<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
		<id>http://gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Himurachan&amp;title=Special%3AContributions%2FHimurachan</id>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://gospeltranslations.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Himurachan&amp;title=Special%3AContributions%2FHimurachan"/>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/Special:Contributions/Himurachan"/>
		<updated>2026-04-07T19:53:45Z</updated>
		<subtitle>From Gospel Translations</subtitle>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/Talking_to_People_Rather_than_About_Them/id</id>
		<title>Talking to People Rather than About Them/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/Talking_to_People_Rather_than_About_Them/id"/>
				<updated>2008-11-24T14:50:41Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Berbicara kepada Orang-Orang Daripada Bergosip Tentang Mereka}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Apa yang saya tinggalkan saat khotbah tanggal 6 Agustus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada khotbah pertama saya setelah pergi selama lima bulan, saya meninggalkan sesuatu. Hal itu ada dalam catatan saya, namun sepertinya tidak sesuai dengan topik utama khotbah saya. Jadi saya melewatkannya. Namum saya sungguh ingin mengatakannya. Jadi inilah dia.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda dapat mengingat-ingat dalam Lukas 18:9, Lukas memulai perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai sebagai berikut: &amp;quot;''Yesus juga mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain.''&amp;quot; Pada awalnya hal tersebut kelihatan remeh, tapi perhatikanlah bahwa Yesus mengatakan perumpamaan ini ''KEPADA'' beberapa orang yang menganggap dirinya benar. Ia tidak mengatakan perumpamaan ini ''TENTANG'' mereka. Yesus memandang orang Farisi dan mengatakan kepada mereka sebuah perumpamaan yang mengimplikasikan bahwa mereka menganggap diri sendiri benar. Ia tidak berbicara ''tentang'' mereka namun kepada mereka.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sepertinya remeh, hal ini mengandung pelajaran penting yang besar artinya bagi kepulihan gereja kita. Marilah kita melakukan hal ini. Marilah berhenti bergosip ''kepada yang lain'' tentang kesalahan orang. Marilah berbicara ''kepada mereka'' tentang kesalahan-kesalahan mereka. Betapa mudah - dan jauh lebih lezat buat lidah dari jiwa kita yang penuh dosa - untuk bergosip tentang orang-orang. Namun sangatlah sulit - dan bahkan terasa getir - untuk berbicara kepada mereka. Saat anda berbicara ''mengenai'' ''mereka'', mereka tidak dapat mengoreksi ucapan anda atau membalikkan percakapan dan menjadikan anda inti pembicaraan. Namun jika anda berbicara kepada mereka tentang suatu masalah, hal tersebut dapat menjadi sangat menyakitkan. Sehingga rasanya lebih aman untuk bergosip tentang orang-orang daripada berbicara kepada mereka.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Yesus tidak memanggil kita untuk membuat pilihan-pilihan yang aman. Ia memanggil kita untuk membuat pilihan-pilihan yang penuh kasih. Dalam jangka pendek, kasih seringkali lebih menyakitkan daripada menghindari konflik untuk melindungi diri sendiri. Namun dalam jangka panjang, hati nurani kita menyalahkan kita untuk mengambil jalan mudah ini dan kita hanya melakukan sedikit kebaikan untuk orang lain. Jadi dalam hal ini marilah menjadi seperti Yesus untuk tidak bergosip tentang orang-orang, namun berbicara kepada mereka, baik dalam kata-kata pemberi semangat, karena bukti-bukti anugerah yang kita lihat dalam hidup mereka, dan dengan kata-kata peringatan atau teguran atau koreksi atau bahkan dampratan. Paulus mendorong kita untuk menggunakan kata-kata dengan jangkauan lengkap untuk maksud dengan jangkauan yang lengkap pula: &amp;quot;Tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang&amp;quot; (1 Tesalonika 5:14). &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak bermaksud anda tidak dapat mengkritik Presiden Bush tanpa meneleponnya terlebih dahulu. Dan saya tidak bermaksud anda tidak dapat mendiskusikan khotbah saya, baik secara negatif maupun positif, tanpa menghubungi saya terlebih dulu. Orang terkenal menempatkan diri mereka pada posisi terbuka dan memahami bahwa setiap orang akan mempunyai pendapat tentang apa yang mereka katakan. Hal itu tidak apa-apa. Maksud saya adalah jika anda mengenal seorang saudara laki-laki atau perempuan berada dalam cengkeraman sikap atau tingkah laku yang penuh dosa, keluarkan balok dari mata anda, pergi kepada mereka dan cobalah untuk membantu mereka dengan nasihat rendah hati yang berdasar pada injil.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ceritakan pada mereka suatu perumpamaan. Itulah yang dilakukan Yesus dalam Lukas 18:9-14. Dan itulah yang dilakukan Natan bagi Daud, setelah dosanya dengan Batsyeba dan terhadap Uria (2 Samuel 12:1-14). Namun anda tidak harus menjadi begitu kreatif. Peduli terhadap orang yang anda hadapi lebih penting daripada sekedar kreatifitas.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerinduan saya bagi gereja kita adalah agar kita terbebas dari gosip. Marilah berterus terang dan jujur dan berani dan rendah diri. Yesus begitu blak-blakan pada saat-saat tertentu. Kasih kadang kala seperti itu. Ia dapat dengan mudah dituduh tidak berperasaan atau tidak mengasihi. Namun kita tahu Ia adalah orang yang paling penuh kasih yang pernah hidup. Jadi marilah kita mengikutinya dalam hal ini. Ia mati untuk kita sehingga semua balok dan selumbar di mata kita dapat diampuni. Hal tersebut haruslah memberikan kepada kita keberanian dan kepedulian terhadap sesama. Khususnya saat kita menyadari bahwa kesalahan saudara kita laki-laki dan perempuan juga telah diampuni oleh Yesus.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh suatu patokan mengagumkan yang kita miliki dalam membina hubungan. Suatu komunitas orang-orang yang pemaaf, benar, penuh roh kudus yang senang untuk bertumbuh dalam anugerah. Terima kasih telah dengan penuh kasih percaya dan mengikuti Yesus dengan cara saling berbicara satu terhadap yang lain daripada saling menggosipkan satu sama lain. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senang telah kembali,&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Power_of_Example/id</id>
		<title>The Power of Example/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Power_of_Example/id"/>
				<updated>2008-11-10T11:34:03Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kuasa Teladan}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Teladan bukan hanya hal yang penting dalam hidup - tetapi satu-satunya hal yang penting.&amp;quot; Melalui pernyataan itu, penginjil pengobatan terkenal dan pengarang, Albert Schweitzer, mengemukakan dengan jelas betapa penting dan kuatnya suatu teladan. Berapa banyak dari kita yang sedang membaca artikel ini, telah terpengaruh oleh hidup berhikmah dari beberapa orang pendeta, penatua atau orang kristen lain yang kita jumpai dalam hidup kita. Jika saya menyebutkan &amp;quot;seorang pendeta yang setia dan jujur,&amp;quot; gambaran siapa yang muncul dalam pikiran anda? Jika saya menyebutkan &amp;quot;seorang kristen yang setia dan jujur,&amp;quot; siapa yang anda pikirkan? &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan Scweitzer tersebut adalah suatu pernyataan yang berlebihan, tentunya. Banyak hal lain yang terlibat dalam hidup berhikmah, namun semua itu dipadukan dalam teladan yang diberikan seseorang.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nasihat&amp;quot; dan &amp;quot;pembentukan&amp;quot; kedengarannya seperti konsep yang baru, tapi tidak. Kelihatannya dari cara Allah menciptakan kita, hal ini telah ada dalam pikiranNya. Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambarNya. Kita haruslah mengikuti teladanNya, dan meniru tingkah lakuNya. Pada inkarnasi Kristus, Allah hadir sebagai manusia sedemikian rupa sehingga kita dapat mengerti dan berhubungan denganNya, dan, sebagaimana yang dikatakan Petrus, &amp;quot;meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya,&amp;quot; (I Petrus 2:21).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita juga harus turut mengambil bagian dalam pelayanan untuk memberikan dan mengikuti teladan. Allah telah menciptakan manusia untuk dilahirkan dan tumbuh dewasa dengan didampingi oleh manusia lainnya dalam keluarga. Kita tidak ada dengan sendirinya, juga tidak langsung muncul sebagai orang dewasa. Allah telah menyediakan orang tua terkasih untuk menjadi bagian dalam pertumbuhan manusia.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga merupakan cara Allah untuk dikenal dalam dunia yang telah hancur ini. Dalam kitab Perjanjian Lama Allah memanggil langsung Abraham dan keturunannya untuk menjadi orang yang kudus, istimewa, dan berbeda dalam dunia. Mereka harus menjadi istimewa sehingga dunia mempunyai gambaran akan masyarakat yang mencerminkan karakter yang mewujudkan kepentingan dan nilai-nilai Allah. Pada waktu Allah menyuruh umatnya dalam kitab Imamat 19 agar mereka &amp;quot;Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus,&amp;quot; Ia tidak berbicara hanya kepada satu orang, kepada Musa atau Abraham atau Harun atau Joshua saja. Ia memang berbicara kepada mereka, namun dapat kita lihat dalam Imamat 19:1 Allah secara khusus memerintahkan Musa untuk menyampaikan hal ini kepada seluruh umat Israel. Hukum Taurat yang kemudian diberikanNya kepada mereka banyak berkaitan dengan hubungan, keadilan, dan interaksi sosial. Ia menunjukkan bahwa sebagaimana mereka peduli terhadap sesama - terhadap yang kehilangan dan yang berkekurangan, terhadap orang asing dan orang muda - mereka pun akan menunjukkan karakter dari Pencipta mereka yang adil dan penuh belas kasih.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kegagalan Israel dalam bentuk pelayanan ini bagi yang lain merupakan salah satu tuntutan utama Allah terhadap bangsa ini dalam kitab Perjanjian Lama. Maka dalam Yehezkiel 5, peranan Israel menjadi salah satu contoh buruk bagi bangsa-bangsa lain. Allah berfirman kepada Israel, &amp;quot;Inilah Yerusalem! Ditengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka....Aku akan membuat engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan diantara bangsa-bangsa yang di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. Engkau akan menjadi buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan kengerian bagi bangsa-bangsa yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan hukuman kepadamu di dalam kemurkaan dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran kemarahan - Aku, Tuhan, yang mengatakannya -&amp;quot; (5:5, 14-15). Berulangkali dalam Yehezkiel, Allah berfirman bahwa Ia melakukan apa yang dilakukanNya kepada bangsa Israel demi namaNya, yaitu, bagi kebenaran akan Ia untuk diketahui setiap orang di dunia.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian terpadu terhadap diriNya adalah juga apa yang diinginkan Allah melalui gereja dalam kitab Perjanjian Baru. Dalam Yohanes 13, Yesus mengatakan bahwa dunia akan mengetahui bahwa kita adalah murid-muridNya melalui kasih kristus yang kita miliki terhadap satu sama lain. Paulus menulis kepada gereja di Efesus, &amp;quot;Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,&amp;quot; (Efesus 5:8).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hidup kita sebagai orang Kristen, secara individu, dan dalam skala yang lebih besar dalam hidup kita sebagai gereja, kita membawa cahaya pengharapan Allah dalam dunia yang kelam dan putus harapan ini. Melalui hidup kita sebagai orang Kristen kita saling mengajarkan satu sama lain, dan sekeliling kita tentang Allah. Jika kita saling mengasihi, kita menunjukkan bagaimana rasanya mengasihi Allah. Dan, selain itu &amp;quot;barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya,&amp;quot; (I Yohanes 4:20). Dalam kekudusan kita, kita menunjukkan kekudusan Allah. Kita dipanggil untuk memberikan harapan kepada orang-orang bahwa ada cara hidup lain, selain kehidupan penuh kekecewaan dan pementingan diri sendiri dimana sifat-sifat buruk dan dunia sekeliling kita bersekongkol mendorong kita untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rekan-rekan pendeta dan penatua, apa yang diajarkan gereja kita kepada dunia tentang Allah? Apakah kita mengajarkan mereka bahwa Allah hanya diperuntukkan bagi kaum kita? Apakah kita mengajarkan mereka bahwa Ia menolerir dosa dan ketidaktaatan, kehidupan mementingkan diri sendiri yang picik dan penuh pertengkaran? Seberapa serius kita memimpin jemaat kita untuk memikul tugas besar dan hak istimewa yang kita miliki sebagai pameran publik, jendela toko, iklan, halaman web dari karakter Allah bagi ciptaanNya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa hak yang sangat istimewa yang Ia berikan kepada kita, dan betapa sedikitnya penghargaan kita. Kita pikir jika kita dapat mengajak lebih banyak orang ke gereja, maka entah bagaimana menghilangkan tanggung jawab kita terhadap mereka yang telah menjadi anggota gereja. Namun kesaksian apa yang diberikan oleh masing-masing mereka sekarang? Berapa banyak dari kesaksian-kesaksian buruk mereka yang dengan susah payah harus engkau atasi agar orang-orang dapat melihat kesaksian-kesaksian indah yang disediakan Allah melalui mereka yang sungguh-sungguh bertobat, dan hidup di jalan Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhan praktek dari pendisiplinan gereja pada akhirnya bukanlah tentang usaha mempertahankan atau balas dendam. Itu adalah hal-hal bagi Allah, bukan orang-orang berdosa yang diampuni seperti kita (Ulangan 32:35, Roma 12:19)! Tetapi kita pun memiliki kepedulian untuk menyajikan kesaksian yang baik bagi yang lain tentang bagaimana Allah itu. Kita patutlah menjadi teladan dalam hidup dan perbuatan kita. Apakah anda menyadari bahwa dalam surat-suratnya, Paulus sepertinya secara khusus menaruh perhatian pada reputasi yang dimiliki seorang penatua diluar lingkungan gereja? Walau banyak kemungkinan yang menyebabkan hal ini, salah satu penyebabnya pastilah peran gereja yang diwakili oleh penatua kepada dunia. Inilah, kemudian, juga yang menggambarkan gereja sebagai suatu kesatuan. Itulah sebabnya mengapa Paulus sangat marah dalam I Korintus 5. Dan apakah anda memperhatikan kepada siapa Paulus berteriak? Ia tidak menghardik orang yang cabul; namun Ia dengan tajam mengkritik gereja yang menolerir dosa seperti itu dalam jemaatnya! Kita menyadari kenyataan pahit bahwa beberapa dari kita terlibat dalam dosa, meskipun awalnya mereka mempunyai profesi yang baik. Kita percaya bahwa setidaknya beberapa dari mereka akan bertobat dan kembali ke jalan Allah. Namun kita tidak pernah mengharapkan gereja secara terpadu kembali pada tanggung jawabnya untuk mewakili Allah dengan baik dengan mengusung kekudusan dan menentang dosa. Isu inilah - sebagaimana dosa penyembahan berhala Israel dalam kitab Perjanjian Lama - yang menjadi inti kritikan tajam Paulus terhadap gereja di Korintus. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat, apa yang akan dikatakan rasul Paulus mengenai gerejaku dan gereja anda? Berapa banyak kealpaan yang kita tolerir atas nama kasih? Berapa banyak hubungan perselingkuhan atau perceraian yang tidak sesuai ajaran alkitab yang akan kita biarkan begitu saja dalam gereja kita, kendati hal tersebut seakan-akan berseru ke dunia, mengatakan &amp;quot;kita tidaklah berbeda dengan dunia&amp;quot;? Berapa orang pemecah belah yang akan kita biarkan memecah belah gereja dengan isu-isu remeh, atau berapa banyak injil palsu yang kita biarkan diajarkan? &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara-saudara terkasih, jika anda membaca artikel ini sebagai seorang pendeta, penatua, pemimpin, guru atau jemaat gereja, pikirkanlah tanggung jawab besar yang kita pikul. Pertimbangkan bagaimana kita dapat bersaksi bagi kebaikan Allah - apakah dengan mengabaikan dosa yang ada disekeliling kita, atau dengan berusaha secara lembut menyadarkan mereka yang terperangkap dalam dosa, sebagaimana yang diajarkan Paulus dalam Galatia 6:1? Manakah yang lebih baik mencerminkan Allah yang kita sembah? Apakah belas kasih Allah pernah menngurangi kekudusanNya dalam duniaNya? Bagaimana halnya dalam gerejaNya? Apakah peran kita dalam hal ini?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beri perhatian pada teladan apa yang kau berikan bagi dunia disekitarmu. Allah mempunyai rencana besar bagi umatNya dan bagi duniaNya; Ia memanggil kita untuk menunjukkan hal itu lewat perkataan dan hidup kita. Apakah anda melakukannya? Semoga Allah menolong kita semua untuk tetap setia dan jujur menjawab panggilanNya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/Ecclesiastes/id</id>
		<title>Ecclesiastes/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/Ecclesiastes/id"/>
				<updated>2008-11-05T22:09:03Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Pengkhotbah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pengkhotbah? Huh - betapa naas dan suram! Lebih baik mempelajari kitab Injil yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tunggu dulu. Tentu saja tidak etis memulai ini dengan mengatakan pada pembaca bahwa mereka telah melakukan kesalahan - tapi dalam hal ini, anda memang telah melakukan kesalahan! Penulis dari kitab Pengkhotbah bukanlah orang tua yang sinis dan tengik yang mengalami kemunduran dalam hidupnya seperti yang diduga oleh beberapa orang. Ia bukanlah seorang pesimis terbebal di dunia. Tentu saja, sebagian (mungkin malah sebagian besar) dari ayat-ayat yang ditulisnya bernada tidak berpengharapan, namun Qoheleth (Salomo yang menjadi pengkhotbah) mempunyai maksud yang pada dasarnya positif. Sifat pesimistisnya berpusat pada &amp;quot;kehidupan di bawah matahari.&amp;quot; Sesungguhnya, saat anda membaca kitab ini dengan fokus terhadap apa maksud yang sebenarnya, anda akan mendapatkan pengkhotbah sebagai seorang yang tenang, bahkan ramah. Ia telah melalui segala hal - hal buruk maupun hal baik - dan, dalam pertobatannya, telah berdamai dengan kehidupan. Damai Allah, tentunya. Sebenarnya, banyak hal yang jika diinterpretasikan dengan tepat, akan memberi orang percaya keyakinan dan sukacita dalam menghadapi kesulitan. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Butuh penjelasan yang lebih untuk meyakinkanku akan hal itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah. Marilah kita cermati kitab ini. Pertama-tama, perhatikan bahwa judul kitab, &amp;quot;Pengkhotbah&amp;quot; (&amp;quot;pendeta&amp;quot;), diberikan oleh penerjemah dari Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, bahasa Ibrani aslinya, ''Qoheleth'', berarti &amp;quot;seseorang yang menghimpun orang-orang.&amp;quot; Salomo menghimpun umatnya (dan kemungkinan juga yang lain) untuk berkhotbah kepada mereka: &amp;quot;berhikmat, Qoheleth mengajarkan kepada mereka pengetahuan... Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur&amp;quot; (12:9-10; Saya menggunakan terjemahan sendiri dalam artikel ini). Ia menginginkan kata-katanya, saat diterbitkan, menjadi &amp;quot;kusa dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap&amp;quot; (12:11). Dialek dalam Pengkhotbah mengindikasikan bahwa ia tidak hanya menulis untuk Israel, tetapi juga bagi bangsa Fenesia. Kitab ini, lebih dari yang lainnya, menginjili, disusun bagi setiap orang yang belum percaya baik di rumah maupun dimana saja. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, perhatikan kata-kata &amp;quot;di bawah matahari.&amp;quot; Frase yang sering muncul ini menggambarkan kehidupan tidaklah lebih dari tujuan-tujuan duniawi. Hal ini menggambarkan seseorang terburu-buru melelahkan dirinya untuk mengejar kegiatan yang sia-sia, karena hanya itulah alasan hidupnya. Sebaliknya, kehidupan Kristen adalah hidup yang teratur, &amp;quot;di bawah sang Anak,&amp;quot; yang diwujudkan lebih dulu oleh Salomo dalam berbagai bentuk dan perayaan. Salomo berkeinginan untuk mengubah orang dari cara hidup sebelumnya: &amp;quot;Sekarang dengarkanlah kesimpulan dari semuanya: takutlah akan Allah dan berpeganglah kepada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban bagi setiap orang&amp;quot; (12:13). Jadi, ia menyimpulkan dengan peringatan yang keras: &amp;quot;Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan, termasuk segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat&amp;quot; (12:14). Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang dibenarkan oleh perbuatannya tetapi bahwa dalam pengadilan perbuatannya akan menjadi bukti dari apakah ia diselamatkan atau tidak. Ajaran Perjanjian Baru membenarkan hal ini (lihat Matius 25:31-46; Wahyu 20:12-15).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apakah Salomo ''benar-benar'' ramah dan berdamai dengan kehidupan? Dan apa yang ia tawarkan kepada orang Kristen?&amp;quot;&amp;lt;br&amp;gt;Dalam kitab yang luar biasa ini, Salomo mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting - yang jika anda mengambil waktu untuk merenungkannya dengan serius, akan anda pertanyakan pula saat ini. Ia menanyakan, &amp;quot;Mengapa bersusah payah untuk melakukan suatu pekerjaan, padahal hasilnya hanya bersifat sementara dan, karena itu, sia-sia? Mengapa mencari uang, ketenaran, kekuasaan dan harta yang tidak dapat memuaskan? Mengapa menyusahkan diri tentang sesuatu saat orang yang bebal dan orang yang berhikmat pada akhirnya sama-sama akan mati?&amp;quot; Jawabannya? Allah dengan cermat menganugerahi setiap orang menurut kehendak-Nya. Salomo ingin anda untuk tenang di dalam iman akan kehendak Allah yang berdaulat!&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yang sering digunakannya, &amp;quot;kesia-siaan,&amp;quot; berarti bahwa kehidupan di bawah matahari adalah &amp;quot;hampa,&amp;quot; karena kehidupan itu ''tidak kekal''. Tema tersebut meresapi isi kitab ini. Ia mengatakan, &amp;quot;Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang&amp;quot; (1:4), bahwa &amp;quot;tidak ada kenang-kenangan dari masa lampau&amp;quot; (1:11), dan bahwa sebagaimana seorang &amp;quot;datang&amp;quot; ke dalam dunia melalui kelahiran, &amp;quot;demikianpun ia akan pergi&amp;quot; meninggalkan dunia tanpa membawa apa-apa (5:15). Pada Pasal 3, Ayat 1-15, Salomo membuat daftar beberapa hal yang terus menerus berubah. Orang-orang dilahirkan, kemudian meninggal, tumbuhan ditanam, kemudian dicabut, ada yang dirombak, ada yang dibangun. Ada yang dijahit, ada yang dirobek; ada yang disimpan, ada yang dibuang; ada waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari - dan seterusnya. Hidup terus berputar. Tidak ada hal yang tetap. Karena itulah, kita seharusnya mengendurkan pegangan. Usaha untuk menjadikan segala sesuatu kekal sangatlah memusingkan dan sungguh tidak berguna. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo mengatakan bahwa kekayaan dan harta yang banyak adalah bodoh karena anda tidak dapat terus membawanya. Daripada menaruh pengharapan kepada sesuatu di bawah matahari, ia mendesak anda untuk percaya kepada Penciptanya. Bagaimana hal ini dapat meningkatkan hidup? Tidak saja hal ini bermanfaat dalam pengadilan, namun menyediakan juga suatu filosofi kehidupan yang membebaskan anda dari kecemasan dan kekecewaan. Karena Allah telah menetapkan &amp;quot;kekekalan dalam hati setiap orang&amp;quot; (3:11), engkau dapat melihat ke suatu masa saat hal-hal yang sifatnya sementara akan terlupakan. Dan suatu hari, maksud Allah - yang sekarang kelihatannya tidak masuk akal - akan dimengerti: &amp;quot;Ia telah memberikan kekekalan dalam hati setiap orang yang tanpanya mereka tidak dapat memahami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir&amp;quot; (3:11). Engkau dapat menenangkan pikiranmu - segala sesuatu akan menjadi jelas pada waktuNya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena apa yang engkau lakukan di dunia ada konsekuensinya, haruslah engkau berhati-hati dan lebih rajin dalam usaha-usahamu. Tetapi janganlah engkau mengharapkan hadiah dari hasil usahamu sebelum waktunya. Jangan pula engkau dengan bodoh berupaya mencari kepuasan abadi dari segala sesuatu dalam dunia yang tidak kekal ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena, sebagaimana yang diperjelas oleh Salomo, berusaha mencoba sesuatu yang mustahil adalah kesia-siaan, ia menganjurkan kehidupan yang tenang, bertanggung jawab, pekerjaan yang sewajarnya untuk mencapai hal yang patut dicapai, dan kenikmatan akan berkat-berkat Allah. Ia menginginkan engkau untuk tidak khawatir tentang hari esok juga tidak bekerja terlalu berlebihan! Simaklah ayat yang mencerahkan ini:&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;quot;Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah&amp;quot; (2:24; lihat juga 3:12-13; 5:18; 8:15; dan 9:7-8).&lt;br /&gt;
 &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Pada ayat-ayat ini tema yang kerap muncul: menikmati makan dan minum dan hal-hal sederhana yang menyenangkan dalam hidup. Tetapi ingatlah, bahkan hal-hal ini tidaklah kekal: engkau makan dan dikenyangkan, hanya untuk lapar lagi (seringnya ia menyebutkan makan dan minum menjelaskan contoh sifat sementara dari segala sesuatu). Berhentilah kecewa terhadap apa yang tak dapat diubah. Nikmatilah makanan yang enak dan saat yang menyenangkan (ingatlah bahwa apapun yang engkau lakukan akan dibawa ke pengadilan nantinya; baca 12:14).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apa maksud dari kitab Pengkhotbah? Setelah hidup secara berlebihan, setelah bekerja terlalu keras untuk mencapai ketenaran dan kekayaan, setelah memanjakan diri dalam dosa, Salomo hanya bisa berkata, &amp;quot;Aku membenci hidup ... Aku membenci semua usaha yang kulakukan dengan jerih payah.&amp;quot; Mengapa? Karena ia menyadari bahwa, pada akhirnya, segala sesuatu yang dilakukannya tidak lebih dari &amp;quot;kesia-siaan dan usaha menjaring angin&amp;quot; (2:17-18).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo menulis untuk membantumu melihat hal ini. Apakah Pengkhotbah mengarahkanmu untuk merenungkan hidup sebagaimana laiknya orang percaya? Jika tidak, bacalah lagi - dan lagi, dan lagi. Waktumu tidak akan terbuang sia-sia melakukannya!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/Ecclesiastes/id</id>
		<title>Ecclesiastes/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/Ecclesiastes/id"/>
				<updated>2008-11-02T12:45:22Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;= Pengkhotbah  =&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pengkhotbah? Huh - betapa naas dan suram! Lebih baik mempelajari kitab Injil yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tunggu dulu. Tentu saja tidak etis memulai ini dengan mengatakan pada pembaca bahwa mereka telah melakukan kesalahan - tapi dalam hal ini, anda memang telah melakukan kesalahan! Penulis dari kitab Pengkhotbah bukanlah orang tua yang sinis dan tengik yang mengalami kemunduran dalam hidupnya seperti yang diduga oleh beberapa orang. Ia bukanlah seorang pesimis terbebal di dunia. Tentu saja, sebagian (mungkin malah sebagian besar) dari ayat-ayat yang ditulisnya bernada tidak berpengharapan, namun Qoheleth (Salomo yang menjadi pengkhotbah) mempunyai maksud yang pada dasarnya positif. Sifat pesimistisnya berpusat pada &amp;quot;kehidupan di bawah matahari.&amp;quot; Sesungguhnya, saat anda membaca kitab ini dengan fokus terhadap apa maksud yang sebenarnya, anda akan mendapatkan pengkhotbah sebagai seorang yang tenang, bahkan ramah. Ia telah melalui segala hal - hal buruk maupun hal baik - dan, dalam pertobatannya, telah berdamai dengan kehidupan. Damai Allah, tentunya. Sebenarnya, banyak hal yang jika diinterpretasikan dengan tepat, akan memberi orang percaya keyakinan dan sukacita dalam menghadapi kesulitan. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Butuh penjelasan yang lebih untuk meyakinkanku akan hal itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah. Marilah kita cermati kitab ini. Pertama-tama, perhatikan bahwa judul kitab, &amp;quot;Pengkhotbah&amp;quot; (&amp;quot;pendeta&amp;quot;), diberikan oleh penerjemah dari Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, bahasa Ibrani aslinya, ''Qoheleth'', berarti &amp;quot;seseorang yang menghimpun orang-orang.&amp;quot; Salomo menghimpun umatnya (dan kemungkinan juga yang lain) untuk berkhotbah kepada mereka: &amp;quot;berhikmat, Qoheleth mengajarkan kepada mereka pengetahuan... Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur&amp;quot; (12:9-10; Saya menggunakan terjemahan sendiri dalam artikel ini). Ia menginginkan kata-katanya, saat diterbitkan, menjadi &amp;quot;kusa dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap&amp;quot; (12:11). Dialek dalam Pengkhotbah mengindikasikan bahwa ia tidak hanya menulis untuk Israel, tetapi juga bagi bangsa Fenesia. Kitab ini, lebih dari yang lainnya, menginjili, disusun bagi setiap orang yang belum percaya baik di rumah maupun dimana saja. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, perhatikan kata-kata &amp;quot;di bawah matahari.&amp;quot; Frase yang sering muncul ini menggambarkan kehidupan tidaklah lebih dari tujuan-tujuan duniawi. Hal ini menggambarkan seseorang terburu-buru melelahkan dirinya untuk mengejar kegiatan yang sia-sia, karena hanya itulah alasan hidupnya. Sebaliknya, kehidupan Kristen adalah hidup yang teratur, &amp;quot;di bawah sang Anak,&amp;quot; yang diwujudkan lebih dulu oleh Salomo dalam berbagai bentuk dan perayaan. Salomo berkeinginan untuk mengubah orang dari cara hidup sebelumnya: &amp;quot;Sekarang dengarkanlah kesimpulan dari semuanya: takutlah akan Allah dan berpeganglah kepada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban bagi setiap orang&amp;quot; (12:13). Jadi, ia menyimpulkan dengan peringatan yang keras: &amp;quot;Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan, termasuk segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat&amp;quot; (12:14). Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang dibenarkan oleh perbuatannya tetapi bahwa dalam pengadilan perbuatannya akan menjadi bukti dari apakah ia diselamatkan atau tidak. Ajaran Perjanjian Baru membenarkan hal ini (lihat Matius 25:31-46; Wahyu 20:12-15).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apakah Salomo ''benar-benar'' ramah dan berdamai dengan kehidupan? Dan apa yang ia tawarkan kepada orang Kristen?&amp;quot;&amp;lt;br&amp;gt;Dalam kitab yang luar biasa ini, Salomo mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting - yang jika anda mengambil waktu untuk merenungkannya dengan serius, akan anda pertanyakan pula saat ini. Ia menanyakan, &amp;quot;Mengapa bersusah payah untuk melakukan suatu pekerjaan, padahal hasilnya hanya bersifat sementara dan, karena itu, sia-sia? Mengapa mencari uang, ketenaran, kekuasaan dan harta yang tidak dapat memuaskan? Mengapa menyusahkan diri tentang sesuatu saat orang yang bebal dan orang yang berhikmat pada akhirnya sama-sama akan mati?&amp;quot; Jawabannya? Allah dengan cermat menganugerahi setiap orang menurut kehendak-Nya. Salomo ingin anda untuk tenang di dalam iman akan kehendak Allah yang berdaulat!&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yang sering digunakannya, &amp;quot;kesia-siaan,&amp;quot; berarti bahwa kehidupan di bawah matahari adalah &amp;quot;hampa,&amp;quot; karena kehidupan itu ''tidak kekal''. Tema tersebut meresapi isi kitab ini. Ia mengatakan, &amp;quot;Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang&amp;quot; (1:4), bahwa &amp;quot;tidak ada kenang-kenangan dari masa lampau&amp;quot; (1:11), dan bahwa sebagaimana seorang &amp;quot;datang&amp;quot; ke dalam dunia melalui kelahiran, &amp;quot;demikianpun ia akan pergi&amp;quot; meninggalkan dunia tanpa membawa apa-apa (5:15). Pada Pasal 3, Ayat 1-15, Salomo membuat daftar beberapa hal yang terus menerus berubah. Orang-orang dilahirkan, kemudian meninggal, tumbuhan ditanam, kemudian dicabut, ada yang dirombak, ada yang dibangun. Ada yang dijahit, ada yang dirobek; ada yang disimpan, ada yang dibuang; ada waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari - dan seterusnya. Hidup terus berputar. Tidak ada hal yang tetap. Karena itulah, kita seharusnya mengendurkan pegangan. Usaha untuk menjadikan segala sesuatu kekal sangatlah memusingkan dan sungguh tidak berguna. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo mengatakan bahwa kekayaan dan harta yang banyak adalah bodoh karena anda tidak dapat terus membawanya. Daripada menaruh pengharapan kepada sesuatu di bawah matahari, ia mendesak anda untuk percaya kepada Penciptanya. Bagaimana hal ini dapat meningkatkan hidup? Tidak saja hal ini bermanfaat dalam pengadilan, namun menyediakan juga suatu filosofi kehidupan yang membebaskan anda dari kecemasan dan kekecewaan. Karena Allah telah menetapkan &amp;quot;kekekalan dalam hati setiap orang&amp;quot; (3:11), engkau dapat melihat ke suatu masa saat hal-hal yang sifatnya sementara akan terlupakan. Dan suatu hari, maksud Allah - yang sekarang kelihatannya tidak masuk akal - akan dimengerti: &amp;quot;Ia telah memberikan kekekalan dalam hati setiap orang yang tanpanya mereka tidak dapat memahami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir&amp;quot; (3:11). Engkau dapat menenangkan pikiranmu - segala sesuatu akan menjadi jelas pada waktuNya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena apa yang engkau lakukan di dunia ada konsekuensinya, haruslah engkau berhati-hati dan lebih rajin dalam usaha-usahamu. Tetapi janganlah engkau mengharapkan hadiah dari hasil usahamu sebelum waktunya. Jangan pula engkau dengan bodoh berupaya mencari kepuasan abadi dari segala sesuatu dalam dunia yang tidak kekal ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena, sebagaimana yang diperjelas oleh Salomo, berusaha mencoba sesuatu yang mustahil adalah kesia-siaan, ia menganjurkan kehidupan yang tenang, bertanggung jawab, pekerjaan yang sewajarnya untuk mencapai hal yang patut dicapai, dan kenikmatan akan berkat-berkat Allah. Ia menginginkan engkau untuk tidak khawatir tentang hari esok juga tidak bekerja terlalu berlebihan! Simaklah ayat yang mencerahkan ini:&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;quot;Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah&amp;quot; (2:24; lihat juga 3:12-13; 5:18; 8:15; dan 9:7-8).&lt;br /&gt;
 &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Pada ayat-ayat ini tema yang kerap muncul: menikmati makan dan minum dan hal-hal sederhana yang menyenangkan dalam hidup. Tetapi ingatlah, bahkan hal-hal ini tidaklah kekal: engkau makan dan dikenyangkan, hanya untuk lapar lagi (seringnya ia menyebutkan makan dan minum menjelaskan contoh sifat sementara dari segala sesuatu). Berhentilah kecewa terhadap apa yang tak dapat diubah. Nikmatilah makanan yang enak dan saat yang menyenangkan (ingatlah bahwa apapun yang engkau lakukan akan dibawa ke pengadilan nantinya; baca 12:14).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apa maksud dari kitab Pengkhotbah? Setelah hidup secara berlebihan, setelah bekerja terlalu keras untuk mencapai ketenaran dan kekayaan, setelah memanjakan diri dalam dosa, Salomo hanya bisa berkata, &amp;quot;Aku membenci hidup ... Aku membenci semua usaha yang kulakukan dengan jerih payah.&amp;quot; Mengapa? Karena ia menyadari bahwa, pada akhirnya, segala sesuatu yang dilakukannya tidak lebih dari &amp;quot;kesia-siaan dan usaha menjaring angin&amp;quot; (2:17-18).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo menulis untuk membantumu melihat hal ini. Apakah Pengkhotbah mengarahkanmu untuk merenungkan hidup sebagaimana laiknya orang percaya? Jika tidak, bacalah lagi - dan lagi, dan lagi. Waktumu tidak akan terbuang sia-sia melakukannya!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T13:00:08Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T12:46:09Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T12:40:24Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T12:35:04Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T12:26:35Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-25T12:22:15Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id</id>
		<title>The Greatest Event in History/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://gospeltranslations.org/wiki/The_Greatest_Event_in_History/id"/>
				<updated>2008-10-24T09:38:37Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Himurachan: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Kejadian Terbesar dalam Sejarah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Himurachan</name></author>	</entry>

	</feed>