan ketaatan-Nya yang dimotivasi kasih, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Terima kasih, Bapa. Terima kasih. Berapa pun harganya, buatlah aku sebagai alat keselamatan-Mu yang besar. Dalam nama Yesus. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri dekat jurang, aman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 14:55:38 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven &amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hell |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Kurniawana |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;quot;Seluruh Umat Manusia Akan Datang untuk Sujud Menyembah&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kecuali Mereka &amp;quot;Yang di Luar&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang untuk mempercayai universalisme&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya untuk mempercayai anihilasionisme—kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab tentang kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya [''eis aiōnas aiōnōn''], dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, akan menolong jika kita menemukan bagian Alkitab yang menjelaskan bagaimana kebenaran-kebenaran Alkitab yang paling menyedihkan ini dapat berdiri bersama-sama kalimat-kalimat yang menyatakan penebusan Allah yang menyeluruh. Pertimbangkan satu contoh: Yesaya 66:22-24. Pertama, perhatikan bahwa Yesaya berkata (dalam ayat 22-23) bahwa harinya akan tiba ketika &amp;quot;seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah&amp;quot; Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan semacam ini membuat kita bingung tentang hukuman kekal atas sebagian manusia. Kalau &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan menyembah Tuhan, lalu siapa sisanya yang tidak menyembah Tuhan? Betapa kita harus berhati-hati di bagian-bagian seperti ini ketika kita membaca Alkitab! Kita harus bertanya: Apakah aku mengerti dengan jelas apa yang dimaksud Yesaya-dan Tuhan-dengan istilah &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot;? Sepertinya ini berarti seluruh manusia, tapi apakah benar demikian? Ayat berikutnya mengejutkan kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kita dibawa kembali dari ide kita yang salah tentang &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot; Kita kira itu berarti &amp;quot;seluruh manusia yang ada di alam semesta,&amp;quot; tetapi Tuhan berkata, Bukan, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan memandangi sebagian umat manusia yang ada dalam siksaan karena mereka &amp;quot;memberontak kepada-Ku.&amp;quot; Karena itu, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; tidak termasuk mereka yang yang dipandangi oleh &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebutkan ini sebagai contoh bagaimana Alkitab kadang-kadang berbicara tentang karya Allah dalam penebusan. Tuhan mengerjakan pekerjaan penebusan global&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—suatu karya universal—yang meliputi seluruh ras, bangsa, suku bangsa, bahasa, kelas, dan umur. Ketika Ia menyelesaikan karya keselamatan-Nya, semuanya akan lengkap. Akan ada umat manusia yang baru dengan Adam kedua sebagai kepalanya (1 Korintus 15:22, 45). Mereka yang &amp;quot;memberontak&amp;quot; kepada karya penebusan Kristus, akan berada di luar &amp;quot;seluruh&amp;quot; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena itulah Yesus merujuk beberapa kali ke Yesaya 66:24 ketika memperingatkan kita tentang neraka. Ia berkata bahwa mereka yang membuang firman-Nya dibuang ke neraka di mana &amp;quot;api tidak padam&amp;quot; dan dibuang ke dalam &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. (Markus 9:47,48)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:12; bdk. 22:13, 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun selain Yesus menggunakan istilah &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot; Inikah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cara Yesus mengatakan: Ketika pekerjaan penebusan-Ku telah selesai, dan dunia yang baru secara genap didirikan (bdk.&amp;amp;nbsp;''paliggenesia'''''', Matius 19:28), kepenuhan &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan ada di sana—segenap umat manusia yang baru dengan segala kelengkapannya yang mulia dalam Kristus—dan mereka yang telah menolak kerajaan akan berada &amp;quot;di luar&amp;quot;? Mereka tidak akan punya keberadaan dalam dunia yang baru. Keberadaan mereka dan tangisan mereka dan kertakan gigi mereka akan berada dalam dimensi realita yang lain. Karena itu, mereka tidak akan sedikit pun mengurangi arti kelengkapan dan keutuhan dan kepenuhan sorga dan bumi yang baru di mana segalanya merupakan terang dan damai sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya selesai membaca dan merenungkan hal-hal ini, saya berdoa, &amp;quot;O Tuhan, tolong aku untuk merasakan besarnya dosaku. Tolong aku untuk merasa tidak layak akan kasih karunia-Mu. Tolong aku untuk gentar akan kebenaran neraka. Tanggalkan dari padaku segala pemikiran yang sombong, segala kepandaian yang meninggikan diri sendiri, segala kerutinan yang sia-sia, yang semuanya demi menyenangkan manusia dari mimbar-Mu yang kudus. Bukalah mata dan hatiku untuk melihat dan merasakan keajaiban anugerah keselamatan, dan nilai yang tidak terhingga dari Kristus dan ketaatan-Nya yang dimotivasi kasih, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Terima kasih, Bapa. Terima kasih. Berapa pun harganya, buatlah aku sebagai alat keselamatan-Mu yang besar. Dalam nama Yesus. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdiri dekat&amp;amp;nbsp;jurang, aman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 14:53:23 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven &amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hell |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Kurniawana |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;quot;Seluruh Umat Manusia Akan Datang untuk Sujud Menyembah&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kecuali Mereka &amp;quot;Yang di Luar&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18 Oktober 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang untuk mempercayai universalisme--kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya untuk mempercayai anihilasionisme--kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab tentang kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya [''eis aiōnas aiōnōn''], dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, akan menolong jika kita menemukan bagian Alkitab yang menjelaskan bagaimana kebenaran-kebenaran Alkitab yang paling menyedihkan ini dapat berdiri bersama-sama kalimat-kalimat yang menyatakan penebusan Allah yang menyeluruh. Pertimbangkan satu contoh: Yesaya 66:22-24. Pertama, perhatikan bahwa Yesaya berkata (dalam ayat 22-23) bahwa harinya akan tiba ketika &amp;quot;seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah&amp;quot; Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan semacam ini membuat kita bingung tentang hukuman kekal atas sebagian manusia. Kalau &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan menyembah Tuhan, lalu siapa sisanya yang tidak menyembah Tuhan? Betapa kita harus berhati-hati di bagian-bagian seperti ini ketika kita membaca Alkitab! Kita harus bertanya: Apakah aku mengerti dengan jelas apa yang dimaksud Yesaya-dan Tuhan-dengan istilah &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot;? Sepertinya ini berarti seluruh manusia, tapi apakah benar demikian? Ayat berikutnya mengejutkan kita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepada-Ku. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera kita dibawa kembali dari ide kita yang salah tentang &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot; Kita kira itu berarti &amp;quot;seluruh manusia yang ada di alam semesta,&amp;quot; tetapi Tuhan berkata, Bukan, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; akan memandangi sebagian umat manusia yang ada dalam siksaan karena mereka &amp;quot;memberontak kepada-Ku.&amp;quot; Karena itu, &amp;quot;seluruh umat manusia&amp;quot; tidak termasuk mereka yang yang dipandangi oleh &amp;quot;seluruh umat manusia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebutkan ini sebagai contoh bagaimana Alkitab kadang-kadang berbicara tentang karya Allah dalam penebusan. Tuhan mengerjakan pekerjaan penebusan global--suatu karya universal--yang meliputi seluruh ras, bangsa, suku bangsa, bahasa, kelas, dan umur. Ketika Ia menyelesaikan karya keselamatan-Nya, semuanya akan lengkap. Akan ada umat manusia yang baru dengan Adam kedua sebagai kepalanya (1 Korintus 15:22, 45). Mereka yang &amp;quot;memberontak&amp;quot; kepada karya penebusan Kristus, akan berada di luar &amp;quot;seluruh&amp;quot; ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena itulah Yesus merujuk beberapa kali ke Yesaya 66:24 ketika memperingatkan kita tentang neraka. Ia berkata bahwa mereka yang membuang firman-Nya dibuang ke neraka di mana &amp;quot;api tidak padam&amp;quot; dan dibuang ke dalam &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. (Markus 9:47,48)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (Matius 8:12; bdk. 22:13, 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seorang pun selain Yesus menggunakan istilah &amp;quot;kegelapan yang paling gelap.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No one else but Jesus uses the term &amp;quot;outer darkness.&amp;quot; Is this Jesus’ way of saying: When my redeeming work is complete, and the new world is fully established (cf. ''paliggenesia'', Matthew 19:28), the fullness of &amp;quot;all flesh&amp;quot; will be there—the whole new humanity with all its glorious completeness in Christ—and those who have rejected the kingdom will be &amp;quot;outside&amp;quot;? They will have no existence inside the new world. Their existence and their weeping and their gnashing of teeth will be in another dimension of reality. Therefore, they will not in any way diminish the sense of completeness and wholeness and fullness of the new heavens and the new earth where all is light and joy peace.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I finished reading and pondering these things, I prayed, &amp;quot;O God, grant that I would feel the magnitude of my sin. Grant that I would feel unworthy of your grace. Grant that I would tremble at the truth of hell. Strip me of all cavalier thoughts, all self-exalting cleverness, all banal preoccupations, all bent toward amusing people from your sacred pulpit. Open my eyes and my heart to see and feel the wonder of saving grace, and the infinite preciousness of Christ and his love-driven obedience, even to death on the cross. Thank you, Father. Thank you. At any cost make me an instrument of your great salvation. In Jesus’ name. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Standing near the precipice, secure,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastor John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 02:39:44 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven &amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hell |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Kurniawana |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;quot;All Flesh Will Come and Worship&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Except Those &amp;quot;Outside&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18 Oktober 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang kepada universalisme-kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya kepada anihilasionisme-kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab kepada kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya [''eis aiōnas aiōnōn''], dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, akan menolong jika kita menemukan bagian Alkitab yang menjelaskan bagaimana kebenaran-kebenaran Alkitab yang paling menyedihkan ini dapat berdiri bersama-sama kalimat-kalimat yang menyatakan penebusan Allah yang menyeluruh. Pertimbangkan satu contoh: Yesaya 66:22-24. Pertama, perhatikan bahwa Yesaya berkata (dalam ayat 22-23) bahwa harinya akan tiba ketika &amp;quot;seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah&amp;quot; Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:For as the new heavens and the new earth that I make shall remain before me, says the Lord, so shall your offspring and your name remain. From new moon to new moon, and from Sabbath to Sabbath, all flesh shall come to worship before me, declares the Lord.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That’s the kind of statement that makes us puzzle about how everlasting punishment of some people fits in. If &amp;quot;all flesh&amp;quot; will worship the Lord, then who is left who does not worship the Lord? O how careful we must be at such points when we read the Bible! We must ask: Do I have a clear sense of what Isaiah meant—and God meant!—by the term &amp;quot;all flesh&amp;quot;? It sounds like all human life, but is it? The next verse (24) stuns us:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:And they shall go out and look on the dead bodies of the men who have rebelled against me. For their worm shall not die, their fire shall not be quenched, and they shall be an abhorrence to all flesh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Immediately we are brought back from our wrong ideas about &amp;quot;all flesh.&amp;quot; We thought it meant &amp;quot;all humans who exist in the universe,&amp;quot; but the Lord says, No, &amp;quot;all flesh&amp;quot; will look upon a part of the human race who are in torment because &amp;quot;they rebelled against me.&amp;quot; Therefore, &amp;quot;all flesh&amp;quot; does not include those on whom &amp;quot;all flesh&amp;quot; is looking.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I mention this as an example of how the Bible sometimes speaks about the work of God in redemption. God is doing a global work—indeed, a universal work—of redemption that extends to all races and all peoples and all tribes and all languages and all classes and all ages. When he has finished his saving work, there will be a completeness to it. It will be a new humanity with a second Adam as its head (1 Corinthians 15:22, 45). Those who &amp;quot;rebel&amp;quot; against Christ’s redeeming work, will be outside this &amp;quot;all.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhaps that is why Jesus alluded several times to Isaiah 66:24 when warning us about hell. He said that those who spurned his message were thrown into hell &amp;quot;where the fire is not quenched&amp;quot; and cast into &amp;quot;outer darkness.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:If your eye causes you to sin, tear it out. It is better for you to enter the kingdom of God with one eye than with two eyes to be thrown into hell, where their worm does not die and the fire is not quenched. (Mark 9:47)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:The sons of the kingdom will be thrown into the outer darkness. In that place there will be weeping and gnashing of teeth. (Matthew 8:12; cf. 22:13; 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No one else but Jesus uses the term &amp;quot;outer darkness.&amp;quot; Is this Jesus’ way of saying: When my redeeming work is complete, and the new world is fully established (cf. ''paliggenesia'', Matthew 19:28), the fullness of &amp;quot;all flesh&amp;quot; will be there—the whole new humanity with all its glorious completeness in Christ—and those who have rejected the kingdom will be &amp;quot;outside&amp;quot;? They will have no existence inside the new world. Their existence and their weeping and their gnashing of teeth will be in another dimension of reality. Therefore, they will not in any way diminish the sense of completeness and wholeness and fullness of the new heavens and the new earth where all is light and joy peace.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I finished reading and pondering these things, I prayed, &amp;quot;O God, grant that I would feel the magnitude of my sin. Grant that I would feel unworthy of your grace. Grant that I would tremble at the truth of hell. Strip me of all cavalier thoughts, all self-exalting cleverness, all banal preoccupations, all bent toward amusing people from your sacred pulpit. Open my eyes and my heart to see and feel the wonder of saving grace, and the infinite preciousness of Christ and his love-driven obedience, even to death on the cross. Thank you, Father. Thank you. At any cost make me an instrument of your great salvation. In Jesus’ name. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Standing near the precipice, secure,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastor John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 05:11:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
		<item>
			<title>All Flesh Will Come and Worship/id</title>
			<link>http://gospeltranslations.org/wiki/All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</link>
			<description>&lt;p&gt;Kurniawana: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;{{MasterHeader |author= John Piper |partnerurl= http://www.desiringgod.org |partner= Desiring God |date= 18 October 2006 |other= |categorytopic= Heaven &amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hell |mediatype= Article |lang= Bahasa Indonesia |editor= n/a |translator= Kurniawana |levels= 0 }}&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;quot;All Flesh Will Come and Worship&amp;quot; ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Except Those &amp;quot;Outside&amp;quot;''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Renungan dari Yesaya 66:22-24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh John Piper&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18 Oktober 2006&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita menemui bagian-bagian Alkitab yang menceritakan karya keselamatan Allah secara begitu menyeluruh sehingga kita bingung bagaimana itu selaras dengan realita hukuman kekal. Dengan kata lain, seolah-olah Tuhan menjanjikan penebusan penuh sehingga tidak ada lagi tempat bagi neraka. Bagian-bagian ini mendorong beberapa orang kepada universalisme-kepercayaan bahwa semua orang akan diselamatkan, entah pada saat kematian atau setelah sekian waktu di neraka. Bagian-bagian ini juga mendorong beberapa orang lainnya kepada anihilasionisme-kepercayaan bahwa tidak semua orang diselamatkan, tetapi tidak seorangpun ada di neraka pada akhirnya karena mereka dilenyapkan jika mereka memberontak terhadap Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah mencoba memberikan argumen-argumen Alkitabiah yang ekstensif terhadap kedua pandangan ini dalam Let the Nations Be Glad (Baker, 2003, hal. 111-154). Kesaksian Alkitab kepada kesengsaraan yang sadar dan kekal bagi mereka yang menekan kesaksian alam (Roma 1:18-20) maupun menolak Injil (2 Tesalonika 1:8-9) tidak dapat dipungkiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberikan kita salah satu dari kalimat-kalimat yang paling menentukan dalam Matius 25:46, &amp;quot;Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.&amp;quot; Dan Yohanes, rasul kasih, memberikan kita kalimat yang paling kuat mengenai kekekalan neraka dalam Wahyu 14:11, &amp;quot;Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jesus gives us one of the most decisive words in Matthew 25:46, &amp;quot;And these will go away into eternal punishment, but the righteous into eternal life.&amp;quot; And John, the apostle of love, gives us the strongest words for the eternality of hell in Revelation 14:11, &amp;quot;And the smoke of their torment goes up forever and ever [''eis aiōnas aiōnōn''], and they have no rest, day or night, these worshipers of the beast and its image, and whoever receives the mark of its name.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Therefore, it is helpful to find a passage of Scripture that clarifies for us how this saddest of biblical truths can stand alongside statements of God’s sweeping redemption. Consider one example: Isaiah 66:22-24. First, notice that Isaiah says (in verses 22-23) that the day is coming when &amp;quot;all flesh shall come to worship&amp;quot; God.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:For as the new heavens and the new earth that I make shall remain before me, says the Lord, so shall your offspring and your name remain. From new moon to new moon, and from Sabbath to Sabbath, all flesh shall come to worship before me, declares the Lord.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That’s the kind of statement that makes us puzzle about how everlasting punishment of some people fits in. If &amp;quot;all flesh&amp;quot; will worship the Lord, then who is left who does not worship the Lord? O how careful we must be at such points when we read the Bible! We must ask: Do I have a clear sense of what Isaiah meant—and God meant!—by the term &amp;quot;all flesh&amp;quot;? It sounds like all human life, but is it? The next verse (24) stuns us:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:And they shall go out and look on the dead bodies of the men who have rebelled against me. For their worm shall not die, their fire shall not be quenched, and they shall be an abhorrence to all flesh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Immediately we are brought back from our wrong ideas about &amp;quot;all flesh.&amp;quot; We thought it meant &amp;quot;all humans who exist in the universe,&amp;quot; but the Lord says, No, &amp;quot;all flesh&amp;quot; will look upon a part of the human race who are in torment because &amp;quot;they rebelled against me.&amp;quot; Therefore, &amp;quot;all flesh&amp;quot; does not include those on whom &amp;quot;all flesh&amp;quot; is looking.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I mention this as an example of how the Bible sometimes speaks about the work of God in redemption. God is doing a global work—indeed, a universal work—of redemption that extends to all races and all peoples and all tribes and all languages and all classes and all ages. When he has finished his saving work, there will be a completeness to it. It will be a new humanity with a second Adam as its head (1 Corinthians 15:22, 45). Those who &amp;quot;rebel&amp;quot; against Christ’s redeeming work, will be outside this &amp;quot;all.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhaps that is why Jesus alluded several times to Isaiah 66:24 when warning us about hell. He said that those who spurned his message were thrown into hell &amp;quot;where the fire is not quenched&amp;quot; and cast into &amp;quot;outer darkness.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:If your eye causes you to sin, tear it out. It is better for you to enter the kingdom of God with one eye than with two eyes to be thrown into hell, where their worm does not die and the fire is not quenched. (Mark 9:47)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:The sons of the kingdom will be thrown into the outer darkness. In that place there will be weeping and gnashing of teeth. (Matthew 8:12; cf. 22:13; 25:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No one else but Jesus uses the term &amp;quot;outer darkness.&amp;quot; Is this Jesus’ way of saying: When my redeeming work is complete, and the new world is fully established (cf. ''paliggenesia'', Matthew 19:28), the fullness of &amp;quot;all flesh&amp;quot; will be there—the whole new humanity with all its glorious completeness in Christ—and those who have rejected the kingdom will be &amp;quot;outside&amp;quot;? They will have no existence inside the new world. Their existence and their weeping and their gnashing of teeth will be in another dimension of reality. Therefore, they will not in any way diminish the sense of completeness and wholeness and fullness of the new heavens and the new earth where all is light and joy peace.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When I finished reading and pondering these things, I prayed, &amp;quot;O God, grant that I would feel the magnitude of my sin. Grant that I would feel unworthy of your grace. Grant that I would tremble at the truth of hell. Strip me of all cavalier thoughts, all self-exalting cleverness, all banal preoccupations, all bent toward amusing people from your sacred pulpit. Open my eyes and my heart to see and feel the wonder of saving grace, and the infinite preciousness of Christ and his love-driven obedience, even to death on the cross. Thank you, Father. Thank you. At any cost make me an instrument of your great salvation. In Jesus’ name. Amen.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Standing near the precipice, secure,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastor John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 04:42:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kurniawana</dc:creator>			<comments>http://gospeltranslations.org/wiki/Talk:All_Flesh_Will_Come_and_Worship/id</comments>		</item>
	</channel>
</rss>